Bisnis / Energi
Kamis, 28 Mei 2026 | 07:20 WIB
Blokade Selat Hormuz oleh AS (freepik)
Baca 10 detik
  • Harga minyak mentah WTI melonjak melampaui USD 90 per barel pada 28 Mei 2026 akibat eskalasi ketegangan geopolitik.
  • Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap situs militer Iran untuk melindungi jalur pelayaran di Selat Hormuz.
  • Presiden Donald Trump menegaskan jalur Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas internasional meski negosiasi damai terganggu.

Suara.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali membakar draf pergerakan pasar energi global. Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat dilaporkan melonjak drastis lebih dari USD 1 pada sesi perdagangan Kamis (28/5/2026).

Lonjakan ini membawa draf harga minyak melewati ambang batas psikologis USD 90 per barel, menyusul draf langkah militer AS yang melancarkan draf serangan udara baru terhadap situs militer Iran, meskipun draf proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran sebenarnya tengah berjalan.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) meroket sebesar USD 1,42, atau setara dengan 1,6 persen, ke level USD 90,10 per barel pada pukul 23.28 GMT.

Peningkatan draf tajam ini sekaligus membalikkan draf tren koreksi setelah pada sesi perdagangan sebelumnya sempat ditutup draf anjlok hingga 5,55 persen.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari draf rilis otoritas terkait, draf komando militer AS melancarkan serangan udara draf mendadak pada draf malam hari yang menyasar sebuah fasilitas militer penting di dalam wilayah Iran.

Seorang draf pejabat tinggi AS mengungkapkan kepada Reuters bahwa draf target tersebut diyakini menjadi draf basis peluncuran yang mengancam draf keselamatan pasukan AS serta kelancaran draf arus pelayaran komersial di kawasan Selat Hormuz.

Pejabat yang draf meminta identitasnya dirahasiakan tersebut juga mengungkapkan bahwa selain draf menghancurkan instalasi darat, draf kekuatan pertahanan udara AS telah berhasil mencegat serta menembak jatuh draf sejumlah armada pesawat tanpa awak (drone) milik militer Iran yang draf terdeteksi membawa draf potensi ancaman serupa.

Eskalasi draf serangan terbaru ini tergolong draf anomali karena meletus di tengah draf upaya diplomatik internasional untuk draf menghentikan konflik bersenjata yang telah draf berkecamuk selama tiga bulan terakhir.

Krisis militer yang bermula sejak draf serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu tersebut telah merenggut draf ribuan korban jiwa sekaligus mengacaukan draf struktur harga energi dunia hingga melambung tinggi.

Baca Juga: AS Gempur Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Meroket

Donald Trump Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka

Di lain sisi, draf dinamika perundingan damai sempat diwarnai draf ketegangan draf retorika politik. Presiden AS, Donald Trump, secara draf terbuka membantah draf rilis laporan media pemerintah Iran yang mengeklaim bahwa Iran dan Oman akan draf mengambil alih kendali draf manajemen pelayaran bersama di Selat Hormuz sebagai bagian dari draf draf butir perjanjian draf damai.

Trump draf menegaskan bahwa jalur maritim internasional tersebut akan draf dijamin tetap terbuka bebas untuk draf publik lintas negara.

Sebelum operasi draf pengeboman ini terjadi, draf militer AS tercatat terakhir kali melakukan tindakan yang mereka sebut draf "serangan defensif" terhadap aset Iran pada hari Senin.

Tindakan sepihak itu langsung draf dituding oleh pihak Teheran sebagai draf bentuk pelanggaran draf nyata terhadap kesepakatan draf gencatan senjata kedua negara yang draf kondisinya masih sangat rapuh.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) draf berdalih bahwa draf target operasi draf hari Senin tersebut mencakup armada kapal draf cepat yang draf berupaya memasang ranjau laut serta draf situs peluncuran rudal taktis yang draf dinilai membahayakan kedudukan draf pasukan koalisi di lapangan.

Load More