- IHSG anjlok 26,45% sejak awal tahun ke level 6.434,35 akibat sentimen negatif global.
- Menkeu Purbaya optimistis IHSG tetap mampu tembus level 10.000 pada tahun ini.
- Pemerintah fokus menjaga fundamental ekonomi nasional dibanding intervensi IHSG.
Suara.com - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menghadapi tekanan hebat sepanjang tahun ini. Berdasarkan data perdagangan terbaru pada Senin (18/5) pukul 10.41 WIB, IHSG terperosok ke level 6.434,35, ambles hingga 26,45 persen jika dihitung sejak awal tahun (year-to-date).
Tekanan jual yang masif ini bahkan sempat membawa indeks menyentuh level terendahnya dalam 52 minggu terakhir di posisi 6.425,95. Angka ini berbanding terbalik dari masa kejayaannya ketika IHSG sempat bertengger di level tertinggi 9.174,47. Pada perdagangan hari ini, IHSG dibuka di level 6.628,98 dan bergerak di rentang 6.425,95 hingga 6.631,28, setelah ditutup di level 6.723,32 pada hari sebelumnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap memasang sikap optimistis. Menkeu meyakini bahwa IHSG tetap memiliki taji untuk menembus level psikologis 10.000 pada tahun ini.
Menurut Purbaya, koreksi tajam yang dialami IHSG saat ini murni disebabkan oleh hantaman sentimen negatif dari perekonomian global, bukan karena faktor domestik. Ia menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini masih sangat kokoh.
"Kalau ekonominya bagus, nanti (IHSG) naik cepat. Makanya fokus saya adalah jaga itu (ekonomi), bukan jaga IHSG. Karena IHSG akan menyesuaikan secara otomatis ke fundamental ekonominya," ujar Purbaya, Jumat, (24/4/2026).
Pemerintah memilih untuk tidak panik dengan fluktuasi harian pasar saham dan lebih memilih fokus menstabilkan sektor riil serta makroekonomi nasional. Purbaya percaya, begitu fundamental ekonomi domestik semakin terbukti resilien, kepercayaan investor akan kembali dan mendongkrak IHSG melesat ke zona hijau.
Sebelumnya, sebagai gambaran volatilitas pasar, pada perdagangan Jumat (24/4) yang lalu, IHSG ditutup jatuh 3,38 persen (249,12 poin) ke posisi 7.129,49. Kejatuhan ini juga menyeret indeks saham-saham unggulan LQ45 yang merosot 3,51 persen ke level 690,76. Kini, pelaku pasar terus mencermati langkah strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah badai ketidakpastian global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
1 Dollar USD Hari Ini Berapa Rupiah? Geger Ucapan Prabowo soal Orang Desa Tak Pakai Dolar
-
IHSG Longsor Lebih dari 4%, Sentuh Level Terendah Baru dalam 52 Minggu!
-
Beras Murah Naik Tajam, Harga Minyakita dan Cabai Bikin Emak-Emak Menjerit
-
Mudah dan Cepat, JKN Bantu Amalia Sehat
-
Dolar AS Menggila, Rupiah Tersungkur ke Level Rp17.658
-
IHSG Langsung Tersungkur Setelah Libur Panjang, DSSA Kena ARB
-
Emas Antam Lagi Nyungsep, Hari Ini Dibanderol Rp 2.764.000/Gram
-
Tabel Angsuran KUR BRI Terbaru 2026, Cicilan 12 Sampai 60 Bulan
-
Upaya Damai AS - Iran Mandek, Harga Minyak Dunia Naik Kembali
-
Produk Tembakau Alternatif Makin Dilirik, Akademisi Bicara Soal Harm Reduction