Bisnis / Ekopol
Senin, 27 April 2026 | 13:58 WIB
Donald Trump [The White House]
Baca 10 detik
  • Konflik perang antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu setelah upaya perundingan damai mengalami kegagalan total.
  • Presiden Trump menuntut penghentian ambisi nuklir Iran, sementara Teheran mencari dukungan diplomatik ke Rusia pada Senin (27/4/2026).
  • Blokade jalur pelayaran di Teluk menyebabkan kenaikan harga minyak dunia serta memicu pelemahan pada bursa saham Amerika Serikat.

Meski secara militer melemah, Iran memiliki daya tawar besar melalui kontrolnya terhadap Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilewati seperlima pasokan minyak dunia.

Laporan dari Axios menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan proposal baru melalui Pakistan untuk membuka kembali selat tersebut dengan syarat negosiasi nuklir ditunda ke tahap berikutnya. Namun, Trump menolak tawaran itu karena dianggap "belum cukup".

Di dalam negeri, Trump mulai menghadapi tekanan dari pemilih seiring turunnya tingkat elektabilitasnya akibat perang yang tidak populer ini.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahwa Teheran tidak akan mau bernegosiasi di bawah ancaman atau blokade maritim.

Perselisihan antara kedua negara kini meluas melampaui isu nuklir dan Selat Hormuz. AS menuntut penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah dan Hamas, serta pembatasan rudal balistik.

Sementara itu, Iran menuntut pencabutan sanksi dan penghentian serangan Israel terhadap Hizbullah.

Di Lebanon, situasi tetap memanas meskipun ada upaya gencatan senjata. Serangan Israel dilaporkan menewaskan 14 orang pada hari Minggu, memicu kekhawatiran bahwa konflik ini akan terus meluas sebelum solusi diplomatik yang nyata ditemukan.

Load More