Bisnis / Energi
Rabu, 13 Mei 2026 | 08:35 WIB
Harga energi dunia, mulai dari Bahan Bakar Minyak (BBM), LPG, hingga Liquefied Natural Gas (LNG) kini kompak merangkak naik. Foto ist.
Baca 10 detik
  • Konflik geopolitik picu kenaikan harga BBM, LPG, dan LNG global secara non-fundamental.
  • Harga solar industri di Indonesia melonjak hingga Rp27.900/liter per Mei 2026.
  • Penyesuaian harga penting demi kesehatan fiskal dan keberlanjutan pasokan energi nasional.

Suara.com - Dinamika geopolitik global yang kian memanas tak hanya mengguncang stabilitas keamanan, tapi juga bikin kantong jebol. Harga energi dunia, mulai dari Bahan Bakar Minyak (BBM), LPG, hingga Liquefied Natural Gas (LNG) kini kompak merangkak naik.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengungkapkan bahwa energi merupakan kebutuhan primer yang setara dengan pangan. Menurutnya, wajar jika ketegangan politik global langsung berdampak pada meroketnya harga energi.

"Iya energi ini kan kebutuhan. Kalau tidak ada energi maka tidak ada kehidupan. Saat ada krisis maka paling utama diselamatkan ada dua; pertama kebutuhan pangan dan kedua energi," ujar Komaidi kepada wartawan.

Komaidi menjelaskan, kenaikan harga saat ini bersifat non-fundamental. Salah satu pemicu utamanya adalah kekhawatiran gangguan distribusi di jalur vital seperti Selat Hormuz. Hal ini memicu efek domino karena harga LPG dan LNG biasanya berkiblat pada indeks harga minyak mentah.

"Harga LPG dan LNG di indeks-kan ke harga minyak mentah jadi dia pasti ikut naik," tambahnya.

Di Indonesia, dampaknya mulai terasa pada sektor industri. Harga LPG industri non-subsidi 50 kg kini dibanderol sekitar Rp1,068 juta per tabung pada Mei 2026, naik dari sebelumnya Rp850 ribu. Tak hanya gas, solar industri pun melonjak drastis dari kisaran Rp14.200–Rp14.500 per liter menjadi Rp26.000–Rp27.900 per liter.

Fenomena ini ternyata merata di kawasan ASEAN. Negara-negara tetangga seperti Vietnam, Filipina, hingga Singapura sudah lebih dulu melakukan penyesuaian harga demi menjaga ketahanan energi mereka.

Di Singapura arga gas retail umum mencapai USD 47,54 per MMBtu, sementara Filipina harga LNG bertengger di angka USD 28,50 per MMBtu sedangkan Vietnam harga gas mencapai USD 27,81 per MMBtu.

Data pasar menunjukkan indeks Japan Korea Marker (JKM) melonjak hingga 111% sepanjang 2026, sementara Indonesian Crude Price (ICP) ikut terkerek naik hingga 99% dibandingkan rencana awal tahun.

Baca Juga: Bahlil Sebut Implementasi B50 Punya Peluang Molor Lagi

Komaidi menilai, penyesuaian harga energi khususnya nonsubsidi perlu segera dilakukan agar ekosistem energi domestik tetap sehat dan rasional. Meskipun dirasa berat, langkah ini penting untuk mengamankan fiskal negara dan memastikan pasokan energi untuk industri maupun masyarakat tetap terjaga dalam jangka panjang.

"Ini terjadi secara global, bukan hanya di Indonesia saja," pungkasnya.

Load More