Bisnis / Keuangan
Senin, 18 Mei 2026 | 11:04 WIB
Presiden Prabowo Subianto
Baca 10 detik
  • Nilai tukar rupiah melemah pada 18 Mei 2026 akibat tekanan ekonomi global.
  • Presiden Prabowo menyatakan pelemahan dolar tidak berdampak langsung bagi masyarakat desa karena transaksi menggunakan mata uang rupiah.
  • Pernyataan tersebut menuai kritik karena kenaikan dolar tetap memicu inflasi dan meningkatkan biaya produksi barang impor domestik.

Suara.com - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah (IDR) kembali menjadi sorotan utama masyarakat Indonesia. Per hari ini, Senin 18 Mei 2026, 1 USD setara dengan sekitar Rp17.500 hingga Rp17.600. Angka ini terus berfluktuasi, dengan rupiah sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS, tertinggi sejak krisis moneter 1997-1998.

Menurut data dari berbagai Xe.com dan Wise, kurs tengah berada di kisaran Rp17.501 hingga Rp17.622 per dolar. Di pasar spot, nilai ini mencerminkan tekanan global terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, akibat suku bunga Fed yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik.

Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang bergantung pada barang impor, angka ini bukan sekadar statistik—melainkan realitas yang memengaruhi harga sehari-hari.

Ucapan Prabowo yang Menghebohkan

Di tengah kekhawatiran publik atas pelemahan rupiah, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan yang langsung viral. Hal ini diungkapkan saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada Sabtu 16 Mei 2026.

Prabowo berkata dengan santai: “Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok, ya kan?”

Prabowo menambahkan bahwa pangan dan energi Indonesia masih aman, berbeda dengan banyak negara lain yang sedang panik. Ia berusaha menenangkan masyarakat dengan menyatakan bahwa fluktuasi dolar tidak langsung berdampak pada kehidupan warga desa yang bertransaksi menggunakan rupiah sehari-hari.

Namun, ucapan tersebut justru memicu geger dan banjir kritik di media sosial serta dari kalangan ekonom. Banyak yang menilai pernyataan itu terlalu simplistis dan mengabaikan dampak tidak langsung dari pelemahan rupiah.

Mengapa Pernyataan Prabowo Kontroversial?

Baca Juga: DPR Sebut Pernyataan Prabowo soal 'Rakyat di Desa Tak Pakai Dolar' untuk Menenangkan Masyarakat

Kritikus berargumen bahwa meskipun warga desa tidak bertransaksi langsung dengan dolar di warung atau sawah, mereka tetap terdampak melalui rantai pasok ekonomi.

Indonesia masih sangat bergantung pada impor, terutama untuk bahan pangan strategis seperti kedelai (sekitar 90 persen masih impor), gandum, pupuk, hingga suku cadang peralatan pertanian.

Ketika dolar naik, biaya impor melonjak, yang akhirnya mendorong inflasi dan kenaikan harga barang di tingkat konsumen—termasuk di desa.

Ekonom seperti Syafruddin Karimi dari Universitas Andalas dan peneliti LPEM FEB UI menyoroti bahwa petani yang menjual hasil panen juga merasakan efek domino: harga input naik, daya beli turun, dan inflasi pangan menggerus pendapatan.

Di sisi lain, pendukung Prabowo melihat pernyataan itu sebagai retorika populis yang efektif untuk menenangkan masyarakat bawah. Mereka berpendapat fokus pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas pangan dan energi domestik, sehingga warga desa tetap bisa bertahan meski kurs rupiah bergejolak.

Prabowo juga menekankan bahwa Indonesia mendapat “karunia” dari Tuhan berupa sumber daya alam yang melimpah.

Load More