- Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait serta Bahrain pada Minggu pagi.
- Konflik di Selat Hormuz memanas akibat perebutan kendali jalur distribusi energi global antara pihak Amerika Serikat dan Iran.
- Upaya diplomasi di Swiss gagal karena eskalasi militer dan ketidaksepakatan terkait gencatan senjata di wilayah Lebanon yang terinvasi.
Suara.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memasuki fase kritis. Iran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan terus melanjutkan aksi saling serang di kawasan Teluk, di mana kedua belah pihak saling menuduh telah melanggar kesepakatan damai sementara (interim deal) yang baru ditandatangani kurang dari dua minggu lalu untuk mengakhiri perang yang telah berkecamuk selama empat bulan.
Ketegangan memuncak pada Minggu pagi setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras di media sosial bahwa militer Amerika Serikat kemungkinan akan "menyelesaikan tugas secara militer."
Hampir bersamaan dengan ancaman tersebut, Iran meluncurkan gelombang rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.
"Mungkin akan tiba suatu titik di mana kita tidak bisa lagi bersikap maklum, dan akan terpaksa menyelesaikan secara militer tugas yang telah kita mulai dengan sangat sukses," tulis Trump dalam unggahan media sosialnya.
"Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!"
Merespons unggahan tersebut, pihak militer Kuwait mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka langsung aktif guna menghalau serangan rudal dan drone defensif.
Di saat yang sama, sirene peringatan bahaya juga berdengung keras di penjuru Bahrain. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa operasi udara dan laut gabungan ini merupakan balasan langsung atas agresi militer AS yang dituding melanggar gencatan senjata.
Meski kini dikabarkan tengah memanas kembali, harga minyak dunia (crude oil) justru turun dan berada di bawah level USD 70 per barel, sementara Brent berada di level USD 71.
Perebutan Kendali Jalur Energi Global di Selat Hormuz
Baca Juga: Pelemahan Tak Terbendung, Rupiah Hampir Balik Lagi ke Rp18.000
Sebelum gelombang serangan udara Iran ke pangkalan sekutu AS terjadi, Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukannya telah melancarkan serangan udara baru ke wilayah Sirik di Iran selatan.
Langkah ini diambil beberapa jam setelah sebuah kapal tanker berbendera Panama dihantam oleh drone milik Iran di Selat Hormuz pada hari Sabtu, seperti yang dilansir dari Reuters.
Sektor Selat Hormuz kini menjadi episentrum dari perseteruan kedua negara. Jalur maritim ini merupakan rute pasokan energi paling krusial di dunia, yang menampung seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu.
Selama konflik berlangsung, ratusan kapal tanker pengangkut minyak sempat terjebak dan terblokade di dalam Teluk. Ketika kapal-kapal tersebut mulai diizinkan keluar menyusul kesepakatan damai dua minggu lalu, harga minyak dunia sempat merosot tajam mendekati level sebelum perang karena lonjakan pasokan di pasar global. Namun, stabilitas ini kembali terancam akibat sengketa jalur navigasi:
- Strategi Washington: AS dan sekutunya mendorong penggunaan jalur selatan yang membentang di sepanjang garis pantai Oman.
- Strategi Teheran: Iran ingin memaksa kapal-kapal internasional menggunakan jalur utara yang masuk dalam wilayah perairan mereka, dengan target jangka panjang untuk menarik biaya retribusi jalur komersial.
Perundingan Swiss Buntu dan Imbas Gencatan Senjata Lebanon
Padahal, satu pekan lalu, Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf sempat melangsungkan dialog mediasi di Swiss.
Berita Terkait
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Iran vs Everybody di Piala Dunia 2026, Mehdi Taremi: Infantino Omong Kosong, FIFA Tak Adil
-
Panas Lagi! AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran Usai Insiden di Selat Hormuz
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
Terkini
-
Daftar 24 Wamen Rangkap Jabatan di BUMN, Viral Sorotan 'Orang Dekat' Jadi Komisaris
-
Kabar 60.000 Calon Mahasiswa Mundur, Imbas Biaya Kuliah Mahal?
-
Harga Beras Makin Mahal, Program SPHP Pemerintah Tidak Efektif?
-
Krakatau Posco Milik Siapa, Apakah BUMN? Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris
-
Harga Emas Antam Terus Melemah dalam Sepekan, Buyback Anjlok Lebih Dalam
-
Harga Beras Naik saat Cadangan Pemerintah Cetak Rekor Terbesar, Kok Bisa?
-
Harga Cabai Turun Namun Bawang Putih Naik, Ini Penyebabnya
-
5 Orang Meninggal, Pelatihan Militer KDMP Dikecam: Dampak Buruk ke Manajemen Koperasi
-
Apa Tugas Komisaris di Perusahaan? Aspri Raffi Ahmad hingga Aktivis Muda Bisa Duduk di Posisi Ini
-
Viral Mufli Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Perusahaan, Berapa Gajinya?