- Thailand hidupkan proyek Land Bridge Rp480 T sebagai rute alternatif pengganti Selat Malaka.
- Pemerintah Thailand merayu Singapura untuk jadi investor utama proyek pelabuhan dan rel 90 km.
- Proyek ini dinilai lebih layak dibanding Terusan Kra untuk pangkas jalur logistik global.
Suara.com - Ketegangan di Selat Hormuz rupanya menjadi alarm keras bagi keamanan logistik dunia. Merespons kerentanan titik-titik jalur pelayaran global, Pemerintah Thailand secara resmi menghidupkan kembali proyek ambisius "Land Bridge" (Jembatan Darat) senilai 1 triliun Baht (sekitar Rp480 triliun).
Mengutip Reuters, Selasa (28/4/2026) proyek ini diproyeksikan menjadi rute alternatif utama bagi Selat Malaka, jalur tersibuk dunia yang saat ini mulai mengalami kejenuhan dan isu monetisasi.
Selama beberapa dekade, ide membelah semenanjung Thailand selatan terus muncul dan tenggelam. Namun, kali ini Pemerintah Thailand bergerak cepat. Proyek Land Bridge ini akan menghubungkan dua pelabuhan laut dalam: Ranong di sisi Laut Andaman dan Chumphon di sisi Teluk Thailand.
Keduanya akan terhubung melalui infrastruktur jalan dan kereta api sepanjang 90 km, lengkap dengan jaringan pipa energi. Jika terwujud, kapal-kapal dari Asia Timur menuju Timur Tengah dan Eropa tidak perlu lagi memutar melewati Selat Malaka yang panjangnya mencapai 900 km.
Dalam langkah diplomatik terbaru, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul secara khusus menemui Menteri Pertahanan Singapura, Chan Chun Sing, pada hari Senin. Pertemuan ini bertujuan untuk menawarkan peluang investasi besar kepada Singapura.
Meskipun Singapura secara geografis diuntungkan oleh Selat Malaka, Thailand mencoba meyakinkan bahwa Land Bridge adalah peluang ekonomi kawasan yang komplementer, bukan sekadar pesaing. Juru bicara pemerintah, Rachada Dhanadirek, menyebutkan bahwa pihak Singapura menyatakan ketertarikannya terhadap rencana tersebut.
Berbeda dengan ide "Terusan Kra" yang kontroversial karena dampak lingkungan dan keamanan yang masif, Land Bridge dinilai lebih layak secara teknis dan finansial. Meski sempat tertunda karena turbulensi politik, pemerintah menargetkan draf proyek ini masuk ke meja kabinet pada Juni atau Juli mendatang.
Jika berjalan mulus, pencarian investor akan dimulai pada kuartal ketiga tahun ini. Langkah ini juga menjadi jawaban atas wacana pengenaan tarif tol di Selat Malaka yang sempat dilontarkan pejabat Indonesia, yang menegaskan urgensi adanya rute logistik alternatif di Asia Tenggara.
Baca Juga: Dear Gen Z, Ini Tips dari Menkeu Purbaya untuk Investasi ke Pasar Saham
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Sepanjang Tahun 2025, Pertamina EP Cepu Torehkan Kinerja Moncer
-
Laba Naik Saat Industri Media Berat, Emiten DIGI Bongkar Strategi Rahasianya
-
Aura Research Jadi Senjata Baru DIGI, Andalkan AI untuk Riset hingga Advokasi Bisnis
-
Pegadaian dan KSEI Perkuat Ekosistem Emas Melalui Investasi ETF Emas
-
Laba Bersih Arkadia Digital Media (DIGI) Melonjak 45,1% di 2025, Siapkan Ekspansi Bisnis AI
-
RI Siapkan Indonesia Center New York, Bidik Investasi dan Ekspansi Bisnis ke AS
-
Domestik Lesu, SIG Mau Kirim 1 Juta Ton Semen ke Pasar AS Lewat Dermaga Baru
-
Industri Manufaktur Didesak Beralih ke Energi Hijau, Jangan Tunggu Sampai Kalah Saing
-
Selisih Harga Makin Lebar, Migrasi Pertamax ke Pertalite Berpotensi Jadi Risiko Besar bagi APBN
-
Sekarang UMKM Bisa Ekspor ke Eropa Setelah IEU-CEPA Disepakati