- IHSG merosot 4,97 persen ke level 5.887 pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026 akibat aksi jual besar-besaran.
- Pelemahan dipicu sentimen negatif peringkat Danantara, depresiasi nilai tukar rupiah, serta kenaikan harga minyak dunia yang memicu inflasi.
- Investor menanti evaluasi MSCI pada Juni 2026 terkait klasifikasi pasar saham Indonesia dan transparansi likuiditas emiten di bursa.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba ambruk hampir menyentuh 5 persen pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 11.54 WIB, IHSG merosot 4,97 persen di level 5.887. Padahal IHSG saat pembukaan sempat mengalami penguatan.
Phintraco Sekuritas menilai terdapat sejumlah faktor yang memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham domestik, mulai dari sentimen terkait Danantara, pelemahan rupiah, lonjakan harga minyak dunia hingga kekhawatiran terhadap hasil evaluasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.
Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah keputusan Moody's Ratings yang menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk Danantara Investment Management.
"Selain itu, nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Mata uang Garuda melemah hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS)," tulis Phintraco Sekuritas seperti dikutip, Rabu (3/6/2026).
Harga Minyak Kembali Naik
Menurut Phintraco Sekuritas, pelemahan rupiah tidak lepas dari kembali menguatnya harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta meningkatnya tekanan inflasi.
Belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor yang mendorong harga minyak kembali naik setelah sebelumnya sempat terkoreksi.
Kondisi tersebut menimbulkan kecemasan baru di pasar mengingat inflasi Indonesia pada Mei 2026 telah meningkat menjadi 3,08 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak saat Rupiah Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah
Meski inflasi masih berada dalam target Bank Indonesia sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen, pelaku pasar khawatir tekanan harga akan semakin besar apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu yang lama.
"Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, dikhawatirkan inflasi akan kembali meningkat. Sehingga potensi kenaikan BI Rate masih terbuka di tengah potensi kenaikan inflasi dan berlanjutnya depresiasi Rupiah. Tren kenaikan suku bunga berpotensi menjadi sentimen negatif bagi bursa saham," tulis Phintraco.
Sentimen MSCI
Di saat yang sama, investor juga mencermati agenda penting dari MSCI yang akan mengumumkan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review pada sekitar 18 Juni 2026 serta MSCI 2026 Annual Market Classification Review pada sekitar 23 Juni 2026.
Pengumuman tersebut dinilai penting karena akan menentukan penilaian akses pasar bagi investor internasional sekaligus klasifikasi pasar saham suatu negara, apakah tetap berstatus emerging market, naik menjadi developed market, atau justru turun ke kategori lain.
Pasar saat ini masih menunggu hasil evaluasi reformasi pasar modal Indonesia yang dilakukan MSCI. Sebelumnya, lembaga indeks global tersebut sempat menyampaikan kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan saham dan likuiditas sejumlah emiten di Indonesia.
MSCI bahkan membuka kemungkinan untuk meninjau kembali status Indonesia sebagai emerging market. Pada April 2026 lalu, MSCI memutuskan memperpanjang masa peninjauan hingga Juni 2026 sebelum mengambil keputusan final.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Escapism di Layar: Mengapa Konten Flexing Laku Keras di Media Sosial?
-
ASDP Percepat Digitalisasi 6 Pelabuhan Strategis, Face Recognition hingga One Gate System
-
Air PAM Macet Berbulan-bulan, Warga Pegadungan Rogoh Kocek Dua Kali demi Air Bersih
-
Mengapa Kita Begitu Bergantung pada Terigu yang Tidak Bisa Kita Tanam?
-
PFII Jangan Sampai Jadikan Bali Surga Para Penghindar Pajak
-
Bukan Jay Idzes, Rekannya di Sassuolo Resmi Direkrut Leeds United
-
Lewat Kerja Sama LoI Dengan KDEI, BRI Taipei Dorong Literasi Keuangan Pekerja Migran
-
Sinergi Dalam LoI, BRI Taipei dan KDEI Tingkatkan Akses Keuangan Pekerja Migran Indonesia
-
It Ends With Us, Novel yang Membuka Mata tentang Toxic Relationship
-
LoI Sinergi BRI Taipei Dengan KDEI: Berikan Literasi Keuangan Bagi Pekerja Migran Indonesia