- Peneliti CORE Indonesia menyatakan anomali cuaca ekstrem menyebabkan penurunan hasil panen cabai di wilayah sentra produksi nasional.
- Meningkatnya biaya logistik serta risiko kerusakan fisik cabai selama distribusi memicu lonjakan harga di pasar tradisional.
- Pemerintah berupaya meredam gejolak harga pangan melalui program fasilitasi distribusi antardaerah serta kegiatan Gerakan Pangan Murah.
Suara.com - Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, memberikan pandangan mendalam bahwa fluktuasi harga cabai yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh perpaduan antara faktor anomali cuaca ekstrem serta membengkaknya biaya logistik pada jalur distribusi hortikultura nasional.
Menurut analisisnya, intensitas curah hujan yang sangat tinggi di sejumlah wilayah sentra produksi utama telah meningkatkan tingkat kelembapan lahan secara drastis.
Kondisi lingkungan yang lembap ini pada akhirnya memicu perkembangan serta serangan hama dan penyakit tanaman secara masif.
“Kenaikan harga cabai utamanya dipicu oleh anomali cuaca ekstrem berupa curah hujan tinggi di berbagai wilayah sentra produksi utama,” kata Eliza kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Dampak dari cuaca buruk ini dirasakan langsung di tingkat produsen. Tingginya kadar air pada lahan pertanian menyebabkan pembusukan dini pada tanaman cabai, yang berujung pada penurunan tajam volume serta kualitas hasil panen para petani.
Berdasarkan pergerakan data di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, dinamika harga di pasar tradisional memang bergerak sangat liar.
Rata-rata harga nasional untuk komoditas cabai rawit merah sempat meroket hingga menembus angka Rp84.400 per kilogram (kg) pada Kamis (4/6) sebelum akhirnya mengalami koreksi turun ke kisaran Rp68.000 per kg pada perdagangan Jumat.
Pergeseran angka dalam waktu singkat ini merefleksikan betapa tingginya sensitivitas produk hortikultura terhadap keseimbangan pasokan pasar.
Lebih lanjut, Eliza menguraikan aspek hilir yang sering kali luput dari perhatian, yakni persoalan moda transportasi distribusi. Menariknya, tekanan harga di tingkat eceran tetap terjadi meskipun pemerintah mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi agar tidak naik.
Baca Juga: Harga Cabai Naik, Kemendag Masukkan Cabai ke Daftar Komoditas Prioritas Pengendalian Inflasi
Tingginya kadar air akibat hujan membuat struktur fisik cabai menjadi lebih rapuh dan cepat membusuk selama proses pengiriman jarak jauh. Guna mengompensasi risiko penyusutan muatan atau kerusakan barang di jalan, para agen angkutan logistik terpaksa menaikkan tarif jasa angkut mereka.
Di samping itu, terdapat beberapa faktor non-BBM yang ikut andil dalam menggemukkan biaya operasional pengiriman ke pasar-pasar induk di kota besar:
- Lonjakan musiman tarif sewa armada sistem borongan menjelang perayaan hari besar.
- Kenaikan tarif tol pada sejumlah ruas jalur distribusi utama.
Serta merangkaknya harga suku cadang kendaraan angkutan barang.“Biaya logistik dan distribusi ke pasar induk ikut membengkak meskipun harga BBM solar bersubsidi tidak mengalami kenaikan,” ungkap Eliza.
Ancaman Inflasi dan Intervensi Pemerintah
Pembengkakan biaya distribusi di lapangan ini secara otomatis ditransmisikan langsung ke dalam komponen harga jual di tingkat pedagang eceran.
Eliza mengaitkan fenomena ini dengan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kelompok transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen pada Mei 2026, yang menjadi indikasi kuat adanya kenaikan beban logistik komoditas pangan yang cepat rusak (perishable).
Berita Terkait
-
Ahmad Luthfi Antarkan Jawa Tengah Raih Penghargaan Pengendalian Inflasi dari Kemendagri
-
Kabar Baik untuk Emak-Emak! Harga Cabai dan Bawang Merah Turun, Ini Daftar Lengkapnya
-
Bank Indonesia Optimistis Inflasi Terkendali, Apa Buktinya?
-
Inflasi Mei 2026 Naik Lagi, Harga Cabai hingga Bawang Merah Tekan Daya Beli Masyarakat
-
Harga Pangan Kian Meroket: Cabai Merah Besar Tembus Rp107 Ribu, Beras Ikut Naik
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Dasco Pimpin Rapat Besar Bareng Menteri, Matangkan Perpres Perlindungan Ojol
-
5 Fakta Viral Bocah Palembang Mengaku Dipukul Oknum Polisi saat Main Layang
-
5 Parfum Lokal Wangi Bunga Sedap Malam, Aromanya Elegan dan Tahan Lama
-
Teknologi bagi Siswa: Membantu Belajar atau Membuat Malas?
-
Drama Hak Angket DPRD Gowa Berujung Polisi, 45 Anggota Dewan Siap Ambil Langkah Ini
-
Geger Donald Trump Dikabarkan Dukung Presiden FIFA Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB
-
Gantikan Nanik, Sudaryono Didesak Bersih-bersih Internal Karena Ada Dugaan Pegawai BGN 'Main' Dapur
-
Urus Pajak Sambil Wisata: Stan Bapenda di Bandar Lampung Expo Jadi Primadona
-
Bukan 23 Nama, John Herdman Bawa 26 Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026
-
Petani Temanggung Geruduk Komisi IV DPR RI, Nilai Aturan Nikotin Ancam Tembakau Lokal