Bisnis / Keuangan
Minggu, 24 Mei 2026 | 17:46 WIB
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai nilai tukar rupiah sulit alami penurunan ke level Rp 16.000. [Suara.com/Rina Anggraeni].
Baca 10 detik
  • Ekonom Bank Permata memprediksi pelemahan nilai tukar rupiah akan terus berlanjut di atas level Rp 17.000 hingga pekan depan.
  • Peningkatan permintaan dolar AS pada kuartal kedua 2026 dipicu oleh kebutuhan pembayaran dividen emiten serta musim keberangkatan haji.
  • Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin guna menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan tekanan arus modal keluar.

Suara.com - Ekonom Bank Permata Josua Pardede meramal pelemahan rupiah masih akan terjadi hingga pekan depan. Pelemahan rupiah ini imbas dari investor yang masih menunggu atau wait and see dalam melihat ekonomi Indonesia. 

Josua menjelaskan, mengatakan rupiah masih belum bisa turun ke level Rp 16.000 per dolar AS. Tentunya mata uang Garuda masih akan lama bertengger di atas Rp 17.000.

"Kalau melihat kondisi seperti saat ini, kami melihat bahwa rupiah masih di level Rp 17.000-an, hopefully masih di bawah Rp 17.500 per dolar AS. Harapannya kembali lagi ini tidak sampai ekspektasi liar itu terjadi.  Kalau kita melihat secara teori, tadi nilai tukar riil efektifnya (real effective exchange rate) rupiah dalam kondisi normal itu mestinya kita di bawah Rp 17.000 per dolar AS,” ujarnya  dalam acara Pelatihan Wartawan yang digelar Bank Indonesia, dikutip pada Minggu (24/5/2026). 

nilai tukar rupiah akan sulit turun ke level Rp 16.000. [Antara]

Josua melanjutkan, permintaan dolar AS di pasar domestik memang meningkat pada kuartal II tahun 2026. Ini disebabkan pembayaran dividen emiten kepada pemegang saham hingga kebutuhan valuta asing untuk jemaah haji.

"Jadi itu sangat wajar bahwa akan ada peningkatan permintaan dolar di kuartal dua ini. Itu mau di tahun mana saja itu nggak akan bisa mundur. Sama juga bertepatan juga dengan tadi sampaikan  musim haji. Makanya memang kita juga perlu menggalakan tadi namanya LCT, jadi saya juga menyuarakan juga LCT, " bebernya.

Di sisi lain, Josua menilai, keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Salah satu alasan kenaikan ini adalah untuk mengendalikan pergerakan rupiah yang sempat berada di level Rp 17.700 di pekan ini

"Jadi, langkah BI ini bukan sekadar penyesuaian biasa, melainkan langkah yang lebih agresif untuk memulihkan kepercayaan pasar dan memberi sinyal bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama," imbuhnya. 

Menurut Josua, kenaikan suku bunga ini masih mampu menahan tekanan rupiah dalam jangka pendek, tetapi belum cukup untuk mengendalikan rupiah secara jangka panjang jika tidak didukung perbaikan faktor mendasar.

Artinya kenaikan BI Rate membuat aset rupiah lebih menarik, membantu menahan arus keluar modal, mengurangi tekanan spekulatif di pasar valas, dan memperkuat sinyal bahwa BI tidak membiarkan rupiah melemah terlalu jauh.

Baca Juga: Bantah Krisis 1998 Terulang, Purbaya: Saya Pinteran Dikit dari IMF

"Ini merupakan langkah pro-stabilitas untuk memperkuat rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran. Namun, nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh suku bunga. Rupiah juga dipengaruhi harga minyak, kebutuhan dolar untuk impor energi, pembayaran dividen dan utang luar negeri, arus modal asing, kredibilitas fiskal, serta persepsi investor terhadap arah kebijakan pemerintah," pungkasnya.

Load More