Bisnis / Makro
Senin, 22 Juni 2026 | 12:36 WIB
Harga MinyaKita terus mengalami kenaikan hingga melampaui HET. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].
Baca 10 detik
  • Peneliti CORE Indonesia Eliza Mardian memproyeksikan pemerintah tetap akan menaikkan HET Minyakita meski saat ini masih menunda keputusan.
  • Kenaikan HET berisiko mempersempit selisih harga dengan minyak premium dan mengganggu daya tarik produk bagi konsumen kelas bawah.
  • Keengganan pengusaha memenuhi DMO akibat rendahnya margin keuntungan menghambat ketersediaan minyak goreng murah di pasaran domestik tersebut.

Suara.com - Rencana penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk produk minyak goreng kemasan rakyat, Minyakita, tampaknya masih akan terus bergulir.

Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, memproyeksikan bahwa pemerintah kemungkinan besar tetap akan mengerek naik harga batas atas produk tersebut.

Pandangan ini bertolak belakang dengan sejumlah sinyalemen dan pernyataan dari pihak eksekutif sebelumnya yang mengesankan pembatalan kebijakan tersebut.

Menurut analisis Eliza, langkah pemerintah saat ini sebenarnya adalah fase penundaan strategis. Para pemangku kebijakan dinilai sedang meracik ulang formulasi harga yang paling rasional dan bisa diterima oleh berbagai pihak sebelum palu keputusan benar-benar diketuk.

"Sebetulnya bukan batal, tapi belum dilakukan karena Kementan dan Bapanas masih nyari formulasi harga yang terbaik," ungkap Eliza saat memberikan keterangannya kepada awak media pada Rabu (18/6/2026).

Ancaman Menyempitnya Jarak Harga dengan Minyak Premium

Dalam menyusun formulasi HET yang baru, Eliza memberikan peringatan keras agar pemerintah ekstra berhati-hati. Kenaikan harga yang dieksekusi tanpa perhitungan matang justru berisiko menjadi bumerang bagi program Minyakita itu sendiri.

Pasalnya, selisih harga antara minyak goreng bersubsidi ini dengan minyak goreng kemasan premium di pasaran kini semakin tipis.

Jika HET dinaikkan secara sepihak tanpa membereskan kendala struktural di rantai pasok, daya tarik Minyakita di mata konsumen kelas menengah ke bawah bisa luntur.

Baca Juga: MinyaKita Makin Mahal, Harganya Tembus Rp 22.000

"Karena gap hrga minyakita dengan premium makin mengecil. Jadi memang perlu berhati-hati dalam menentukan formulasi harga karena kalau terus menerus menaikkan HET tanpa ada pembenahan, akar persoalannya akan semakin kecil gap Minyakita dan premium," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa masalah ketersediaan barang di lapangan sering kali memaksa konsumen mengubah pola konsumsi mereka secara mendadak.

"Pada akhirnya masyarakat jadi terpaksa beralih ke premium karena minyakita langka dan harga tak jauh beda," tambahnya.

Skema DMO Kurang Seksi di Mata Pengusaha Sawit

Polemik Minyakita sejatinya bukan sekadar urusan label harga di rak pedagang. Eliza membedah akar persoalan yang bermuara pada skema Domestic Market Obligation (DMO).

Kebijakan yang mewajibkan produsen memasok sebagian produksinya ke pasar dalam negeri ini dianggap kurang menggiurkan secara bisnis.

Load More