Bisnis / Keuangan
Minggu, 10 Mei 2026 | 18:36 WIB
Nilai tukar rupiah bisa kembali tertekan pada minggu depan bahkan bisa tembus Rp 17.500. [Antara].
Baca 10 detik
  • Pengamat pasar modal memprediksi nilai tukar rupiah akan mengalami tekanan besar dan bergerak sideway pada perdagangan Senin, 11 Maret 2026.
  • Rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp17.320 hingga Rp17.480 per dolar AS, bergantung pada situasi konflik di Timur Tengah.
  • Faktor ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga minyak, serta arus modal keluar menjadi beban berat bagi stabilitas nilai tukar domestik.

Suara.com - Nilai tukar kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan mengalami tekanan besar pada pembukaan perdagangan, Senin, 11 Maret 2026

Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, mengatakan rupiah akan masuk fase sideway, seiring dengan tingginya ketidakpastian dalam prediksi rupiah besok.

Ia menjelaskan, faktor kekhawatiran pasar terhadap kondisi iskal dan pasar modal dalam negeri juga menjadi beban tambahan bagi rupiah. Jika tidak terjadi eskalasi konflik baru di Timur Tengah malam ini, rupiah masih akan mencapai Rp 17.480 per dolar AS

"Rentang nilai tukar rupiah yang realistis berada di kisaran Rp 17.320 hingga Rp 17.480 per dolar AS. Kalau tidak ada eskalasi baru dari Timur Tengah malam ini, saya melihat range realistis besok sekitar Rp 17.320 – Rp 17.480 per dokar AS," kata Budi saat dihubungi, Suara.com, Minggu (10/5/2026).

Nilai tukar rupiah bisa kembali tertekan pada minggu depan bahkan bisa tembus Rp 17.500. [Antara]

Ia juga mengingatkan bisa saja rupiah ada di level Rp 17.500. Angka ini menjadi resistansi psikologis yang krusial. Namun, level ini bisa saja tidak terjadi.

Lantaran, adanya sentimen global yang membaik atau harga minyak dunia terkoreksi tajam. Sentimen ini berpotensi mencoba kembali rupiah ke area Rp 17.250 hingga Rp 17.300 per dolar AS.

"Resistance psikologis tetap di area Rp 17.500. Sedangkan kalau ada perbaikan sentimen global atau oil turun tajam, rupiah bisa kembali mencoba area Rp 17.250 – Rp 17.300," katanya.

Budi menambahkan, sentimen negatif masih mendominasi pasar akibat meningkatnya tensi geopolitik Iran dan fluktuasi harga minyak mentah dunia yang belum stabil.

Selain itu, derasnya arus modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets) serta sentimen penguatan dolar AS yang masif memperberat langkah ekonomi global dalam menjaga stabilitas nilai tukar domestik.

Baca Juga: Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?

"Kalau melihat sentimen terakhir, saya prediksi rupiah besok masih cenderung dibuka melemah tipis atau sideways dengan tekanan tetap besar. Meskipun, peluang technical rebound kecil tetap ada setelah intervensi Bank Indonesia (BI) yang cukup agresif," tegasnya.

Untuk itu, Budi berharap langkah intervenso pemerintah dan bank sentral diharapkan mampu menahan volatilitas. Hal ini agar posisi rupiah tidak merosot lebih dalam di tengah ketidakpastian pasar finansial.

Load More