Bisnis / Energi
Selasa, 26 Mei 2026 | 15:14 WIB
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) masih menjadi tulang punggung produksi minyak dan gas nasional sepanjang 2025. Anak usaha hulu migas milik PT Pertamina (Persero) itu tercatat menyumbang 65 persen lifting minyak nasional dan 35 persen produksi gas nasional. Foto ist.
Baca 10 detik
  • PHE produksi 1,332 juta BOEPD, kuasai mayoritas lifting migas RI.
  • Produksi minyak alami terancam turun 24 persen per tahun.
  • PHE siapkan 900 sumur baru dan eksplorasi blok migas anyar.

Suara.com - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) masih menjadi tulang punggung produksi minyak dan gas nasional sepanjang 2025. Anak usaha hulu migas milik PT Pertamina (Persero) itu tercatat menyumbang 65 persen lifting minyak nasional dan 35 persen produksi gas nasional.

Direktur Utama PHE Awang Lazuardi mengungkapkan total produksi migas perseroan sepanjang 2025 mencapai 1,332 juta barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/BOEPD). Produksi tersebut berasal dari blok migas domestik maupun internasional.

Untuk produksi minyak, PHE mencatatkan output sebesar 396 ribu barel per hari dari lapangan domestik dan 160 ribu barel per hari dari aset internasional. Sementara di sektor gas, total produksi mencapai 2.757 MMSCFD, yang terdiri dari 2.451 MMSCFD produksi dalam negeri dan 306 MMSCFD dari luar negeri.

“Maka di tahun 2025 produksi baik yang domestik maupun yang internasional, adalah mencapai 1.332.000 barrel oil equivalent per day,” ujar Awang dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR, Selasa (26/5/2026).

Meski masih mendominasi produksi migas nasional, PHE menghadapi tantangan besar berupa penurunan produksi alamiah atau natural decline di lapangan migas yang sudah menua. Awang menyebut, tanpa upaya tambahan, produksi minyak PHE berpotensi turun 24 persen per tahun, sementara produksi gas bisa menyusut 21 persen.

“Artinya, jika kita tidak melakukan apa-apa atau tidak ada effort menahan decline, maka produksi kita secara natural setiap tahun untuk minyak akan turun 24 persen sedangkan untuk gas akan turun sebesar 21 persen,” katanya.

Untuk menahan laju penurunan tersebut, PHE menyiapkan sejumlah strategi agresif. Perseroan menargetkan pengeboran sekitar 900 sumur baru sepanjang tahun ini. Selain itu, PHE juga akan melakukan hampir 1.300 aktivitas work over atau perawatan sumur serta lebih dari 37 ribu intervensi sumur.

Tak hanya itu, PHE juga memaksimalkan produksi dari lapangan tua melalui teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), termasuk metode injeksi uap dan kimia guna meningkatkan perolehan minyak.

Di sisi eksplorasi, PHE memperluas portofolio dengan mengamankan sejumlah wilayah kerja baru selama periode 2022-2025. Beberapa blok yang berhasil diperoleh antara lain Blok Pinayan, Lavender, dan Bobara.

Baca Juga: Perang AS-Iran Bikin Pertamina Kehilangan 100.000 Barel Minyak

Menurut Awang, blok-blok baru tersebut diharapkan menjadi sumber pertumbuhan produksi migas PHE di masa depan sekaligus menjadi penopang ketahanan energi nasional.

“Ini akan menjadi nafas kita ke depan. Ini akan menjadi game changer kita apabila kita melakukan eksplorasi di sini, dan memberikan hasil yang cukup signifikan,” ujarnya.

Load More