Bisnis / Makro
Senin, 15 Juni 2026 | 13:58 WIB
Ilustrasi perdagangan sesi I IHSG hari ini [Ist/Antara]
Baca 10 detik
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 5,03% ke level 6.309,73 pada penutupan Sesi I perdagangan 15 Juni 2026.
  • Kenaikan indeks didorong stabilitas nilai tukar Rupiah serta melandainya harga minyak mentah dunia di pasar global.
  • Aksi beli masif pada saham sektor perbankan dan energi menghasilkan total nilai transaksi harian mencapai Rp17,20 triliun.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung tancap gas dan mencatatkan kenaikan fantastis pada penutupan Sesi I siang ini.

IHSG terpantau mengakhiri paruh pertama hari ini dengan meroket sebanyak 302,08 poin atau melesat 5,03% untuk parkir di level 6.309,73. Pergerakan indeks sejak awal perdagangan langsung berada di zona hijau, dibuka pada level 6.118,73 dan sempat menyentuh titik tertinggi harian di level 6.313,79. Sepanjang paruh pertama, indeks hampir tidak menyentuh zona koreksi dengan titik terendah hanya berada di level 6.118,08.

Eksplosiasi kenaikan ini juga diikuti oleh indeks saham-saham likuid pilihan, LQ45, yang melompat signifikan sebesar 5,50% atau bertambah 32,88 poin ke posisi 630,33. Kembalinya kepercayaan investor ke lantai bursa ini sejalan dengan meredanya tekanan makroekonomi eksternal dan domestik secara simultan.

Lompatan tinggi IHSG hari ini dinilai para analis erat kaitannya dengan kembalinya stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).

Rupiah dilaporkan berhasil menguat cukup tajam ke level Rp17.665 per Dolar AS, menjauh dari level psikologis Rp18.000 yang sempat ditembus pada perdagangan pekan lalu.

Kondisi tersebut kian diuntungkan oleh melandainya harga minyak mentah dunia jenis Brent yang kini mendarat di level US$83,26 per barel.

Turunnya harga komoditas energi cair ini secara otomatis meredam kecemasan pelaku pasar terhadap risiko inflasi pangan dan energi jangka pendek di dalam negeri, sekaligus memberikan ruang bernapas yang lebih lega bagi margin keuntungan industri manufaktur nasional.

Aktivitas perdagangan di lantai bursa mencatatkan likuiditas yang sangat tebal dalam satu sesi saja. Total nilai transaksi pada Sesi I menembus angka Rp17,20 triliun, dengan rincian transaksi di pasar reguler mendominasi sebesar Rp16,67 triliun dan pasar negosiasi menyumbang Rp530,95 miliar. Sementara itu, volume saham yang ditransaksikan mencapai 33,25 billion lembar saham.

Aksi borong saham secara masif melanda emiten-emiten berkapitalisasi pasar raksasa (big caps), terutama dari sektor perbankan dan energi yang menjadi penopang utama (leading movers) laju indeks:

Baca Juga: Elegi Hujan Bulan Juni: Merawat Tabah di Tengah Badai Rupiah yang Tiarap

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan harga sebesar 7,59% ke posisi Rp6.375 per lembar. BBCA juga mencatatkan nilai transaksi jumbo, sekaligus menjadi penopang poin terbesar bagi IHSG.
  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Berhasil bangkit dari keterpurukan pekan lalu dengan menguat 4,21% ke level Rp2.970 per lembar saham.
  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Mengikuti tren rebound sektor finansial dengan mencatatkan lonjakan harga sebesar 5,00% ke level Rp4,410.
  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Tampil spektakuler dengan melonjak 17,83% ke level Rp185 per lembar. BUMI mencatatkan volume perdagangan yang sangat masif, menjadikannya saham teraktif dari sisi kuantitas.
  • PT PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Meroket hingga mendekati batas atas dengan kenaikan 24,53% ke posisi Rp660.
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Sektor pertambangan tembaga ikut berkontribusi besar di mana saham AMMN melesat 15.65% ke level Rp3.990.

Di sisi lain, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tetap mempertahankan posisinya sebagai raja likuiditas harian. TPIA memimpin jajaran Top Value dengan mencatatkan kenaikan harga sebesar 14,05% ke level Rp2,110 per lembar saham. Selain TPIA dan perbankan, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga melesat 12,98% ke posisi Rp3.220.

Jajaran Top Gainers dan Top Losers Sesi I

Bursa mencatat deretan emiten yang mengalami kenaikan persentase tertinggi (top gainers) pada paruh pertama hari ini dipimpin oleh MGNA yang melonjak hingga 29,87% ke level Rp100. Disusul kemudian oleh emiten infrastruktur dan konstruksi BUKK (+24,88% ke Rp1.255), ATAP (+24,86% ke Rp442), DATA (+24,83% ke Rp1,810), serta JSPT (+24,79% ke posisi Rp1,460).

Sebaliknya, di tengah pesta pora penguatan indeks, sejumlah kecil saham harus rela parkir di zona koreksi (top losers). Posisi penurunan terdalam dialami oleh SOSS yang merosot 8,39% ke level Rp710, disusul oleh emiten kaca AMFG (-5,02% ke Rp3,030), VICI (-3,91% ke Rp615), PUDP (-3,87% ke Rp298), serta emiten ritel kesehatan SRAJ yang masih melanjutkan tren pelemahan minor sebesar 3,86% ke level Rp10.575 per lembar saham.

Adapun dari deretan pengikis indeks (lagging movers), pergerakannya relatif sangat terbatas dan tidak mampu membendung euforia pasar. Beberapa di antaranya meliputi saham SMMA yang turun 2,02% ke level Rp23.025, TCPI (-3,23% ke Rp9,000), MSIN (-2,83% ke Rp515), serta emiten pendatang baru AADI yang melemah tipis 1,73% ke posisi Rp8.500.

Disclaimer: Artikel berita keuangan ini disusun berdasarkan data seketika (real-time) hasil penutupan perdagangan Sesi I Bursa Efek Indonesia tanggal 15 Juni 2026. Tulisan ini bersifat informatif untuk kepentingan publikasi pers dan sama sekali bukan merupakan bentuk rekomendasi, perintah, atau saran mutlak untuk melakukan transaksi investasi berupa jual-beli instrumen saham atau produk pasar modal lainnya.

Load More