- Bank Indonesia melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas tumbuh sebesar 9,2 persen pada April 2026.
- Pertumbuhan uang beredar tersebut mengalami perlambatan dibandingkan capaian bulan Maret 2026 yang tercatat sebesar 9,7 persen secara tahunan.
- Kondisi likuiditas pada April 2026 dipengaruhi oleh perkembangan tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta peningkatan penyaluran kredit perbankan.
Suara.com - Bank Indonesia melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) melambat pada April 2026.
Direktur Eksekutif Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan posisi M2 pada April 2026 tercatat sebesar Rp 10.253,7 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 9,7 persen yoy.
"Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 13,6 persen yoy dan uang kuasi sebesar 4,7 persen yoy," ujarnya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Sementara itu, perkembangan M2 pada April 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit. Tagihan bersih kepada pemerintah tumbuh sebesar 38,6 persen yoy, setelah pada Maret 2026 tumbuh 39,1 persen yoy.
"Penyaluran kredit pada April 2026 tumbuh sebesar 9,4 persen yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 8,9 persen yoy," jelasnya.
Selain itu, uang kartal yang beredar di masyarakat pada Oktober 2024 tercatat sebesar Rp 970,1 triliun atau tumbuh 12,4 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan September 2024 sebesar 10,6 persen yoy.
Sementara itu, tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu dengan pangsa 46,3 persen terhadap M1 tercatat sebesar Rp 2.324,5 triliun pada Oktober 2024 atau tumbuh 6,0 persen yoy. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.
"Giro rupiah tercatat sebesar Rp 1.727,6 triliun atau tumbuh sebesar 5,7 persen yoy, setelah tumbuh sebesar 6,1 persen yoy pada bulan sebelumnya," jelasnya.
Pada Oktober 2024, uang kuasi dengan pangsa 43,5 persen dari M2 tercatat sebesar Rp 3.946,5 triliun atau tumbuh 4,2 persen yoy, setelah sebelumnya tumbuh 5,3 persen yoy pada September 2024.
Baca Juga: BI Minta Publik Tak Borong Dolar, saat Masyarakat Ramai-ramai Timbun Valas di Bank
Adapun berdasarkan komponen uang kuasi, simpanan berjangka dan tabungan lainnya masing-masing tumbuh sebesar 4,6 persen yoy dan 4,9 persen yoy. Sementara itu, giro valuta asing tumbuh sebesar 2,0 persen yoy.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Perkuat Layanan Maritim Energi Nasional, PTK Jalankan Kerja Sama STS Proyek FAME 2026
-
Bukan Harga, Konsumen RI Lebih Pilih Respon Cepat Saat Belanja
-
Program CSR Berdampak Positif, Pertamina Trans Kontinental Raih Indonesia Penghargaan Best CSR 2026
-
Pertamina Gandeng ERIA Percepat Pengembangan Transisi Energi Berkelanjutan
-
Dony Oskaria Jewer Manajemen PTPN Buntut Kasus Kakek Mujiran
-
Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Rampung, Harga Minyak Melandai
-
Listrik Sumatera Padam, Begini Cara Ajukan Kompensasi Pelanggan PLN
-
Penerimaan Pajak Moncer di April 2026, Purbaya Klaim Berkat Coretax
-
Purbaya Akui Aturan DHE SDA Molor karena Banyak Pengusaha Lobi Istana
-
Profil Dirut PLN Disorot Pasca Blackout Sumatra, Sosoknya Anak Jenderal TNI