- Mendagri Tito Karnavian menurunkan harga BBM nonsubsidi per Juli 2026 guna menekan inflasi di sektor transportasi darat.
- Pemerintah mengoordinasikan langkah taktis untuk mengendalikan kenaikan harga tiket pesawat akibat lonjakan mobilitas selama masa liburan sekolah.
- Pemerintah mempererat koordinasi antarkementerian untuk menstabilkan harga komoditas pangan seperti beras, minyak goreng, dan juga bawang putih.
Suara.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku optimis dengan langkah penyesuaian turun pada harga bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin per Juli 2026 dapat menjadi instrumen efektif untuk meredam laju inflasi nasional.
Kebijakan ini diharapkan mampu menahan gejolak harga secara khusus di sektor transportasi darat.
Aspirasi tersebut disampaikan langsung oleh Tito kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, guna merespons dinamika indeks harga konsumen secara bulanan (month-to-month) yang menunjukkan tren merangkak naik akibat lonjakan tarif akomodasi angkutan udara.
"Persoalan tersebut sudah saya sampaikan kepada Bapak Menko. Saat ini pemerintah tengah mengoordinasikan langkah-langkah taktis untuk mengintervensi tarif angkutan udara. Di sisi lain, harga beberapa jenis bensin pada Juli ini telah resmi diturunkan, yang diharapkan membawa dampak positif bagi penurunan inflasi," urai Tito seusai menghadiri agenda rapat koordinasi pengendalian inflasi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Lebih lanjut, Tito memaparkan bahwa posisi tingkat inflasi tahunan secara akumulatif masih berada di level 3,34 persen. Angka tersebut dinilai relatif terkendali karena masih berada di bawah batas atas target yang ditetapkan pemerintah, yakni maksimal 3,5 persen. Kendati demikian, sinyal kewaspadaan tetap muncul seiring peningkatan inflasi dalam skala bulanan.
Sektor transportasi diidentifikasi menjadi kontributor utama terhadap kenaikan indeks harga ini. Tingginya pergerakan dan mobilitas masyarakat yang bertepatan dengan momentum libur panjang sekolah dituding menjadi pemicu utama melesatnya harga tiket pesawat terbang.
"Meskipun inflasi tahunan kita di posisi 3,34 persen masih aman di bawah pagu nasional, data bulanan menunjukkan adanya tren peningkatan. Sektor transportasi, khususnya moda angkutan udara, menjadi pemicu utamanya, yang kemungkinan besar dipicu oleh siklus liburan sekolah anak-anak pada periode sebelumnya," jelasnya.
Selain tantangan pada sektor mobilitas, mantan Kapolri ini juga menggarisbawahi andil kenaikan sejumlah harga komoditas pangan pokok yang turut mengerek naik beban pengeluaran masyarakat. B
eberapa bahan pokok yang memerlukan perhatian khusus di antaranya mencakup bawang putih, minyak goreng curah maupun kemasan, serta komoditas beras di sejumlah wilayah.
Baca Juga: Airlangga Ungkap Biang Kerok Neraca Dagang Sempat Defisit, Impor BBM Jadi Pemicu
"Kami juga memantau pergerakan harga di sektor makanan dan minuman. Komoditas seperti bawang putih, minyak goreng, dan komoditas beras terindikasi mengalami sedikit lonjakan harga di pasar domestik," tambah Tito.
Guna mengatasi persoalan ini, pemerintah berkomitmen mempererat sinergi regulasi lintas kementerian dan lembaga. Langkah pengendalian suplai serta harga bawang putih dan minyak goreng akan digarap bersama Kementerian Perdagangan.
Sementara itu, untuk meredam fluktuasi harga beras, Kemendagri menggerakkan kolaborasi aktif dengan Kementerian Pertanian, Perum Bulog, serta Badan Pangan Nasional (Bapanas).
"Untuk meredam gejolak harga beras di daerah-daerah tertentu, intervensi cepat harus segera dilakukan. Pihak Kementerian Pertanian, Bulog, maupun Badan Pangan Nasional telah memaparkan kesiapan mereka untuk melakukan langkah stabilisasi pasokan," tegas Tito.
Sebagai informasi tambahan, PT Pertamina Patra Niaga per 1 Juli 2026 lalu telah melakukan penyesuaian harga ke bawah untuk lini produk BBM non-subsidi.
Dalam kebijakan terbarunya, varian Pertamax Turbo kini disesuaikan menjadi Rp19.300 per liter, produk Dexlite berada di angka Rp19.700 per liter, sedangkan jenis Pertamina Dex dipasarkan pada tingkat harga Rp21.150 per liter.
Berita Terkait
-
Prabowo Perintahkan Harga Khusus BBM untuk Nelayan Kapal 30200 GT
-
Menko Airlangga Kaji Harga BBM Khusus untuk Nelayan Berkapal Besar
-
Pemerintah Kaji Harga Khusus BBM untuk Kapal Nelayan 30-200 GT
-
Mendagri Minta Pemda Akselerasi Program BSPS, Target 400 Ribu Rumah
-
Airlangga Ungkap Biang Kerok Neraca Dagang Sempat Defisit, Impor BBM Jadi Pemicu
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Bayer Rombak Jajaran Direksi, Tunjuk Simon Rosof Sebagai Bos Baru
-
Dikritik DPR, Purbaya Klaim Utang Pemerintah Masih Aman Meski Nyaris Rp 10.000 Triliun
-
Freeport Targetkan Blok Kucing Liar Papua Tahun 2029, Hasilkan Jutaan Ons Emas
-
Purbaya Akhirnya Bongkar Masalah di Program MBG, Janji Bakal Libatkan Rakyat
-
Polemik Revisi UU Hak Cipta, Google Respon Wacana Pemerintah
-
Setoran Freeport ke Negara Turun Menjadi USD 2,6 Miliar pada 2026
-
Bahlil Diserang PDIP Soal Batu Bara PLN, Ade Ginanjar Pasang Badan: Jangan Politisasi Energi
-
IHSG Bertahan di Atas 6.000, Tapi Dihantam Saham Perbankan
-
Tak Sekadar Chatbot, Investor Ritel Bisa Manfaatkan AI untuk Analisis Saham
-
Rupiah Menguat Tipis Berkat Sentimen Positif S&P Global Ratings