Bisnis / Keuangan
Selasa, 09 Juni 2026 | 13:08 WIB
IHSG mulai melonjak kembali. (Antara].
Baca 10 detik
  • Indeks Harga Saham Gabungan melonjak 4,82 persen ke level 5.599 pada perdagangan sesi pertama Selasa, 9 Juni 2026.
  • Penguatan IHSG dipicu meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah serta surplus perdagangan China yang melampaui ekspektasi pasar global.
  • Sentimen domestik positif didorong rencana *buyback* saham BUMN dan kejelasan regulasi fiskal sektor minerba oleh pemerintah Indonesia.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada perdagangan sesi pertama Selasa, 9 Juni 2026. indeks melonjak 257 poin atau 4,82 persen ke level 5.599.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan IHSG ditopang kombinasi sentimen positif dari luar negeri maupun domestik.

Dari pasar global, pelaku pasar menyambut baik meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Iran dan Israel dilaporkan sepakat menghentikan serangan satu sama lain. Kondisi tersebut memunculkan harapan deeskalasi konflik yang sebelumnya memicu kekhawatiran terhadap inflasi energi dan stabilitas ekonomi global.

Selain itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut kedua negara tengah mengupayakan gencatan senjata dan negosiasi akhir masih berlangsung.

Sentimen positif juga datang dari China. Surplus perdagangan Negeri Tirai Bambu pada Mei 2026 tercatat mencapai 105,43 miliar dolar AS, meningkat dari 102,72 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut juga melampaui ekspektasi pasar sebesar 92,1 miliar dolar AS.

IHSG mulai naik kembali. [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym].

"Ini merupakan surplus perdagangan terbesar sejak Januari, didukung peningkatan ekspor dan impor yang sama-sama tumbuh kuat," tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam riset Day Break Review, Selasa (9/6/2026).

Dari dalam negeri, penguatan IHSG terjadi di tengah tekanan makroekonomi dan pelemahan rupiah yang masih berlangsung. Namun, sentimen pasar membaik setelah muncul kabar pertemuan pimpinan DPR dengan bank-bank Himbara, BPJS Ketenagakerjaan, dan perusahaan asuransi BUMN untuk membahas pembelian kembali atau buyback saham BUMN.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya memulihkan kepercayaan investor dan meredam gejolak di pasar modal.

Katalis positif lainnya datang dari sektor pertambangan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan skema bagi hasil gross split hanya berlaku untuk sektor minyak dan gas bumi serta tidak akan diterapkan pada sektor mineral dan batu bara (minerba).

Baca Juga: DPR Dorong Buyback, Saham Bank Himbara Kompak Melesat, IHSG Ikut Terbang

Klarifikasi tersebut meredakan kekhawatiran pelaku usaha setelah sebelumnya beredar isu pemerintah akan menerapkan skema gross split di sektor pertambangan.

"Keputusan ini menunjukkan pemerintah berhati-hati dalam mengubah rezim fiskal sektor minerba agar tidak mengganggu iklim investasi dan target hilirisasi yang sedang berjalan," tulis Pilarmas.

Untuk perdagangan selanjutnya, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan rating beli (buy).

Saham BBRI memiliki area support di level 2.540 dan resistance di level 2.850.

Trafik Perdagangan

Pada perdagangan sesi I ini, sebanyak 23,21 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 13,78 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,45 juta kali.

Load More