Bisnis / Makro
Senin, 15 Juni 2026 | 18:23 WIB
CEO Danantara, Rosan Roeslani. [Suara.com/Rina Anggraeni].
Baca 10 detik
  • CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan IHSG dan rupiah menguat karena pulihnya persepsi investor terhadap ekonomi Indonesia.
  • Danantara berhasil meningkatkan kepercayaan investor global melalui rangkaian roadshow kebijakan ekonomi di empat negara besar dunia.
  • Pemerintah terus memperkuat koordinasi dan transparansi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan serta fundamental ekonomi jangka panjang.

Suara.com - CEO Danantara, Rosan Roeslani menilai penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh membaiknya persepsi investor terhadap Indonesia.

Menurut dia, kepercayaan investor mulai pulih setelah berbagai kebijakan pemerintah dan respons positif investor terhadap langkah-langkah yang dilakukan Danantara.

Pernyataan itu disampaikan Rosan saat merespons penguatan IHSG yang melonjak 247,31 poin atau sekitar 4,12 persen ke level 6.254 menjelang penutupan perdagangan Senin (15/6/2026).

"Kalau kita lihat memang beberapa hari terakhir ini baik dari pasar modal kita maupun dari rupiah kita mengalami penguatan yang kalau dibilang relatif cepat juga," kata Rosan dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Perdagangan IHSG hari ini menguat tinggi. [Ist/Antara]

Rosan mengatakan penguatan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurut dia, pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk memperbaiki sentimen pasar, termasuk melalui berbagai kebijakan ekonomi dan upaya menjelaskan arah kebijakan Indonesia kepada investor global.

Ia menuturkan Danantara baru saja menyelesaikan rangkaian roadshow ke sejumlah negara, seperti Hong Kong, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat. Dalam kegiatan itu, Danantara bertemu dengan sekitar 122 investor dari berbagai negara.

Menurut Rosan, respons investor terhadap paparan yang disampaikan Danantara terbilang positif. Hal itu terlihat dari tingginya minat investor terhadap obligasi global perdana yang diterbitkan Danantara.

"Nah pada saat mereka melihat bahwa oh ternyata apa yang dilakukan dalam hal ini Danantara dan juga kebijakan-kebijakannya ini membalikkan momentum yang tadinya persepsi yang ada itu, persepsi yang mohon maaf mungkin tadinya mereka agak ragu-ragu mengenai ekonomi Indonesia, mengenai kebijakan kita, tapi setelah mereka lihat 'Oh, Indonesia kita merespons secara baik dan benar'," ujarnya.

Rosan menilai selama ini tekanan yang terjadi di pasar keuangan lebih banyak dipengaruhi persepsi dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Rupiah Menguat dan IHSG Terbang, Apakah Damai AS-Iran Jadi Titik Balik Ekonomi RI?

"Kalau kami melihatnya selama ini ini kan sebetulnya adalah lebih persepsi. Lebih banyak karena persepsi, karena kalau kita lihat fundamental kita kan memang secara jangka menengah panjang juga sangat-sangat baik," ucapnya.

Menurut dia, perubahan persepsi investor kini mulai terlihat dari pergerakan pasar yang kembali menguat. Meski begitu, Rosan mengingatkan bahwa kenaikan maupun penurunan dalam jangka pendek merupakan hal yang normal di pasar modal.

"Kalau kami lihat ya ini persepsinya sekarang alhamdulillah sudah ke tren positif dan kita harapkan ya tentunya ini terus meningkat," katanya.

Ia menambahkan investor global umumnya melihat Indonesia dalam perspektif jangka panjang. Karena itu, faktor fundamental ekonomi, arah kebijakan pemerintah, serta tata kelola menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan investasi.

"Kalau investor luar, mereka view-nya langsung long term. Jadi mereka tidak melihat posisi mereka hari ini masuk oh seminggu lagi itu kalau turun ya kita keluar, enggak seperti itu," tutur Rosan.

Menurut dia, investor juga menaruh perhatian besar terhadap transparansi, tata kelola, dan akuntabilitas lembaga yang mengelola investasi.

"Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu terbuka menjaga governance dan transparansi dan juga tentunya akuntabilitas kepada publik karena itu yang penting karena itu yang mempengaruhi persepsi yang ada kepada kita," jelas Rosan.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah terus berupaya memperkuat koordinasi dan mengambil berbagai kebijakan untuk menjaga kepercayaan pasar.

"Memang kalau Saudara-saudara perhatikan dalam satu dua minggu ini kita semua terus berupaya untuk memperkuat koordinasi, memperkuat kerja sama dan terutama mengambil kebijakan-kebijakan yang kita berharap dapat memperkuat mata uang kita, memperkuat persepsi publik, memperkuat persepsi pasar," ujar Prasetyo.

Load More