Bisnis / Ekopol
Rabu, 29 April 2026 | 08:12 WIB
Ilustrasi.Dominasi Cina tidak hanya melalui jalur keamanan dengan strategi grey zone—yakni pengerahan milisi maritim yang dibayangi Coast Guard—tetapi juga melalui jalur diplomasi bilateral yang intens. Foto ist.
Baca 10 detik
  • Klaim aman Presiden Prabowo bergantung pada soliditas ASEAN hadapi agresi Cina.
  • Cina gunakan strategi grey zone dan diplomasi energi untuk dominasi kawasan.
  • Indonesia harus jadi motor persatuan ASEAN guna tuntaskan COC LCS tahun 2026.

Suara.com - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia sebagai tempat paling aman jika Perang Dunia 3 pecah, menuai respons positif dari berbagai kalangan. Namun, keamanan tersebut dinilai baru akan benar-benar teruji jika Indonesia mampu memimpin ASEAN bersatu menghadapi agresivitas Republik Rakyat Cina (RRC) di kawasan.

Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI), Johanes Herlijanto mengungkapkan, klaim keamanan Indonesia akan semakin valid jika negara-negara Asia Tenggara memiliki kekuatan kolektif. Hal ini menjadi krusial mengingat krisis Timur Tengah sejak awal 2026 telah menyedot perhatian Amerika Serikat, yang membuat Cina seolah kehilangan penyeimbang di Asia Tenggara.

"Dalam dua dasawarsa terakhir, Cina terus bersitegang dengan Vietnam, Indonesia, dan Filipina terkait Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) melalui dalih nine dash-line yang bertentangan dengan UNCLOS," ujar Johanes dalam seminar bertajuk “Keketuaan Filipina dan Diplomasi Cina di ASEAN” di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Seminar yang dipandu Muhammad Farid ini mengungkap bahwa dominasi Cina tidak hanya melalui jalur keamanan dengan strategi grey zone—yakni pengerahan milisi maritim yang dibayangi Coast Guard—tetapi juga melalui jalur diplomasi bilateral yang intens.

Peneliti mitra FSI, Dr. Ratih Kabinawa, menyoroti taktik Beijing yang kerap mendekati negara ketua ASEAN secara bilateral untuk memengaruhi agenda organisasi. Saat ini, Filipina yang memegang keketuaan ASEAN berada dalam posisi dilematis antara krisis energi dan tekanan di Laut Cina Selatan (LCS).

"Beijing bisa memanfaatkan proposal eksplorasi energi bersama sebagai celah. Jika Filipina tergiur, ada risiko mereka gagal mendorong penyelesaian Code of Conduct (COC) di LCS," tegas lulusan Universitas Australia Barat tersebut.

Direktur Kerja Sama Politik Keamanan ASEAN, Ahmad Shaleh Bawazir, menyebut hubungan ASEAN dan Cina diwarnai paradoks: sangat dekat secara ekonomi namun penuh ketidakpercayaan (distrust) di sektor keamanan.

Meski begitu, ia tetap optimis negosiasi COC yang ditargetkan rampung pada 2026 dapat berjalan baik jika ketegangan di lapangan bisa dikelola.

Berseberangan dengan Ahmad, pakar hubungan Indonesia-Cina, Dr. Klaus Heinrich Raditio, justru merasa pesimis COC akan selesai tahun ini. Ia menilai posisi Cina di LCS sudah terlalu kuat, sementara AS kini terjebak dalam dinamika G2.

Baca Juga: Di Balik Laju Whoosh, Terjalin Persahabatan dan Pertumbuhan Ekonomi RI-Tiongkok

"Tanpa persatuan ASEAN, tak akan ada keberhasilan. Filipina punya posisi hukum yang kuat berdasarkan putusan Mahkamah Internasional 2016, namun Indonesia tetap memegang kunci sebagai pemimpin informal ASEAN untuk mempersatukan kawasan," pungkas Klaus.

Load More