Suara.com - Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara konsumen berinteraksi dengan merek. Namun, di tengah makin kompleksnya perjalanan pelanggan, kehadiran di kanal digital saja dinilai tidak lagi cukup. Perusahaan kini dituntut untuk menghadirkan pengalaman yang terhubung di seluruh titik interaksi melalui strategi omnichannel.
Group COO MCorp, Iwan Setiawan menilai banyak perusahaan masih berfokus pada digital marketing sebagai kanal pemasaran utama. Padahal, perilaku konsumen saat ini telah berkembang menjadi lebih terintegrasi antara dunia digital dan fisik atau yang dikenal sebagai gaya hidup phygital.
Menurut Iwan, konsumen modern tidak lagi berinteraksi dengan merek melalui satu saluran saja. Mereka dapat menemukan informasi melalui media sosial, membandingkan produk di situs web, berkonsultasi melalui aplikasi pesan instan, hingga melakukan transaksi di toko fisik atau marketplace. Karena itu, perusahaan perlu memastikan seluruh kanal tersebut saling terhubung dan memberikan pengalaman yang konsisten.
“Kalau Anda melakukan digital marketing saja, maka Anda akan kehilangan 60-80% dari calon pelanggan Anda. Kita tidak mendiferensiasikan strategi kita based on channel. Jadi tidak ada strategi kanal digital, strategi kanal fisik, tapi semua tertintegrasi karena yang kita jadikan panduan adalah customer journey,” kata Iwan saat pengumuman Marketeers OMNI Brands of the Year 2026 di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Kebutuhan akan strategi omnichannel juga diperkuat oleh sejumlah riset global. McKinsey & Company mencatat lebih dari 50% konsumen B2C menggunakan tiga hingga lima kanal berbeda dalam setiap perjalanan pembelian.
Konsumen juga semakin terbiasa berpindah dari satu platform ke platform lain sebelum mengambil keputusan untuk membeli suatu produk atau layanan.
Riset yang sama menunjukkan pelanggan yang berinteraksi melalui berbagai kanal berbelanja 1,7 kali lebih sering dibandingkan pelanggan yang hanya menggunakan satu kanal. Selain itu, sekitar 60% hingga 70% konsumen saat ini melakukan riset dan transaksi melalui kombinasi kanal online dan offline.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa strategi pemasaran yang berjalan sendiri-sendiri di setiap kanal mulai kehilangan relevansinya. Di tengah makin banyaknya pilihan platform yang digunakan konsumen, perusahaan perlu menghadirkan pengalaman yang terintegrasi agar perjalanan pelanggan tidak terputus.
Pentingnya pengalaman yang konsisten juga terlihat dalam laporan State of the Connected Customer yang dirilis Salesforce. Riset tersebut menemukan bahwa 85% pelanggan mengharapkan pengalaman yang konsisten di seluruh kanal dan departemen perusahaan.
Baca Juga: Marketeers Tech for Business: Brand Hari ini Harus AI Friendly
Sebanyak 83% pelanggan bahkan mengaku lebih loyal terhadap merek yang mampu memberikan pengalaman yang terhubung dan relevan di setiap titik interaksi. Meski demikian, tantangan implementasi omnichannel masih cukup besar.
Salesforce menemukan sekitar 60% pelanggan masih merasa berinteraksi dengan departemen yang berjalan sendiri-sendiri, bukan dengan satu perusahaan yang memiliki sistem terintegrasi. Kondisi ini membuat pengalaman pelanggan sering kali terasa terfragmentasi, terutama ketika berpindah dari satu kanal ke kanal lainnya.
Perubahan perilaku konsumen juga terjadi di sektor business-to-business (B2B). McKinsey mencatat jumlah kanal yang digunakan pelanggan B2B untuk berinteraksi dengan perusahaan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.
Jika pada tahun. 2016 pelanggan rata-rata menggunakan lima kanal, kini jumlahnya telah mencapai lebih dari 10 kanal dalam satu perjalanan pembelian. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan perusahaan saat ini bukan lagi sekadar hadir di berbagai platform, melainkan memastikan seluruh platform tersebut mampu bekerja sebagai satu kesatuan.
Dengan kata lain, keberhasilan pemasaran tidak lagi ditentukan oleh banyaknya kanal yang digunakan, tetapi oleh kemampuan perusahaan menghadirkan pengalaman pelanggan yang mulus dan konsisten.
Pemenang Marketeers OMNI Brands of the Year 2026
Berita Terkait
-
Marketeers Tech for Business: Brand Hari ini Harus AI Friendly
-
Mendagri Tito Hadiri Upacara Peringatan ke-80 Hari Bhayangkara di Bogor
-
Bisnis Kedai Kopi Makin Ketat, Konsep 'Rumah Kedua' Jadi Senjata Bertahan
-
Marketeers Tech for Business 2026: Jurus Baru Digital Marketing di Era AI
-
Strategi Investasi Usai Rebalancing MSCI: Saatnya Wait and See atau Borong Blue Chip?
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 6 Sunscreen Pencerah di Indomaret yang Worth It Masuk Keranjang Belanja
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
-
TikTok Bantah Ada PHK di Tokopedia, Penasihat Presiden Tetap Akan Demo
-
Realisasi Investasi di KEK Tembus Rp 353,3 Triliun per Q1 2026, Bukti RI Masih Dilirik Investor
-
OJK Mulai Kewalahan Hadapi Modus Penipuan Berkedok AI dan Deepfake
-
BBCA Diborong, BMRI Dilepas Asing Saat IHSG Ditutup Menguat
-
OJK Pangkas Pembaruan Status SLIK, Akses KPR dan Kredit UMKM Dipercepat
-
Kerugian Tembus Rp9,3 Triliun, OJK Ungkap Fakta Mengejutkan dari 'Love Scam'
-
Unilever Global Mau Investasi ke RI Bulan Depan, Proyek Diresmikan di Sumatra Utara
-
BTN Borong Lima Penghargaan Internasional, Transformasi Beyond Mortgage Makin Diakui
-
Di Bawah Danantara, PNM Buka Pekerjaan Puluhan Ribu Lulusan SMA/SMK dari Keluarga Prasejahtera