Bisnis / Keuangan
Jum'at, 01 Mei 2026 | 10:03 WIB
CIMB Niaga Digital Lounge (Suara.com/Chyntia Sami)
Baca 10 detik
  • PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp2,3 triliun pada kuartal pertama tahun 2026.
  • Pertumbuhan laba didorong oleh peningkatan dana pihak ketiga sebesar Rp260,1 triliun dan pengelolaan biaya yang disiplin.
  • Penyaluran kredit mencapai Rp235,1 triliun dengan kualitas aset terjaga serta dukungan pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp60,2 triliun.

Suara.com - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) berhasil membukukan laba sebelum pajak konsolidasi sebesar Rp2,3 triliun.

Pencapaian ini menjadi bukti kuatnya fundamental perusahaan di tengah dinamika industri perbankan Indonesia yang terus berkembang.

Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa pertumbuhan laba yang signifikan ini didorong oleh pendapatan operasional yang stabil, serta pengelolaan biaya yang disiplin.

Sebagai salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, CIMB Niaga juga mencatatkan laba per saham atau earnings per share sebesar Rp70,20.

"Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi pertumbuhan kredit yang selektif serta dukungan pendanaan yang kuat dari sektor dana murah," katanya dalam siaran pers yang diterima, Jumat (1/5/2026)

Lani menjelaskan bahwa salah satu pilar utama penopang kinerja kuartal ini adalah peningkatan dana pihak ketiga (DPK).

Hingga 31 Maret 2026, total DPK tercatat meningkat menjadi Rp260,1 triliun atau tumbuh 2,3 persen secara tahunan (Year-on-Year/YoY).

Selain itu, pertumbuhan tersebut didominasi oleh perolehan Current Account Savings Account (CASA) yang melonjak 12,2 persen YoY menjadi Rp192,3 triliun. Dengan hasil ini, rasio CASA CIMB Niaga mencapai level tertinggi sebesar 73,9 persen.

Di sisi penyaluran dana, total kredit dan pembiayaan CIMB Niaga tumbuh sebesar 2,2 persen YoY menjadi Rp235,1 triliun.

Baca Juga: Emiten TOBA Catatkan Pendapatan Naik 20,6% di Kuartal I-2026

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan (tengah). [Suara.com/Rina]

Sektor Corporate Banking menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan 4,8 persen YoY, disusul oleh segmen Usaha Kecil Menengah (UKM) sebesar 1,2 persen YoY.

Sementara itu, pada segmen ritel, Kredit Pemilikan Mobil (KPM) mencatatkan kenaikan sebesar 4,0 persen secara tahunan.

CIMB Niaga juga tetap menjaga kualitas aset secara ketat. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang berada di bawah rata-rata industri.

Selain itu, biaya kredit (cost of credit) berhasil ditekan agar tetap terjaga di bawah 1 persen. Dari aspek likuiditas, bank mempertahankan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,3 persen dan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 89,2 persen.

Unit Usaha Syariah (UUS) atau CIMB Niaga Syariah juga mempertahankan posisinya sebagai UUS terbesar di Indonesia. Per Maret 2026, total pembiayaan syariah mencapai Rp52,9 triliun dengan perolehan DPK sebesar Rp45,0 triliun.

Strategi memperkuat ekosistem keuangan syariah melalui kemitraan komunitas menjadi kunci keberlanjutan bisnis di segmen ini.

Load More