Bisnis / Keuangan
Rabu, 13 Mei 2026 | 13:25 WIB
Ilustarsi Morgan Stanley Capital International (MSCI). [Suara.com/Ist/MSCI-Gemini]
Baca 10 detik
  • OJK menyatakan pasar modal Indonesia tetap stabil pasca pengumuman rebalancing MSCI yang mengeluarkan enam emiten pada Mei 2026.
  • Hasan Fawzi menegaskan tidak terjadi aksi jual panik dan valuasi IHSG saat ini berada di level cukup rendah.
  • OJK mengimbau investor melakukan pembelian saham secara selektif sambil terus memantau stabilitas pasar bersama seluruh pihak terkait.

Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi Pasar Modal Indonesia tetap kokoh dan stabil di tengah dinamika geopolitik global serta fluktuasi domestik. Salah satunya efek hasil rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Seperti diketahui, MSCI mengumumkan untuk mengeluarkan AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT dari MSCI Global Standard Indexes dalam rebalancing Mei 2026. Dengan keluarnya 6 emiten ini membuat IHSG terkoreksi.

Namun, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa pergerakan indeks saat ini masih berada dalam batas koreksi yang wajar. Selain itu tidak ditemukan adanya indikasi panic selling atau aksi jual masif tanpa arah yang jelas dari para investor.

"Kami mengonfirmasi bahwa tidak ada upaya panic selling. Reaksi satu arah berupa arus menjual saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian tidak terjadi di pasar kita," ujar Hasan Fawzi dalam paparannya di Gedung BEI, Rabu (13/5/2026).

Lebih lanjut, Hasan membedah valuasi pasar saat ini melalui rasio harga terhadap laba atau Price Earnings Ratio (PER) IHSG. Saat ini, tingkat PER pasar modal Indonesia berada di level 16 kali.

Angka ini tercatat jauh di bawah posisi saat pasar mencapai all-time high pada pertengahan Januari lalu.

Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

Bahkan, secara peer regional, rata-rata PER saham di bursa Indonesia kini lebih rendah dibandingkan bursa-bursa negara tetangga.

"PER IHSG kita sekarang sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari sekarang bahkan secara peer regional tingkat rata-rata pair saham-saham kita sudah ada di bawah pair rata-rata bursa-bursa lainnya sekarang tingkatnya di level 16 kali," katanya.

Dengan kondisi tersebut, OJK melihat adanya peluang bagi para pelaku pasar. Hasan mengimbau investor untuk tetap tenang dan mulai memanfaatkan momentum ini guna masuk kembali ke pasar secara selektif.

Baca Juga: Pasar Panik Gegara Rebalancing, IHSG Ambles 1,81% di Sesi I

Investor disarankan untuk memilih saham-saham dengan prospek kinerja yang solid dan fundamental yang kuat untuk jangka panjang.

"Kami berharap para investor kita secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif dapat terus melakukan perbaikan kinerja dari waktu-waktu," jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, OJK berkomitmen akan terus bersinergi dengan seluruh Self-Regulatory Organization (SRO), mulai dari Bursa Efek Indonesia (BEI), KPEI, hingga KSEI, untuk memantau perkembangan pasar secara real-time.

Pengawasan ketat ini dilakukan demi memastikan stabilitas pasar modal nasional tetap terjaga dan perlindungan terhadap investor tetap menjadi prioritas utama di tengah dinamika pasar yang terus berkembang.

Load More