- Nilai tukar rupiah menguat 0,11 persen ke level Rp 17.211 per dolar AS pada penutupan perdagangan 27 April 2026.
- Penguatan rupiah terjadi akibat meredanya tensi Timur Tengah serta melemahnya mata uang dolar AS di pasar global.
- Aliran masuk investor asing ke Indonesia turut mendukung penguatan rupiah meskipun sifatnya diprediksi hanya bersifat sementara saja.
Suara.com - Nilai tukar rupiah konsisten menguat terhadap Dolar AS pada penutupan, Senin, 27 April 2026. Bangkitnya mata uang Garuda akibat meredanya tensi di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup Rp 17.211 per dolar AS atau menguat 0,11 persen dari perdagangan Jumat (24/4/2026) di level Rp 17.284.
Sedangkan, kurs Jisdor BI menunjukkan mata uang garuda berada di level Rp 17.227 per dolar AS.
Sementara itu, mata uang Asia lainnya juga menguat. Salah satunya, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,38 persen.
Selanjutnya ada ringgit Malaysia yang terkerek 0,27 persen dan dolar Taiwan yang ditutup melesat 0,17 persen. Disusul, dolar Singapura yang menanjak 0,14 persen.
Berikutnya, yen Jepang dan yuan China sama-sama terangkat 0,1 persen. Lalu ada rupee India yang naik 0,04 persen.
Sedangkan, peso Filipina berhasil ditutup menguat tipis 0,005 persen terhadap the greenback.
Sementara itu, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,32 persen. Diikuti, dolar Hong Kong yang melemah tipis 0,02 persen pada sore ini.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah dikarenakan dolar AS yang mengalami pelemahan.
Baca Juga: Mengapa Rupiah Terus Anjlok?
"Rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar AS yg berbalik melemah di tengah sentimen risk on, dengan investor mengabaikan kegagalan perundingan AS-Iran dan menaruh harapan pada proposal baru Iran mengenai dibukanya kembali selat Hormuz," ujarnya saat dihubungi Suara.com
Dia melanjutkan, data masuknya investor asing di Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan ikut mendukung rupiah. Namun, penguatan mata uang garuda ini akan bersifat sementara.
"Penguatan ini bersifat sitasional dan diperkirakan tidak akan bisa bertahan," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
- 5 Sepatu Lari di Bawah Rp500 Ribu di Sports Station, Performa Nyaman Sesuai Review
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Abdul Wahid Menunggu Vonis, Berharap Putusan Benar-benar Adil
-
Puluhan Tangki Tiap Musim Kemarau Tak Selesaikan Masalah, Warga Kemesu Minta Pencarian Sumber Air
-
Kasus Hutan Lindung Tanjung Piayu, PT GTP Resmi Jadi Tersangka Korporasi
-
9 Rekomendasi Parfum yang Cocok untuk Zodiak Taurus, HMNS hingga Mykonos
-
Kebakaran Hebat Landa Permukiman Padat di Kebayoran Lama, 28 Unit Damkar Dikerahkan
-
Strategi Pemerintah Siapkan Hidrogen Jadi Bahan Bakar Masa Depan RI
-
Pakar Desak Tim 9 Bongkar Pihak Lain yang Punya Kuasa Lebih Besar dari Febrie Adriansyah
-
Puluhan Siswa TK Gaya Baru Solo Belajar di Atap yang Kondisinya Membahayakan
-
Hari Anak Nasional: Langkah Kecil ATFAC yang Mengubah Masa Depan Anak-anak Kurang Beruntung
-
Bukan Lagi Sekadar Operator, Indosat Bertransformasi Jadi Perusahaan AI Raup Pendapatan Double Digit