- PT Amman Mineral Nusa Tenggara menargetkan produksi 16 ton emas serta berbagai komoditas logam lainnya hingga akhir 2026.
- Peningkatan target produksi akan dicapai melalui optimalisasi volume pemrosesan bijih tambang yang dimulai sejak tahun depan.
- Perusahaan memprioritaskan penjualan seluruh hasil produksi ke pasar domestik sebelum mempertimbangkan opsi ekspor setelah kapasitas maksimal tercapai.
Suara.com - PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) menargetkan produksi emas dari fasilitas pemurniannya dapat mencapai sekitar 16 ton hingga akhir tahun 2026. Target tersebut seiring dengan rencana peningkatan volume pemrosesan bijih (ore) hasil penambangan yang akan dioptimalkan mulai tahun depan.
Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara, Rachmat Makkasau, menjelaskan bahwa selain emas, perusahaan juga membidik produksi komoditas logam dan produk sampingan lainnya dalam skala besar hingga akhir tahun ini.
"Rencana produksi sampai akhir tahun 2026, kita berencana untuk produksi sekitar 162 ribu ton katoda tembaga, kemudian sekitar 16 ton emas, 45 ton perak, kemudian ada juga selenium sekitar 91 ton, telurium sekitar 1,96 ton, dan produksi asam sulfat diperkirakan mencapai sekitar 572 ribu ton," ujar Rachmat saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Selasa (14/7/2026).
Rachmat menambahkan, volume produksi saat ini sebesar 46 ribu ton katoda tembaga, 3,7 ton emas, serta 14,6 ton perak. Angka-angka tersebut diproyeksikan terus meningkat dalam kurun waktu tiga tahun ke depan sejalan dengan intensifikasi pengambilan bijih di area pertambangan.
Terkait serapan hasil produksi, AMNT menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan pasar dalam negeri. Namun, perusahaan tidak menutup peluang untuk melakukan ekspor apabila seluruh kapasitas produksi sudah berjalan maksimal.
"Keseluruhan produk, prioritas utama adalah penjualan ke domestik. Namun kita lihat dalam perkembangan pada saat semua produksi sudah maksimal, kemungkinan kita akan perlu ekspor, terutama katoda tembaga," pungkas Rachmat.
Berita Terkait
-
Harga Emas Antam Logam Mulia Terbaru 14 Juli 2026: dari 0,5 Gram hingga 1.000 Gram
-
Profil dan Daftar Pemegang Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
-
Amman Mineral Dapat Restu Pemerintah untuk Ekspor Konsentrat Tembaga
-
Amman Mineral Punya Bos Baru, Arief Sidarto Resmi Jadi Direktur Utama
-
Alexander Ramlie Mendadak Mundur Jadi Direktur Utama Amman Mineral Jelang RUPST
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Purbaya Girang S&P Pertahankan Rating Indonesia: Bukan Indonesia Cemas tapi Indonesia Emas
-
Inflasi Juli 2026 Naik ke 3,34%, Tiket Pesawat hingga Harga Beras Jadi Pemicu
-
Alasan Pemerintah Optimis Inflasi Mereda, Mendagri Singgung Harga BBM
-
Bayer Rombak Jajaran Direksi, Tunjuk Simon Rosof Sebagai Bos Baru
-
Dikritik DPR, Purbaya Klaim Utang Pemerintah Masih Aman Meski Nyaris Rp 10.000 Triliun
-
Freeport Targetkan Blok Kucing Liar Papua Tahun 2029, Hasilkan Jutaan Ons Emas
-
Purbaya Akhirnya Bongkar Masalah di Program MBG, Janji Bakal Libatkan Rakyat
-
Polemik Revisi UU Hak Cipta, Google Respon Wacana Pemerintah
-
Setoran Freeport ke Negara Turun Menjadi USD 2,6 Miliar pada 2026
-
Bahlil Diserang PDIP Soal Batu Bara PLN, Ade Ginanjar Pasang Badan: Jangan Politisasi Energi