- PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp2,3 triliun pada kuartal pertama tahun 2026.
- Pertumbuhan laba didorong oleh peningkatan dana pihak ketiga sebesar Rp260,1 triliun dan pengelolaan biaya yang disiplin.
- Penyaluran kredit mencapai Rp235,1 triliun dengan kualitas aset terjaga serta dukungan pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp60,2 triliun.
Suara.com - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) berhasil membukukan laba sebelum pajak konsolidasi sebesar Rp2,3 triliun.
Pencapaian ini menjadi bukti kuatnya fundamental perusahaan di tengah dinamika industri perbankan Indonesia yang terus berkembang.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa pertumbuhan laba yang signifikan ini didorong oleh pendapatan operasional yang stabil, serta pengelolaan biaya yang disiplin.
Sebagai salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, CIMB Niaga juga mencatatkan laba per saham atau earnings per share sebesar Rp70,20.
"Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi pertumbuhan kredit yang selektif serta dukungan pendanaan yang kuat dari sektor dana murah," katanya dalam siaran pers yang diterima, Jumat (1/5/2026)
Lani menjelaskan bahwa salah satu pilar utama penopang kinerja kuartal ini adalah peningkatan dana pihak ketiga (DPK).
Hingga 31 Maret 2026, total DPK tercatat meningkat menjadi Rp260,1 triliun atau tumbuh 2,3 persen secara tahunan (Year-on-Year/YoY).
Selain itu, pertumbuhan tersebut didominasi oleh perolehan Current Account Savings Account (CASA) yang melonjak 12,2 persen YoY menjadi Rp192,3 triliun. Dengan hasil ini, rasio CASA CIMB Niaga mencapai level tertinggi sebesar 73,9 persen.
Di sisi penyaluran dana, total kredit dan pembiayaan CIMB Niaga tumbuh sebesar 2,2 persen YoY menjadi Rp235,1 triliun.
Baca Juga: Emiten TOBA Catatkan Pendapatan Naik 20,6% di Kuartal I-2026
Sektor Corporate Banking menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan 4,8 persen YoY, disusul oleh segmen Usaha Kecil Menengah (UKM) sebesar 1,2 persen YoY.
Sementara itu, pada segmen ritel, Kredit Pemilikan Mobil (KPM) mencatatkan kenaikan sebesar 4,0 persen secara tahunan.
CIMB Niaga juga tetap menjaga kualitas aset secara ketat. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang berada di bawah rata-rata industri.
Selain itu, biaya kredit (cost of credit) berhasil ditekan agar tetap terjaga di bawah 1 persen. Dari aspek likuiditas, bank mempertahankan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,3 persen dan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 89,2 persen.
Unit Usaha Syariah (UUS) atau CIMB Niaga Syariah juga mempertahankan posisinya sebagai UUS terbesar di Indonesia. Per Maret 2026, total pembiayaan syariah mencapai Rp52,9 triliun dengan perolehan DPK sebesar Rp45,0 triliun.
Strategi memperkuat ekosistem keuangan syariah melalui kemitraan komunitas menjadi kunci keberlanjutan bisnis di segmen ini.
Berita Terkait
-
CIMB Niaga (BNGA) Tebar Dividen Rp4,07 Triliun, Angkat Budiman Tanjung Jadi Direktur Baru
-
Laba Emiten Hary Tanoe Terbang 140 Persen
-
BTN Cetak Laba Bersih Rp 1,1 Triliun di Kuartal I-2026
-
Ekspansi Agresif, Laba PT Multi Hanna Kreasindo (MHKI) Tumbuh Solid 24 Persen di 2025
-
SeaBank Cetak Laba Bersih Rp 678,4 Miliar di 2025, Meroket 79%
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
AS-Iran Damai: Pasar Melesat, Harga Minyak Diprediksi Terus Turun ke Level 70 Dolar
-
Utang Luar Negeri Membengkak Tembus Rp7.784 Triliun, Pemerintah Fokus Biayai 3 Sektor Ini
-
Bapanas Ultimatum Pedagang Beras, Stok Tembus Rekor 5,3 Juta Ton: Jangan Mainkan Harga!
-
PIK2 Jadi Magnet Investor, PANI Bukukan Laba Rp578 Miliar dan Tebar Dividen
-
BRI Perluas Akses Investasi Global melalui BRImo, Hadirkan Reksa Dana USD Batavia
-
Rupiah Paling Perkasa di Asia, Pukul Mundur Dolar AS ke Level Rp17.726
-
Kabar Baik bagi Konsumen, Harga Cabai dan Ayam Turun di Awal Pekan!
-
Diikuti 45.000 Peserta, BTN Jakim 2026 Dorong Jakarta Menuju Destinasi Sport Tourism Kelas Dunia
-
Investor Tahan Dulu, Harga Emas Antam Mulai Naik Lagi Jadi Rp 2.729.000/Gram
-
Penguatan Kenaikan IHSG Cerminkan Kepercayaan Investor terhadap Kekuatan Ekonomi Indonesia