Bisnis / Energi
Kamis, 16 Juli 2026 | 15:47 WIB
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia meresmikan pembangunan proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku. [Tangkapan Layar].
Baca 10 detik
  • Pemerintah memulai proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar pada 16 Juli 2026 setelah tertunda 28 tahun.
  • Proyek senilai Rp390 triliun ini ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG dan 35 ribu barel kondensat setiap tahunnya.
  • Pengembangan Blok Masela diproyeksikan memberikan kontribusi besar bagi PDB nasional serta menyerap ribuan tenaga kerja lokal di Maluku.

Suara.com - Pemerintah akhirnya memulai proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Proyek ini sempat tertunda selama 28 tahun sejak pertama kali dicanangkan pada 1998.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan eksekusi proyek ini berhasil dilakukan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. 

"Pada hari ini, tepat pada tanggal 16 Juli 2026, kita menandai babak baru (0:38) Proyek Abadi Masela yang sudah dicanangkan 28 tahun lalu, sudah enam Presiden, Presiden Prabowo Subianto-lah yang bisa mengeksekusi hari ini," kata Bahlil dalam laporannya saat groundbreaking, Kamis (16/7/2026).

Ia menyampaikan dengan dilakukannya peletakan batu pertama, pengembangan Blok Masela secara resmi dimulai. 

Proyek LNG Abadi Blok Masela. [INPEX]

"Yang pertama adalah 11  sumur pengembangan ditambah empat sumur  lanjutan Yang kedua pembangunan fasilitas, berbagai macam fasilitas termasuk pelabuhan, dermaga, devisinya, ini langsung berjalan," kata Bahlil. 

Adapun nilai investasi dari proyek  tersebut diperkirakan mencapai 20,95 miliar dolar AS atau setara dengan Rp390 triliun.  Ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun dan 35 ribu barel kondensat per hari. 

Gas yang dihasilkan akan dialokasikan minimal 60 persen untuk kebutuhan domestik, termasuk untuk industri hilirisasi. Sementara maksimal 40 persen sisanya dialokasikan untuk ekspor. 

Dari sisi dampak ekonomi, proyek ini diproyeksikan memberikan pendapatan negara langsung sebesar 37,8 miliar dolar AS dan kontribusi PDB nasional mencapai 137,8 miliar dolar AS. Selain itu, proyek diperkirakan meningkatkan PDB Provinsi Maluku sebesar 95 miliar dolar AS dan PDB Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebesar 92 miliar dolar AS.

Terkait penyerapan tenaga kerja, proyek ini diperkirakan menyerap 12.000 pekerja pada masa konstruksi dan sekitar 800 hingga 1.000 pekerja saat operasional. Bahlil menegaskan pemerintah berkomitmen memprioritaskan masyarakat setempat. 

Baca Juga: Minyak Rusia Masuk Cadangan Energi RI, Pemerintah Siapkan Tameng Hadapi Gejolak Pasokan Global

Load More