Bisnis / Makro
Kamis, 07 Mei 2026 | 18:10 WIB
Harga MinyaKita terus mengalami kenaikan hingga melampaui HET. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].
Baca 10 detik
  • Harga MinyaKita di pasar tradisional Jakarta melonjak hingga Rp 22.000 per liter, melampaui ketentuan HET sebesar Rp 15.700.
  • Kenaikan harga terjadi akibat tingginya harga dari pihak distributor sehingga pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual kepada konsumen.
  • Pasokan MinyaKita di pasar kini semakin terbatas dan dibatasi oleh agen, menyebabkan ketidakpastian stok bagi para pedagang kecil.

Suara.com - Harga minyak goreng rakyat MinyaKita kembali melonjak jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) di sejumlah pasar tradisional Jakarta. Di Pasar Cijantung, Jakarta Timur, MinyaKita kemasan 1 liter dijual hingga Rp 22 ribu, sementara kemasan 2 liter tembus Rp 42 ribu.

Padahal, MinyaKita merupakan merek minyak goreng murah yang digagas pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat. 

HET resmi Minyakita saat ini berada di level Rp 15.700 per liter atau sekitar Rp 31.400 untuk kemasan 2 liter. Namun di lapangan, harga jual sudah melambung jauh di atas batas tersebut.

Salah satu pedagang sembako bernama Dede mengatakan, kenaikan harga ini disebut pedagang bukan karena keuntungan besar di tingkat pengecer, melainkan karena harga dari distributor sudah tinggi dan pasokan barang makin terbatas.

Harga MinyaKita terus mengalami kenaikan hingga melampaui HET, pedagang bingung menetapkan harga jual. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].

"Sekarang saya jual Rp 22 ribu yang satu liter. Kalau yang dua liter Rp 42 ribu. Saya cuma ambil untung sekitar Rp 1.000 saja," ujar Dede kepada Suara.com, Kamis (7/5/2026).

Dede mengaku pedagang kecil justru berada di posisi sulit karena harga kulakan dari agen sudah mahal, sementara konsumen sering menganggap pedagang pasar sebagai pihak yang paling menaikkan harga.

"Kalau dari sananya sudah mahal, saya juga bingung. Saya enggak bisa jual sesuai HET kalau belinya saja sudah tinggi. Untung saya paling Rp 1.000," ucapnya.

Pedagang lain di pasar yang sama, Tini, juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan stok MinyaKita dari distributor maupun agen sembako.

Menurut dia, pembelian kini dibatasi sehingga pedagang tidak bisa membeli dalam jumlah besar seperti sebelumnya.

Baca Juga: Sengkarut MinyaKita: Antara Kelangkaan, Birokrasi BUMN, dan Rencana Kenaikan Harga

"Susah sekarang dapatnya. Saya beli juga dibatasin, cuma boleh dua dus saja dari agen," kata Tini.

Keterbatasan stok tersebut membuat pasokan MinyaKita di pasar menjadi tidak menentu, padahal permintaan masyarakat masih tinggi karena produk ini selama ini dikenal sebagai minyak goreng rakyat.

Load More