Bisnis / Energi
Minggu, 28 Juni 2026 | 11:56 WIB
IIustrasi Kilang Minyak [Pexels].
Baca 10 detik
  • Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait serta Bahrain pada Minggu pagi.
  • Konflik di Selat Hormuz memanas akibat perebutan kendali jalur distribusi energi global antara pihak Amerika Serikat dan Iran.
  • Upaya diplomasi di Swiss gagal karena eskalasi militer dan ketidaksepakatan terkait gencatan senjata di wilayah Lebanon yang terinvasi.

Langkah tersebut bahkan diikuti dengan keputusan Washington untuk mencabut sejumlah sanksi ekonomi terhadap Teheran. Namun, pelonggaran tersebut tidak bertahan lama seiring kembali pecahnya kontak senjata di lapangan.

Pihak Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa serangan AS ke Sirik telah menghancurkan seluruh proses diplomasi yang tengah dibangun.

Mereka memperingatkan bahwa markas militer Amerika di Timur Tengah akan "mengalami masa-masa seperti neraka" dalam beberapa hari ke depan. Meski situasi terus memanas, pejabat militer AS melaporkan belum ada korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur skala besar di pangkalan mereka sejauh ini.

Di luar wilayah Teluk, Iran juga menuduh AS gagal memenuhi janjinya untuk mempertahankan stabilitas gencatan senjata di Lebanon, wilayah yang diinvasi oleh Israel sejak Maret lalu untuk memburu kelompok militan Hizbullah.

Meskipun Israel dan Lebanon berulang kali menyepakati gencatan senjata yang dimediasi AS, efektivitasnya sangat terbatas. Israel menolak menarik mundur pasukannya dari wilayah Lebanon yang telah dikuasai, sementara Hizbullah dengan tegas menolak meletakkan senjata selama tentara Israel masih berada di tanah mereka.

Kondisi ini memicu kemarahan yang meluas di kalangan komunitas Syiah Lebanon, karena ratusan ribu warga sipil belum dapat kembali ke rumah mereka yang berada di bawah pendudukan militer Israel.

Load More