- Kelompok Usaha Bersama Sejahtera di Sidoarjo berdiri tahun 2017 untuk mengatasi keterbatasan modal usaha konveksi lokal.
- Bantuan sarana produksi dari PT PLN melalui program TJSL berhasil meningkatkan kapasitas produksi secara sangat signifikan.
- Peningkatan produksi tersebut mendorong omzet bulanan kelompok usaha hingga mencapai tiga puluh juta rupiah per bulan.
Suara.com - Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peranan krusial sebagai pilar utama penopang stabilitas perekonomian domestik di Indonesia.
Pertumbuhan jumlah pelaku usaha lokal terus menunjukkan tren positif, didorong oleh tingginya kreativitas masyarakat dan pemanfaatan peluang pasar di tingkat regional maupun nasional.
Karakteristik UMKM yang fleksibel membuat sektor ini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, sekaligus menjadi motor penggerak roda ekonomi di tingkat perdesaan dan wilayah urban.
Namun, dalam perjalanannya, akselerasi perkembangan UMKM di Indonesia masih sering membentur berbagai tantangan klasik. Batu sandungan utama yang kerap dihadapi oleh para pelaku usaha mikro adalah keterbatasan akses terhadap permodalan, minimnya sarana serta infrastruktur produksi yang modern, dan rendahnya kapasitas adopsi teknologi.
Hambatan teknis ini secara otomatis membatasi volume output produksi, sehingga banyak potensi usaha lokal yang mandek dan kesulitan untuk melakukan ekspansi pasar ke skala yang lebih luas.
Kondisi dilematis tersebut sempat dirasakan langsung oleh komunitas pengrajin konveksi di Desa Ngudi Punggul, Gedangan, Sidoarjo. Perjalanan usaha kolektif ini dimulai pada tahun 2017 saat sebelas pengrajin lokal bersepakat membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sejahtera sebagai strategi bertahan hidup di tengah keterbatasan modal kerja.
Pada fase awal, lini produk yang dihasilkan masih terbatas pada jilbab dan atribut keperluan sekolah dengan mengandalkan peralatan yang sangat konvensional.
Seiring berjalannya waktu, loyalitas pasar mulai terbangun dan volume pemesanan mengalami peningkatan. Namun, lonjakan permintaan tersebut justru memicu masalah baru akibat minimnya fasilitas kerja. Kelompok ini hanya memiliki tiga unit mesin jahit dan satu unit mesin obras yang harus digunakan secara bergantian oleh para anggota setiap harinya.
Keterbatasan alat kerja ini membuat kapasitas produksi maksimal mereka tertahan di angka seratus potong per minggu, dengan perolehan omzet yang relatif kecil.
Baca Juga: Influencer Tak Lagi Dapat PPh UMKM 0,5 Persen, Purbaya: Tak Ada Lapangan Kerja
Kondisi operasional yang terbatas ini sering kali membuat para pengrajin kewalahan dan kehilangan potensi keuntungan ekonomi, terutama saat memasuki periode puncak permintaan musiman seperti menjelang Hari Raya Idulfitri dan tahun ajaran baru sekolah.
Titik balik operasional KUB Sejahtera terjadi ketika PT PLN (Persero) menyalurkan bantuan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Bantuan tersebut disalurkan oleh PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali (UIP2B Jamali) melalui koordinasi PLN Unit Pelaksana Pengatur Beban Jawa Timur (UP2B Jatim).
Suntikan fasilitas kerja baru ini mengubah ritme kerja di rumah produksi menjadi lebih efektif dan higienis. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, kenyamanan para pekerja meningkat yang berdampak langsung pada lonjakan produktivitas.
Volume produksi kelompok konveksi ini melesat tajam dari semula seratus potong menjadi enam ratus potong pakaian per minggunya.
Peningkatan kapasitas produksi secara signifikan ini membawa dampak linier terhadap struktur pendapatan para srikandi pengrajin.
Berita Terkait
-
PNM Mekaar Dorong Pemberdayaan Nasabah Ultra Mikro untuk Tekan Ketergantungan pada Rentenir
-
PNM Siapkan Babak Baru Transformasi, Perkuat Kepemimpinan dan Tata Kelola Perusahaan
-
Berapa Gaji Alexandra Askandar? Bankir Perempuan di Top Level BUMN
-
SheHacks dan AI Jadi Kunci UMKM Perempuan Indonesia Naik Kelas di Era Digital
-
Permendag 31/2023 Resmi Direvisi: Jualan Online Wajib Punya Izin Usaha
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
Pilihan
-
Lucky Hakim Dinobatkan Sebagai Bupati Terbaik, Wakilnya Malah Jadi Tersangka
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
Terkini
-
Rekap Harga Emas Sepekan Turun Signifikan, Bagaimana Trennya?
-
Badai PHK Mengancam Akibat Dolar Melejit, KSPSI Desak Pemerintah Bertindak
-
BTN Perkuat Kualitas Kredit, Transformasi Loan Factory Dorong Pertumbuhan yang Lebih Sehat
-
KRL Green Line Bakal Dirombak Besar-besaran, Penumpang Rangkasbitung Siap-siap
-
Berlaku 6 Juni, ASDP Beri Diskon Tiket Kapal Feri 21,95% Selama Libur Sekolah
-
Masyarakat Dinilai akan Bingung Bedakan Produk Vape Legal Akibat Kemasan Polos
-
Tak Hanya Ada Rokok, Vape Ilegal Juga Terancam Marak Beredar
-
Tak Hanya Batu Bara dan Sawit, DSI Berpotensi Atur Ekspor Komoditas Lain
-
Gaji Tunjangan Menkeu dan Gubernur BI, Perbandingan Mana yang Lebih Besar?
-
Purbaya Klaim Coretax Bikin Penerimaan Pajak Naik 22,1% Jadi Rp 834,6 T per Mei 2026