- Ekonom CELIOS nilai badan ekspor mirip pola BPPC era Orde Baru.
- Skema ekspor terpusat dinilai rawan monopoli dan rente negara.
- Rumor badan ekspor disebut picu kekhawatiran investor dan IHSG melemah.
Suara.com - Rencana pemerintah membentuk badan ekspor nasional menuai kritik tajam dari kalangan ekonom. Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara menilai skema tersebut berpotensi mengulang pola tata kelola ekonomi era Orde Baru yang sarat monopoli dan rente.
Bhima menyoroti rumor pembentukan badan ekspor komoditas yang disebut akan diumumkan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR di Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Badan itu dikabarkan bakal mengendalikan ekspor komoditas strategis seperti batu bara, minyak kelapa sawit, hingga hasil tambang.
Menurut Bhima, mekanisme tersebut mengingatkannya pada pola perdagangan cengkeh melalui BPPC pada era Orde Baru yang kala itu identik dengan dominasi negara dan kelompok tertentu.
“Ini sebenarnya mengulang BPPC cengkeh era Tommy Soeharto dulu zaman Orde Baru. Semua ekspor mau dipusatkan, dikendalikan pada trader yang dikuasai negara,” kata Bhima kepada Suara.com, Senin (19/5/2026).
Ia menilai narasi yang dibangun pemerintah memang terdengar positif, mulai dari peningkatan nilai tambah ekspor hingga dorongan kemandirian energi nasional. Namun, di balik itu, Bhima melihat adanya potensi perpindahan keuntungan dari sektor swasta ke lembaga yang dikendalikan negara.
“Seolah untuk meningkatkan nilai ekspor dan manfaat bagi negara. Tapi sebenarnya ini rente. Rentenya ingin diamankan oleh negara,” ujarnya.
Bhima juga mempertanyakan kapasitas dan tata kelola lembaga yang nantinya mengelola ekspor satu pintu tersebut. Ia menilai belum ada jaminan keuntungan yang diambil negara benar-benar akan kembali kepada masyarakat.
“Pertanyaannya, yang ngurus kompeten atau tidak? Dan apa jaminan margin yang selama ini dinikmati swasta lalu dinikmati pemerintah untuk kesejahteraan rakyat? Enggak ada,” katanya.
Ia bahkan menyinggung tata kelola lembaga investasi negara yang selama ini menjadi sorotan publik. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memperbesar kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Baca Juga: CELIOS: Pemerintah Terlalu Sibuk Jaga Narasi Positif Ekonomi
“Danantara aja begitu, apalagi ini,” ucap Bhima.
Lebih jauh, Bhima menilai kebijakan yang terlalu dominan menempatkan negara sebagai pemain utama ekonomi dapat memicu ketakutan di kalangan investor dan pelaku usaha. Ia menyebut Indonesia berisiko bergerak menuju praktik state capitalism atau kapitalisme negara.
“State capitalism ini bukan hal yang bagus. Persaingan usahanya jadi bermasalah,” ujarnya.
Bhima mengingatkan pemerintah agar berhati-hati agar tidak mengulangi kegagalan model badan terpusat seperti BPPC yang menurutnya pernah berujung pada krisis ekonomi.
Sebelumnya, rumor pembentukan badan ekspor komoditas disebut turut memicu kekhawatiran pasar dan menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir. Dalam skema yang beredar, seluruh perusahaan komoditas diwajibkan menjual produknya melalui badan ekspor tersebut. Hingga kini belum ada kepastian apakah lembaga itu akan berada di bawah Danantara atau berdiri secara terpisah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Novel Bamukmin Diisukan Jadi Komisaris, Website PT Hotel Indonesia Natour Hilang
-
PLN Bakal Sulap 802 Km Tol Jasa Marga Jadi Ladang Energi Surya
-
Kasus Penipuan Keuangan Tembus 579 Ribu, Bank dan Fintech Diminta Beralih ke AI
-
Komisi Ojol Dipangkas Jadi 8%, Ekonom: Belum Tentu Bikin Driver Lebih Sejahtera
-
Dugaan Cuci Uang Emas Ilegal Diusut, Modusnya Samarkan Hasil Tambang Tanpa Izin
-
Rekam Jejak Novel Bamukmin, Eks FPI yang Diisukan Jadi Komisaris BUMN
-
Rupiah Menguat, Tapi Masih Betah di Level Rp17.900 per Dolar AS
-
Harga Pertamax Harusnya Rp13.700, Ekonom: Ada Upaya Pertamina Pulihkan Margin
-
Purbaya Ngeluh Bawahannya Lelet Urus Aset Negara, Singgung Kasus BLBI
-
Nyaris 10.000 Karyawan Tokopedia Kena PHK Massal, Bermula dari Akusisi Tiktok