- IHSG dibuka menguat ke level 5.933 pada Selasa, 7 Juli 2026, namun terkoreksi menjadi 5.909 pukul 09.06 WIB.
- Sebanyak 1,51 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi Rp790,70 miliar serta frekuensi 120.820 kali pada sesi tersebut.
- Samuel Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak terbatas atau sideways akibat pengaruh sentimen pasar global dan regional yang bercampur.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat pada awal perdagangan, Selasa, 7 Juli 2026. IHSG dibuka menghijau ke level 5.933.
Mengutip data Stockbit, namun, hingga pukul 09.06 WIB, IHSG justru meloyo ke zona merah 0,11 persen ke level 5.909.
Pada perdagangan waktu itu sebanyak 1,51 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nila transaksi mencapai Rp 790,70 miliar serta frekuensi sebesar 120.820 kali.
Di waktu itu, terdapat 266 saham menghijau, sedangkan, 210 saham merosot. Sisanya, 485 saham masih belum bergerak alias stagnan.
Adapun, berikut beberpa saham yang Top Gainer dan Loser di waktu itu:
Top Gainer
- JELI
- JECX
- AKSI
- YUPI
- LAND
Top Loser
- TRUS
- BALI
- MTWI
- RGAS
- SGRO
Proyeksi IHSG
IHSG diperkirakan bergerak terbatas atau sideways pada perdagangan hari ini, di tengah sentimen yang masih bercampur dari pasar global maupun regional.
Baca Juga: BBCA Diborong, BMRI Dilepas Asing Saat IHSG Ditutup Menguat
Dalam riset hariannya, Samuel Sekuritas menyebutkan pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi oleh berbagai sentimen eksternal yang belum sepenuhnya memberikan arah yang jelas bagi pasar.
"Hari ini, kami memperkirakan IHSG bergerak sideways di tengah sentimen yang mixed dari pasar global dan regional," tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya.
Meski demikian, bursa saham Amerika Serikat berhasil ditutup di zona hijau pada perdagangan Senin (6/7/2026).
Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,29 persen ke level 53.056, sementara S&P 500 menguat 0,72 persen ke posisi 7.537. Adapun Nasdaq melesat 1,12 persen seiring rebound saham-saham sektor semikonduktor.
Dow Jones bahkan mencatat sejarah baru dengan ditutup di atas level 53.000 untuk pertama kalinya setelah menguat sekitar 150 poin.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun turun 0,31 persen menjadi 4,469 persen. Sementara itu, indeks dolar Amerika Serikat (US Dollar Index/DXY) berada di level 100,85.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Bisa Borong, Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2.655.000/Gram
-
Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Bayang-Bayang Melimpahnya Pasokan
-
SMGR Catat Penjualan Semen Tumbuh 4,4% hingga Mei 2026
-
Home Credit Genjot Pembiayaan Usai Penyaluran Kredit Tumbuh 14% pada Kuartal I 2026
-
BEI Gunakan Fitur Repo SBSN di SPPA, Dorong Likuiditas Pendalaman Pasar Keuangan
-
Bank Mandiri Salurkan KUR Rp17,77 Triliun hingga Mei 2026, Sektor Pertanian Jadi Penerima Terbesar
-
Presiden RI dan PM Singapura Tegaskan Kesepakatan Perihal Selat Malaka
-
Mulai Juli 2026, Pemutihan Data SLIK Wajib Selesai dalam 3 Hari Kerja
-
Sudah Dapat 4 Juta Ha Lahan, Agrinas Akan Buka 400.000 Ha Kebun Sawit Baru
-
Penyeragaman Kemasan Rokok Akan Picu Masalah-masalah Baru