Bisnis / Energi
Jum'at, 10 Juli 2026 | 14:38 WIB
Ilustrasi proyek LNG. (pgnlng.co.id)
Baca 10 detik
  • Kementerian ESDM menetapkan kebijakan harga LNG sebesar 13 dolar AS per MMBTU hingga 31 Desember 2026 mendatang.
  • Kebijakan ini ditujukan bagi industri non-HGBT di Jawa bagian Barat yang mengalami dampak penurunan pasokan gas pipa.
  • Pemberian harga LNG murah bertujuan menjaga keberlangsungan operasional industri padat karya serta mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja.

Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa kebijakan harga LNG murah untuk industri sebesar 13 dolar AS per MMBTU hanya akan berlaku hingga 31 Desember 2026. Sebagaimana diketahui harga tersebut mulai berlaku sejak 29 Juni lalu.

"Itu sampai dengan 31 Desember 2026 penyesuaian itu ya, karena ini kan kita perhitungannya itu per tahun. Jadi hanya sampai akhir tahun," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman kepada wartawan di Jawa Barat yang dikutip pada Jumat (10/7/2026).

Ia juga tidak menjamin bahwa harga murah tersebut masih akan diberlakukan untuk tahun 2027.

"Kita belum bicara tahun depan, tahun ini saja," kata Laode.

Sebelumnya, Kementerian ESDM memangkas harga LNG untuk sektor industri dari kisaran 20 dolar AS – 23 dolar AS menjadi 13 dolar AS per MMBTU. Kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk meredam badai pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa harga LNG 13 dolar AS per MMBTU tersebut tidak berlaku secara nasional. Kebijakan ini hanya ditujukan bagi industri non-HGBT di wilayah Jawa bagian barat yang terdampak penurunan pasokan gas pipa.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut]

"Hanya untuk secara spesifik untuk industri non-HGBT yang terdampak oleh penurunan pasokan gas pipa khususnya di wilayah Jawa bagian Barat," katanya pada Selasa (30/7/2026) lalu.

Anggia menambahkan, kriteria penerima fasilitas ini dibatasi pada industri padat karya dan berorientasi ekspor yang sangat bergantung pada gas sebagai bahan bakar utama.

"Ini untuk memastikan pasokan LNG bagi industri biar tetap jalan, terjamin meskipun kebutuhan terkait energi nasional yang lainnya tetap ada juga kan," pungkasnya.

Baca Juga: BBM Shell Masih Kosong Hingga Saat Ini, Anak Buah Bahlil: Cerita Lama!

Load More