- Pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS menyebabkan kenaikan harga produk elektronik di Pasar Minggu sejak Mei 2026.
- Konsumen beralih membeli merek elektronik asal China yang lebih terjangkau untuk menyiasati kenaikan harga barang premium tersebut.
- Perubahan perilaku belanja masyarakat terjadi akibat ketergantungan sektor elektronik pada impor yang berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.
Suara.com - Pelemahan rupiah yang menembus Rp17.500 per dolar AS mulai mengubah pola belanja masyarakat di pasar elektronik.
Di tengah kenaikan harga berbagai produk, konsumen disebut mulai meninggalkan merek-merek mahal dan beralih ke produk China yang dinilai lebih terjangkau.
Salah seorang pedagang elektronik, Riri, mengatakan perubahan itu mulai terlihat ketika harga sejumlah barang naik dan pembeli menjadi lebih sensitif terhadap selisih harga.
“Nah kalau kita pengaruhnya di harga naik kayak brand-brand tertentu paling pada (pembeli) ke merek-merek China,” kata Riri kepada Suara.com di Pasar Minggu, Selasa (12/5/2026).
Menurut dia, pergeseran pilihan konsumen ini mulai terasa pada awal Mei 2026. Sebelumnya, pada April, pasar masih relatif normal karena harga elektronik belum banyak mengalami penyesuaian.
Namun ketika rupiah terus melemah dan harga naik, konsumen mulai menyesuaikan strategi belanja dengan mencari produk yang lebih murah.
“Kalau yang bulan April kemarin soalnya kan harga belum masih belum naik, masih standar. Pengaruhnya baru awal-awal ini,” ujarnya.
Fenomena tersebut menunjukkan tekanan kurs dolar kini bukan hanya berdampak pada kenaikan harga, tetapi juga mengubah perilaku konsumsi rumah tangga.
Produk dengan harga lebih rendah kini semakin dilirik sebagai alternatif dibanding merek premium.
Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp17.500 per Dolar AS, BI Bongkar Penyebabnya
Bagi banyak pembeli, keputusan membeli elektronik kini lebih didasarkan pada kemampuan anggaran dibanding preferensi merek.
“Merek-merek China enggak semahal yang brand-brand tertentu harganya,” ucap Riri.
Sebagai sektor yang banyak bergantung pada impor barang jadi maupun komponen, elektronik menjadi salah satu pasar paling cepat merasakan dampak pelemahan rupiah.
Saat harga naik, konsumen cenderung mencari produk lebih murah demi menjaga pengeluaran tetap terkendali.
“Soalnya pengaruh (nilai tukar rupiah) ke penjual-penjual sama yang pembeli itu pengaruh semua,” kata Riri.
Ia pun berharap, pemerintah dapat mengambil langkah untuk menekan lonjakan harga dan menjaga stabilitas ekonomi, terutama bagi pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada perputaran penjualan harian.
Berita Terkait
-
Rupiah Terpeleset ke Rp17.414: Ketegangan Global dan Harga Minyak Jadi Beban
-
Rupiah Masih Melemah, Bank Mulai Jual Dolar AS di kisaran Rp17.700
-
Mengapa Strategi Purbaya Kuatkan Rupiah Justru Berbahaya?
-
Rupiah Tak Berdaya: Terperosok ke Rp17.407 Saat Badai Ekonomi Menghantam Asia
-
Cerita Purbaya Ditekan Investor Asing Gegara Ragukan Kondisi Ekonomi RI
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Purbaya Bongkar Jurus Baru Dongkrak Ekonomi, Kendaraan Listrik Jadi Andalan
-
Gaji UMR Bisa Beli Rumah? Ini Strategi Finansial dan Tipsnya
-
Rupiah Sentuh Rp17.500 per Dolar AS, BI Bongkar Penyebabnya
-
IHSG Masih Akan Turun ke Level 6.700, Rebalancing MSCI Bikin Investor Waspada
-
Saham Konglomerasi Berguguran dari Rebalancing MSCI, Ini Daftarnya
-
Qavah Group Mau Lipat Gandakan Investasi China ke RI
-
Harga Minyakita di Wilayah Timur Masih Melambung, Kemendag Soroti Kendala Logistik
-
Kadin China Kirim Surat Protes ke Prabowo, Keluhkan Royalti Tambang, RKAB Nikel hingga Satgas PKH
-
Pemerintah Waspadai Lonjakan Harga Gula Pasir, Skema SPHP Diusulkan
-
Siloam Tutup RUPST Tahun Buku 2025, Lanjutkan Pertumbuhan Berkelanjutan Lewat Diferensiasi Arketipe