Bisnis / Inspiratif
Rabu, 03 Juni 2026 | 18:08 WIB
Owner Habbie, Novita Anggraeni, ketika mengikuti program Muda BRILiaN 2024. (Dok. Habbie)
Baca 10 detik
  • Alumni Geografi UGM, Novita Anggraeni, sukses mendirikan perusahaan minyak telon merek Habbie sejak tahun 2022.
  • Bisnis produk perawatan bayi tersebut kini telah merambah pasar Asia Tenggara dan meraih berbagai penghargaan bergengsi.
  • Novita menerapkan kerangka berpikir strategis dan manajerial dari bangku kuliah untuk mengembangkan operasional serta pemasaran perusahaan.

“Kayak ngomongin ilmu perencanaan, itu kan basic managerial. Walaupun konteks di kuliahku wilayah, kalau sekarang perusahaan. Kalau di wilayah APBD, kalau di perusahaan ya akuntansi dan perpajakannya,” ungkap Novita.

Bagi Novita, pengalaman kuliah seharusnya tidak dipahami secara terlalu sempit. Sebab, dunia kerja dan bisnis sering kali membutuhkan kemampuan berpikir lintas disiplin.

“Tapi ya itu sih, sebenarnya hal-hal di perguruan tinggi nggak melulu yang saklek. Jadi framework-nya saja diambil, banyak hal bisa dipakai,” tuturnya.

Pernah Jadi Top 20 Pengusaha Muda BRILiaN

CEO Habbie, Novita Anggraeni, ketika mengikuti program Pengusaha Muda BRILiaN pada 2024. (Instagram/batusaphir)

Kemampuan Novita berbisnis dengan basic awalnya sebagai lulusan geografi turut diasah di program Pengusaha Muda BRILiaN (PMB) pada 2024, sebuah ajang inisiatif Bank BRI bersama Danantara untuk mengakselerasi UMKM Indonesia agar naik kelas.

Awalnya, Novita mengaku hanya ingin mencoba tantangan baru di tengah ribuan peserta yang mendaftar. Namun, tak disangka dirinya berhasil masuk sebagai salah satu dari Top 20 Pengusaha Muda BRILiaN dari sekitar 2.000 pendaftar.

Selama program berlangsung, para peserta menjalani proses inkubasi bisnis dengan berbagai kurikulum yang dirancang untuk memperkuat fondasi usaha, mulai dari pengelolaan perusahaan, strategi bisnis, hingga penyusunan laporan untuk investor.

"Jadi, PMB itu sebenarnya kita disuruh mengerjakan tugas ya, banyak banget, kayak capek banget gitu. Padahal kita enggak dibayar juga, tapi itu menjadi challenge diri sendiri, bisa tidak nih mengikuti alur begini saat pekerjaan sedang begitu," ungkap Novita.

"PMB lebih kayak untuk men-challenge diri. Oh ternyata bisa, bisa, bisa. Kan seminggu sekali," lanjutnya.

Baca Juga: Promo Alfamidi Akhir Pekan, Ada Hadiah Langsung Indomie Goreng Bagi Nasabah BRI

CEO Habbie, Novita Anggraeni, ketika mengikuti program Pengusaha Muda BRILiaN pada 2024. (Instagram/batusaphir)

Menurut Novita, materi yang diberikan sebenarnya merupakan hal-hal yang selama ini sudah dijalankan dalam bisnis sehari-hari. Namun, program tersebut membuat dirinya belajar menata perusahaan dengan sistem yang lebih rapi dan terstruktur.

"Awal-awal basic, lama-lama meningkat. Sebenarnya yang biasa kita lakuin. Cuma kita di perusahaan, karena perusahaan sendiri kadang bentuk-bentuk itu sesukaku," kata Novita.

"Format laporan misalnya, tantangannya tuh kayak gitu. Bikin laporan benar untuk investor seperti apa, penempatan orang seperti apa, menjawab tantangan umum gimana sih," imbuhnya.

Berkat keberhasilan Novita, Habbie berkesempatan untuk mengikuti BRI UMKM EXPO(RT) pada 2025 bersama UMKM-UMKM unggulan Indonesia lainnya. Di acara itu, berkesempatan melebarkan sayap lebih tinggi karena berpeluang bersua buyer-buyer dari luar negeri.

Prestasi yang diraih Novita dalam program Pengusaha Muda BRILiaN (PMB) pun mendapat apresiasi dari Koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta, Fiera Dwi Hapsari.

Menurut Fiera, keberhasilan Habbie menjadi salah satu peserta terbaik menjadi kebanggaan tersendiri bagi Yogyakarta.

Koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta, Fiera Dwi Hapsari, ketika ditemui di kantornya. (Suara.com/Irwan Febri)

"Kami senang tentunya ya, UMKM Jogja bisa masuk menjadi top di  situ. Mewakili juga dari region office, tentunya kami merasa bangga akan pencapaan itu," ujar Fiera.

Ia berharap keberhasilan Habbie tidak menjadi satu-satunya cerita sukses dari Yogyakarta. Rumah BUMN BRI ingin semakin banyak UMKM lokal yang berkembang dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

"Tapi di samping itu juga, kami ingin mengembangkan usaha-usaha lain selain Habbie, supaya banyak juga UMKM Jogja yang nantinya bisa sukses, masuk juga ke nominasi-nominasi lainnya," lanjut alumni UIN Sunan Kalijaga itu.

Fakultas Geografi UGM Ikut Bangga

Langkah berbeda yang ditempuh Novita yang membangun bisnis minyak telon hingga memasarkan lintas negara mendapatkan respons positif dari Fakultas Geografi UGM.

Wakil Dekan Fakultas Geografi, Dyah Rahmawati Hizbaron, turut bangga dengan pencapaian Novita. Ia bahkan merasa perlu mengundang sang alumni untuk berbagi pengalaman kepada mahasiswa.

Wakil Dekan Fakultas Geografi UGM, Dyah Rahmawati Hizbaron, ketika ditemui di ruang dekanat. (Suara.com/Irwan Febri)

"Terus terang kami sangat bangga kalau kita punya alumni seperti Mbak Novita. Kalau boleh punya kesempatan, Mbak Novita akan kami undang untuk berbicara di depan adik-adik mahasiswa," kata Dyah.

"Karena rutin setiap pembekalan wisuda kami mengundang alumni yang ibaratnya memberikan insight beliau kerja di bidang apa," imbuhnya.

Wanita yang akrab disapa Emma ini menjelaskan bahwa alumni Fakultas Geografi UGM mayoritas memiliki orientasi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun, diakui pula bahwa ada tren peralihan ke sektor swasta dalam lima tahun terakhir.

Tak sedikit yang mulai beralih ke sektor swasta, salah satunya Novita yang membangun Habbie. Sehingga dapat membuka pandangan mahasiswa bahwa lulusan geografi memiliki peluang karier yang luas, termasuk di dunia bisnis dan industri kreatif.

Ia pun menilai perjalanan bisnis Novita bersama Habbie bisa menjadi contoh bahwa lulusan geografi memiliki peluang karier yang jauh lebih luas dari anggapan kebanyakan orang.

"90 persen lulusan geografi orientasinya sebagai ASN. Tapi tren itu shifting di lima tahun terakhir, kami mulai menemui alumni-alumni bekerja di sektor sustainability," ungkap Emma.

"Sektor swasta yang bergerak bidang lingkungan dan dia menerapkan internasional standard, untuk menerapkan produk-produk dalam rantai keberlanjutan," lanjut alumni RijksUniversiteit of Groningen itu.

"Ini kan ada di banyak produk. Kayu, tekstil, dan banyak sekali. Ini ceruk baru yang tadi adik-adik mahasiswa perlu tahu juga, termasuk bisnis usaha Mbak Novita," tuturnya menambahkan.

Kisah Novita menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah tidak selalu membatasi langkah seseorang. Dengan cara berpikir yang tepat, keberanian mencoba hal baru, dan kemampuan melihat peluang, sebuah disiplin ilmu justru bisa menjadi bekal untuk melangkah ke banyak bidang yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Load More