- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.242 per Dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 28 April 2026.
- Pelemahan rupiah terjadi akibat sentimen negatif pasar regional dan penguatan Dolar AS terkait konflik Timur Tengah.
- Bank Indonesia melakukan intervensi intensif untuk menahan laju penurunan nilai mata uang rupiah di pasar domestik.
Suara.com - Nilai tukar rupiah tidak berdaya berhadapan dengan Dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan Selasa, 28 April 2026. Pelemahan ini dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri hingga luar negeri.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sore ini berada di zona merah ke level Rp17.242 per dolar AS atau melemah 0,19 persen dari perdagangan Senin, 27 April 2026 di level Rp 17.211.
Sedangkan, kurs Jisdor BI menunjukkan mata uang garuda berada di level Rp17.245.
Pelemahan ini juga terjadi pada mata uang Asia lainnya. Salah Baht Thailand menjadi mata uang Asia paling tertekan dengan pelemahan sekitar 0,31 persen. Kemudian, Peso Filipina dengan penurunan 0,14 persen.
Lalu, Dolar Taiwan mengalami penurunan 0,11 persen. Diikuti Yuan China turun 0,09 persen dan on Korea juga melemah tipis sebanyak 0,04 persen.
Adapun, pelemahan rupiah ini dinilai Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong akibat dolar AS terus naik.
"Rupiah dan mata uang regional, Asia maupun utama dunia umumnya melemah cukup besar terhadap dolar AS," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia mengungkapkan pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen risk off regional dan penguatan AS merespon prospek perdamaian di Timur Tengah yang meredup oleh laporan bahwa Trump tidak puas dengan proposal damai Iran.
Apalagi, umumnya mata uang Garuda masih tertekan dalam sepekan ini. Namun, Bank Indonesia (BI) terus mengitervensi rupiah secara intensif.
Baca Juga: Rupiah Berbalik Melemah, Dolar AS Merangkak Naik ke Level Rp17.246
"Di sisi lain mood atau sentimen pasar cenderung on and off merespon perkembangan seputar timteng. Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah namun terbatas, dengan potensi bebalik menguat apabila sentimen membaik dan intervensi BI," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
- PT Blueray Cargo Milik Siapa? Perusahaan Logistik yang Seret Raffi Ahmad dalam Kasus Suap Importasi
Pilihan
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
Terkini
-
Penjualan Properti Anjlok, Pengembang Andalkan Kawasan Hunian-Komersial Terintegrasi
-
Bank Jakarta Permudah Layanan Warga Bayar Pajak Kendaraan
-
BTN Jakarta International Marathon 2026 Sukses Digelar, 20.500 Pelari Ramaikan Hari Pertama
-
Program JKN Bantu Dede Jalani Operasi Kista Ganglion
-
CBDK Cetak Laba Melonjak 317 Persen
-
Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
-
IHSG Melonjak 7,38% Sepekan, Asing Jual Bersih Sentuh Rp67 T Sepanjang Tahun
-
Dilema Pertamina Naikkan Harga Pertamax, Ekonom: Kalau Ditahan Terus Bisa Gerus Keuangan Negara
-
Inovasi Karyawan Petrokimia Gresik Hasilkan Nilai Rp154 Miliar
-
Layanan Kereta Indonesia Disebut Sudah Setara Global