Bisnis / Makro
Selasa, 14 Juli 2026 | 19:12 WIB
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Tito Karnavian saat diwawancarai wartawan di Kota Padang, Selasa (13/1/2026). [Dok. Antara/ Muhammad Zulfikar]
Baca 10 detik
  • Inflasi Juli 2026 naik ke 3,34%, masih di bawah target pemerintah.
  • Tarif pesawat, bawang putih, minyak goreng, dan beras jadi pemicu inflasi.
  • Pemerintah siapkan stabilisasi harga dan penurunan biaya transportasi.

Suara.com - Tekanan inflasi nasional pada Juli 2026 mulai menunjukkan tren kenaikan. Meski masih berada di bawah batas target pemerintah, lonjakan tarif angkutan udara dan naiknya harga sejumlah bahan pangan menjadi faktor utama yang mendorong inflasi bulan ini.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan tingkat inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,34 persen (year on year), masih lebih rendah dibanding target nasional sebesar 3,5 persen. Namun, secara bulanan (month to month), pemerintah mencermati adanya kenaikan yang perlu segera diantisipasi agar tidak berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.

"Inflasi kita di angka 3,34 relatif terkendali di bawah target nasional, 3,5 persen maksimal. Kemudian kalau kita lihat dari month to month-nya memang ada tren naik," ujar Tito usai rapat koordinasi pengendalian inflasi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Menurut Tito, sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar kenaikan inflasi, terutama akibat melonjaknya tarif angkutan udara. Kondisi tersebut diduga dipicu tingginya mobilitas masyarakat selama masa libur sekolah.

"Dengan penyumbang utamanya adalah sektor transportasi dan kemudian terutama angkutan udara. Mungkin libur anak-anak kemarin, libur sekolah," katanya.

Selain transportasi, tekanan inflasi juga datang dari kelompok makanan dan minuman. Tito menyebut harga bawang putih, minyak goreng, dan beras mengalami kenaikan sehingga ikut mendorong inflasi nasional.

"Ditambah dengan sektor makan minuman, terutama adalah bawang putih. Kemudian minyak goreng. Sama beras ada kenaikan sedikit," ujarnya.

Pemerintah pun menyiapkan sejumlah langkah untuk meredam tekanan inflasi. Di sektor transportasi, koordinasi dilakukan untuk menekan biaya operasional, termasuk memanfaatkan penurunan harga BBM jenis bensin yang mulai berlaku pada Juli 2026.

Menurut Tito, kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan biaya transportasi, khususnya angkutan udara, sehingga memberikan dampak terhadap laju inflasi pada periode berikutnya.

Baca Juga: Alasan Pemerintah Optimis Inflasi Mereda, Mendagri Singgung Harga BBM

"Sekarang lagi dikoordinasikan langkah-langkah untuk menangani masalah angkutan udara. BBM jenis bensin di Juli ini diturunkan harganya. Ini mudah-mudahan akan berpengaruh juga untuk menurunkan inflasi," ungkapnya.

Sementara itu, untuk komoditas pangan, pemerintah akan memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Penanganan harga bawang putih dan minyak goreng akan melibatkan Kementerian Perdagangan, sedangkan stabilisasi harga beras dilakukan bersama Kementerian Pertanian, Perum Bulog, dan Badan Pangan Nasional.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga pasokan dan menstabilkan harga pangan di berbagai daerah sehingga tekanan inflasi dapat kembali terkendali dalam beberapa bulan mendatang.

Load More