Bisnis / Keuangan
Senin, 27 April 2026 | 14:00 WIB
Nilai tukar rupiah menyentuh rekor terendah sepanjang masa sebesar Rp17.308 per dolar AS pada pekan lalu. [Antara]
Baca 10 detik
  • Nilai tukar rupiah menyentuh rekor terendah sepanjang masa sebesar Rp17.308 per dolar AS pada pekan lalu.
  • Konflik Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz memicu kenaikan harga energi serta melemahkan nilai tukar rupiah.
  • Pemerintah dan Bank Indonesia melakukan stabilisasi kebijakan moneter serta fiskal untuk menjaga kepercayaan pasar yang menurun.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terus tertekan dan mencetak rekor paling rendah dalam sejarah pada pekan lalu, ketika 1 dolar nilai mencapai Rp17.308. Ini merupakan performa paling buruk rupiah, bahkan jika dibandingkan dengan krisis moneter 1998.

Para analis sepakat, jatuhnya nilai tukar rupiah masih berkaitan dengan krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah yang sudah berlangsung selama dua bulan. Tapi pemerintah mengatakan nilai Rupiah saat ini justru tidak selaras dengan fundamental ekonomi dalam negeri yang masih kokoh.

Lalu apa penyebab jatuhnya rupiah dan apa yang harus dilakukan?

Jalan turun rupiah

Rupiah pada pekan lalu jatuh ke titik terendah sepanjang masa setelah prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Israel dan Iran belum juga jelas terlihat. Blokade terhadap jalur minyak Selat Hormuz di Teluk Persia membuat banyak negara, termasuk Indonesia tertekan secara ekonomi.

Faktor ini yang disebut para analis menjadi faktor utama jatuhnya nilai tukar rupiah.

Tetapi nilai tukar rupiah sudah di berada di jalur penurunan sejak akhir tahun lalu. Rupiah mulai kehilangan nilainya ketika Pemerintah Presiden Prabowo mengganti Sri Mulyani dengan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan.

Rupiah kemudian anjlok lagi lebih dalam saat pada Januari 2026 DPR menyetujui keponakan Prabowo, Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Melemahnya rupiah ketika itu dilihat cerminan turunnya kepercayaan pasar pada bank sentral.

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS selama April 2025 - April 2026. [Dok Trading View]

Mengapa rupiah terus anjlok?

Baca Juga: Tensi Timur Tengah Mereda, Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.211 Per Dolar AS

Ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama melemahnya rupiah. Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai pelemahan rupiah dipicu ketegangan AS dengan Iran yang mendorong kenaikan harga energi.

“Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” beber dia.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo juga melihat hal yang sama. Ia mengatakan blokade Selat Hormuz mendorong kenaikan harga energi global dan inflasi yang kemudian memperkuat dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi di tengah tingginya harga minyak dunia, diikuti dengan arus modal keluar (capital outflows) akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko turut menekan nilai tukar rupiah.

Dilema subsidi BBM

Soal ketergantungan Indonesia pada impor energi juga menjadi sorotan Mantan Gubernur Bank Indonesia periode 2010 - 2013 Darmin Nasution. Ia mengatakan kebijakan menahan harga BBM bersubsidi saat harga minyak mentah dunia meningkat akibat konflik di Timur Tengah menekan nilai tukar rupiah.

Darmin, yang juga pernah menjabat sebagai menteri koordinator bidang perkeonomian, menjelaskan ketika harga minyak global naik sementara harga BBM dalam negeri tetap ditahan, pemerintah harus menanggung selisih biaya melalui subsidi yang lebih besar.

Kondisi ini meningkatkan kebutuhan pembiayaan sehingga memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Artinya ya Anda (pemerintah) membuat harga BBM di dalam negeri itu tetap tidak naik, misalnya, ya itu dia akan keluar tekanannya di tempat lain (nilai tukar rupiah),” jelas Darmin.

Purbaya salahkan sentimen

Terus jatuhnya rupiah disesali oleh Menkeu Purbaya. Ia menilai pelemahan nilai tukar rupiah bukan cerminan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang memburuk. Justru perekonomian domestik masih relatif kuat dibandingkan negara lain di kawasan.

Menkeu menjelaskan dinamika pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global serta ekspektasi pasar. Karenanya ia menekankan pentingnya pengelolaan ekspektasi publik dan pelaku pasar.

Menurut dia, sentimen negatif yang beredar bisa memperburuk persepsi terhadap rupiah, meski kondisi fundamental ekonomi tidak mengalami perubahan.

"Terus ini kan juga terjadi noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan,” keluh dia.

Apa yang dilakukan?

Untuk menahan pelemahan rupiah, Bank Indonesia sudah melakuka berbagai upaya. Keputusan Bank Indonesia pekan lalu yang mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen mencerminkan fokus pada stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

BI juga menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari sebelumnya 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi. Kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan di pasar spot valuta asing sekaligus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.

Tetapi menurut ekonom yang juga Associate Faculty LPPI Ryan Kiryanto upaya stabilisasi nilai tukar rupiah tidak dapat hanya mengandalkan BI, melainkan membutuhkan sinergi dengan otoritas lain guna menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Ia mengusulkan agar perbankan yang memiliki debitur dengan eksposur pinjaman valuta asing (valas) yang besar, dalam tahap tertentu perlu mengkonversikannya ke rupiah untuk mengurangi tekanan nilai tukar.

Ryan juga mendorong perbaikan struktural perekonomian domestik, di antaranya dengan peningkatan penggunaan bahan baku substitusi impor seperti di industri farmasi. Hal ini dapat mengurangi permintaan valas sehingga tekanan terhadap rupiah berkurang.

Peran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), menurut Ryan, juga perlu diperkuat melalui harmonisasi kebijakan antarotoritas. Hal itu agar KSSK dapat menghasilkan kebijakan dengan nada yang lebih ramah pasar dan investor.

Pemerintah juga diminta untuk berperan dalam menguatkan rupiah. Sutopo mengatakan pemerintah perlu memperketat disiplin fiskal guna menjaga kepercayaan investor jangka panjang.

Sementara Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman mengatakan intervensi BI untuk menjaga nilai tukar rupiah juga perlu dilakukan secara hati-hati karena ada risiko yang cukup besar yakni cadangan devisa yang mulai tergerus.

“Artinya, stabilisasi rupiah harus selektif dan tidak bisa hanya mengandalkan intervensi berkelanjutan,” wanti-wanti Rizal.

Rupiah diprediski masih melemah

Adapun pada hari ini, Senin (27/4/2026) rupiah diprediksi masih melemah. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan nilai tukar rupiah belum bisa bangkit seiring kegagalan negosiasi damai antara AS dengan Iran.

Sementara itu, sentimen dari domestik pada umumnya masih lemah terkait kondisi defisit anggaran dan Bank Indonesia (BI) yang belum memberikan sinyal untuk menaikkan suku bunga. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diprediksi akan berada pada kisaran Rp17.100-Rp17.200 per dolar AS.

Load More