- PT Chandra Asri Alkali melaporkan progres pembangunan pabrik CA-EDC telah mencapai 66 persen untuk mendukung kemandirian industri kimia nasional.
- Fasilitas tersebut ditargetkan beroperasi pada 2027 guna mengurangi impor soda kaustik serta meningkatkan potensi devisa melalui ekspor produk EDC.
- Proyek strategis nasional ini menyerap 3.000 tenaga kerja selama konstruksi dan melibatkan pelaku UMKM lokal dalam operasional rantai pasok.
Suara.com - PT Chandra Asri Pacific melalui entitas anak usahanya PT Chandra Asri Alkali (CAA) melaporkan progres pembangunan Pabrik Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) telah mencapai 66 persen.
Proyek strategis tersebut diproyeksikan menjadi salah satu penopang pengurangan impor bahan kimia dasar nasional.
Saat ini, pembangunan proyek telah memasuki tahap pengembangan infrastruktur logistik utama, termasuk konstruksi jetty dan tangki penyimpanan untuk mendukung distribusi dan pengelolaan rantai pasok produk Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (EDC).
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporasi Chandra Asri Group Suryandi mengatakan, pembangunan infrastruktur terintegrasi menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem industri kimia nasional.
"Pembangunan Pabrik CA-EDC kini memasuki fase pengembangan infrastruktur logistik utama yang akan menjadi bagian penting dalam mendukung distribusi dan pengelolaan rantai pasok bahan kimia strategis. Kami memandang pengembangan infrastruktur yang terintegrasi sebagai elemen penting dalam membangun ekosistem industri kimia nasional yang lebih efisien, kompetitif, dan berdaya saing," ujarnya di Jakarta, Minggu (10/5/2026).
Pabrik CA-EDC dirancang untuk memenuhi kebutuhan domestik terhadap bahan kimia dasar strategis yang terus meningkat. Pada tahap awal operasional, fasilitas tersebut ditargetkan memiliki kapasitas produksi sebesar 827 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton EDC per tahun.
Produksi soda kaustik dari fasilitas ini diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat pasokan bahan baku bagi berbagai sektor industri nasional.
Dalam jangka panjang, kapasitas produksi tersebut berpotensi menggantikan impor hingga sekitar 827 ribu ton per tahun dengan nilai mencapai 293 juta dolar AS.
Sementara itu, produksi EDC akan diarahkan untuk pasar ekspor dan diperkirakan mampu membuka potensi devisa hingga 300 juta dolar AS per tahun. Langkah tersebut diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri kimia regional.
Baca Juga: Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
Pemerintah juga telah menetapkan proyek Pabrik CA-EDC sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) karena dinilai memiliki peran penting dalam mendukung hilirisasi industri kimia dan pertumbuhan ekonomi nasional berkelanjutan.
Selain mendukung penguatan industri kimia nasional, proyek ini juga memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja dan keterlibatan pelaku usaha lokal.
Selama fase konstruksi, proyek tersebut telah melibatkan sekitar 3.000 tenaga kerja dan diproyeksikan membuka sekitar 250 lapangan kerja baru saat mulai beroperasi penuh pada kuartal pertama 2027.
Chandra Asri Group juga melibatkan UMKM lokal dalam berbagai kebutuhan rantai pasok dan operasional proyek sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Melalui pembangunan Pabrik CA-EDC, Chandra Asri Group menegaskan komitmennya untuk mendukung pengembangan industri hilir kimia nasional, meningkatkan ketahanan pasokan bahan kimia strategis, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Purbaya Sidak Pabrik Baja Asal China, Diduga Akali Pajak karena Cuma Bayar Rp 20 M
-
Bitcoin dkk Diramal Bisa Jadi Sistem Finansial Alternatif RI Dalam Waktu 3 Tahun
-
5 Tahun Holding UMi: Lebih Mudah, Dekat dan Berdampak untuk Nasabah PNM Mekaar
-
Delapan Klaster Program Prioritas Nasional di 2027
-
Bahlil Minta Lebih Banyak Lahan untuk Sawit demi Ambisi B80
-
Bahlil Stop Ekspor Batu Bara Usai PLN Kekurangan Pasokan
-
Sandiaga Uno Suntik Modal MUTU, Pasar Karbon RI Jadi Incaran
-
Jasa Marga Tingkatkan Komitmen Pengelolaan Green Toll Road dan Transformasi Rest Area Berkelanjutan
-
LPS Naikkan Bunga Penjaminan Simpanan Rupiah, Kini Tembus 3,75%
-
Toko Online Wajib Punya NIB, Termasuk Penjual Barang Bekas: Ini Ketentuannya