- AS dan Israel sedang menyusun kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran untuk meredam krisis di Selat Hormuz.
- Kesepakatan tersebut mencakup pelonggaran sanksi ekonomi dan pencairan aset Iran sebagai imbalan atas penghentian blokade maritim global.
- Perjanjian taktis ini tidak menyelesaikan akar konflik utama seperti program nuklir dan rudal balistik milik negara Iran.
Suara.com - Operasi militer skala besar yang diluncurkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel awalnya dirancang untuk meruntuhkan rezim Republik Islam Iran. Namun, alih-alih tumbang, kedua belah pihak yang bertikai kini justru bergerak mendekati kesepakatan sementara.
Perjanjian ini diproyeksikan akan meninggalkan Iran dalam kondisi babak belur secara ekonomi, namun tidak sampai hancur total.
Berdasarkan rincian kesepakatan awal yang dibeberkan oleh sejumlah sumber yang familier dengan jalannya perundingan, Iran akan keluar dari perang ini dengan kondisi finansial yang porak-poranda serta basis industri militernya yang terdegradasi parah.
Harga minyak mentah merespon hal ini dengan penurunan tipis di angka US$95, sementara Brent di kisaran US$97.
Kendati demikian, dominasi kelompok garis keras Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) justru dinilai akan semakin tertancap kuat dalam konstelasi politik Teheran dibandingkan masa sebelum perang.
Sejumlah diplomat, pejabat, dan analis kawasan Timur Tengah menilai bahwa memorandum penghentian perang yang akan disepakati dalam waktu dekat ini bukanlah sebuah terobosan perdamaian yang abadi, melainkan hanya sebuah gencatan senjata jangka pendek.
Hasil akhir dari perundingan ini dipandang murni sebagai transaksi taktis demi membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, meredam tekanan ekonomi di pasar finansial global, serta memberikan ruang bagi Presiden AS Donald Trump untuk menarik diri secara politis dari perang, sembari menunda pembahasan isu-isu krusial yang lebih rumit di masa mendatang.
"Ada keberhasilan militer taktis yang luar biasa, namun sama sekali tidak ada keuntungan strategis yang fundamental. Tidak ada satu pun berkas masalah yang benar-benar telah diselesaikan," ujar Dennis Ross, mantan diplomat senior Amerika Serikat dalam analisisnya.
Sejak serangan udara bersama AS-Israel ditekankan ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu, Donald Trump menegaskan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk melenyapkan ancaman nyata dari program nuklir dan rudal balistik Iran. Namun, cetak biru memorandum baru yang bocor menunjukkan adanya kompromi yang sangat pragmatis.
Baca Juga: Disemprot Donald Trump, Benjamin Netanyahu Balik Melawan
Di bawah nota kesepahaman tersebut, Iran bersedia mencabut blokade maritim di Selat Hormuz—yang merupakan urat nadi pasokan minyak mentah global.
Sebagai imbalannya, Teheran akan diberikan pelonggaran sanksi ekonomi terbatas serta pencairan aset-aset keuangan mereka yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Bagi pejabat Iran, kesepakatan sempit ini dipandang sebagai strategi cerdas untuk membeli waktu, memulihkan stabilitas domestik, dan meredam gejolak ekonomi warga lokal tanpa harus menyerah pada isu kedaulatan yang sensitif.
Di sisi lain, Trump yang juga fokus pada persiapan Pemilihan Umum Paruh Waktu (Midterm Elections) Kongres AS pada November mendatang, membutuhkan pernyataan resmi yang dapat diklaim sebagai keberhasilan dalam menekan stok uranium kadar tinggi Iran.
Meskipun demikian, akar utama konflik sebenarnya tetap tidak tersentuh. Iran tetap menolak menghentikan program pengayaan uranium, Washington enggan memberikan jaminan keamanan, dan Israel tetap bersikap agresif terhadap musuh yang dianggap sebagai ancaman eksistensial tersebut.
Dua sumber regional mengungkapkan bahwa Trump kemungkinan besar hanya akan membawa pulang kesepakatan gencatan senjata berdurasi pendek dengan klausul nuklir yang multitafsir. Sementara itu, kendali atas Selat Hormuz dinilai akan tetap berada di tangan militer Teheran.
Berita Terkait
-
Disebut Orang Gila oleh Trump, Benjamin Netanyahu: Kami Tetap Sahabat
-
Lebanon Pilih Jalur Diplomasi untuk Akhiri Konflik dengan Israel
-
Penampakan Bandara Internasional Kuwait Luluh Lantak Dihantam Drone Iran
-
Donald Trump Beberkan Alasan Maki Benjamin Netanyahu Orang Gila
-
Strategi Bertahan di Tengah Rupiah yang Semakin Jatuh ke Jurang
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
Terkini
-
Wujud Swasembada Energi, Komisaris Pertamina Apresiasi Program TJSL Uma Palak Lestari di Denpasar
-
3 Cara Cek Kurs Rupiah ke Dolar, Bisa Dipantau Setiap Hari dari HP
-
Komitmen Pengurangan Emisi, BTN Perluas Program Bayar Angsuraanmu dengan Sampahmu hingga ke Kudus
-
Sentimen Damai Timur Tengah dan Pembatasan Wewenang Trump Redam Harga Minyak
-
Kabar Baik untuk Emak-Emak! Harga Cabai dan Bawang Merah Turun, Ini Daftar Lengkapnya
-
Rupiah Resmi Masuk Jurang ke Level Rp18.010 per Dolar AS, Pasar Menanti Langkah Bank Indonesia
-
IHSG Lanjutkan Pelemahan ke Level 5.800-an pada Kamis Pagi, Simak Saham-saham Ini
-
Rupiah Jeblok Rp18.000 per Dolar AS, Ekonomi 200 Juta WNI Dipertaruhkan
-
Harga Emas Antam Lagi Murah Dibanderol Rp 2,75 Juta per Gram
-
Rupiah Akhirnya Jebol ke Rp18.000, Purbaya Tak Mau Disalahkan