- Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran per Juni 2026 memicu lonjakan harga minyak serta risiko inflasi global.
- Sektor logam menguat signifikan karena permintaan sektor teknologi, sementara harga emas terkoreksi akibat kebijakan suku bunga tinggi AS.
- BNI Sekuritas tetap memberikan peringkat Overweight pada komoditas unggulan meski terdapat ketidakpastian regulasi dan dinamika pasar di Indonesia.
Suara.com - Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran terus menjadi motor penggerak utama volatilitas pasar keuangan dan komoditas global.
Berdasarkan analisis teranyar dari BNI Sekuritas per Juni 2026, konflik berkepanjangan tersebut berimbas langsung pada tingginya harga energi dunia serta memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman (safe-haven).
Dampak paling nyata terlihat pada harga minyak mentah jenis Brent yang mencatatkan rata-rata di level US$103,8 per barel, atau terkerek naik 1 persen secara bulanan (month-on-month/mom).
Harga minyak bahkan sempat menyentuh puncaknya di angka US$114,4 per barel sebelum akhirnya mengalami moderasi menjelang penutupan bulan Mei.
Kondisi ini kian mempertebal risiko inflasi global yang dipicu oleh lonjakan biaya produksi (cost-push inflation), sekaligus mempersempit ruang bagi bank-bank sentral dunia untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter.Dinamika Batu Bara, Logam, dan Emas.
Di tengah lonjakan harga minyak, pergerakan komoditas lain terpantau bervariasi.
- Harga batu bara Newcastle melunak sebesar 1,8 persen ke level US$132,3 per ton akibat penurunan permintaan untuk kategori premium high-CV. Sebaliknya, indeks batu bara domestik Indonesia justru menguat, ditopang oleh tingkat permintaan regional yang jauh lebih tangguh.
- Sektor logam kompak menunjukkan penguatan, dipimpin oleh timah yang melesat 9,7 persen mom, disusul nikel naik 5,3 persen mom, dan tembaga naik 4,8 persen mom. Penguatan ini dipicu oleh ketatnya pasokan global, masifnya permintaan dari sektor kecerdasan buatan (AI) serta semikonduktor, hingga adanya rencana perubahan skema royalti yang diusulkan oleh pemerintah Indonesia.
- Harga logam mulia justru terkoreksi 2,7 persen akibat tertekan oleh data inflasi AS yang tetap kuat, yang memicu ekspektasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan menahan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Meskipun ketidakpastian regulasi terkait jendela ekspor, potensi pengenaan pajak, dan kenaikan royalti di Indonesia masih membayangi, BNI Sekuritas tetap mempertahankan peringkat Overweight (OW) untuk jangka waktu 3 bulan maupun 12 bulan ke depan.
Komoditas pilihan utama jatuh pada emas, aluminium, batu bara, dan nikel. Peluang persetujuan tambahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada periode Juli-Agustus 2026 diprediksi akan menjadi katalis positif bagi emiten penambang.Ide
Perdagangan Saham (Trading Idea) 2 Juni 2026
Baca Juga: IHSG Loyo, Investor Asing Kabur Massal Rp53 Triliun dari Bursa Saham
Menyikapi dinamika pasar tersebut, Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, CFP, merilis panduan transaksi saham harian:
- BBRI (Speculative Buy): Area beli disarankan pada rentang 2930-2950, dengan batas cutloss jika bergerak di bawah 2900. Target keuntungan terdekat dipatok pada level 3000-3030.
- AKRA (Speculative Buy): Area beli di rentang 1230-1235, dengan batas cutloss di bawah 1220. Target terdekat berada di area 1260-1300.
- TLKM (Speculative Buy): Area beli di kisaran 3020-3030, dengan batas cutloss di bawah 3000. Target harga terdekat berada di 3090-3120.
- CUAN (Speculative Buy): Area beli dipatok pada level 630, dengan batas cutloss di bawah 615. Target terdekat di kisaran 670-700.
- PTBA (Buy on Weakness): Area beli ideal di posisi 2730-2780, dengan batas cutloss di bawah 2700. Target harga terdekat berada di 2820-2860.
- MINA (Buy on Weakness): Area beli di rentang 326-330, dengan batas cutloss di bawah 324. Target terdekat ditargetkan pada level 344-354.
Selain saham-saham di atas, BNI Sekuritas juga memasukkan beberapa emiten ke dalam radar pantauan (watchlist) harian yang menarik untuk dicermati pergerakannya, antara lain UNTR, BNBR, RAJA, BBCA, dan TPIA.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif berdasarkan rangkuman riset pasar dari BNI Sekuritas. Perubahan harga komoditas dan saham bergerak dinamis di pasar instrumen keuangan. Keputusan transaksi, potensi keuntungan, maupun risiko kerugian sepenuhnya menjadi tanggung jawab mandiri setiap investor.
Berita Terkait
-
Kemendag Ungkap Penyebab Koreksi Harga Emas pada Awal Juni 2026
-
Prabowo Soroti Ketimpangan Ekonomi: RI Kaya Nikel hingga Emas, Rakyat Jangan Hanya Jadi Penonton
-
Khianati Gencatan Senjata AS, Penjajah Israel Minta Restu Bom Ibu Kota Lebanon
-
5 Warga Biak Kena Ledakan Bom, Diduga Peninggalan Perang Dunia II
-
Harga Emas Antam Tetap Dibanderol Rp 2.799.000/Gram Hari Ini
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Neraca Pembayaran Indonesia Defisit USD9,1 Miliar, Terburuk Sejak Pandemi
-
Ekspansi Layanan Produk Ekosistem Bisnis Digital Utilitas Kian Diminati
-
Rute Transjakarta Dialihkan Imbas Kebakaran Kemayoran, Cek Jalur Alternatifnya
-
Jangan Asal Investasi! Pahami 3 Hal Ini Sebelum Uang Anda Ludes di Pasar Berjangka
-
Perkuat PT GMM, Bulog Fokus Jaga Kepercayaan dan Kemitraan dengan Petani Tebu Blora
-
Influencer Tak Lagi Dapat PPh UMKM 0,5 Persen, Purbaya: Tak Ada Lapangan Kerja
-
PT GMM Pastikan Penyampaian Aspirasi Petani Tebu di Blora Berjalan Tertib dan Kondusif
-
Profil PT MMS, Perusahaan yang Dianggap Bandel di Industri Sawit
-
5 Asosiasi Pengusaha Buka Suara soal DSI, Ingatkan Risiko Ganggu Ekspor SDA RI
-
Tak Miliki Bisnis Sawit, Ini Profil PT MMSGI