Bisnis / Makro
Senin, 20 Juli 2026 | 08:16 WIB
Ilustrasi pergerakan saham di bursa Wall Street. [Pexels].
Baca 10 detik
  • Indeks utama Wall Street melemah signifikan pada Jumat (17/7) akibat aksi jual massal saham teknologi dan semikonduktor.
  • Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah serta ketidakpastian distribusi energi global.
  • Sentimen negatif bursa Amerika Serikat menyebabkan kejatuhan indeks saham di Asia, kecuali pada pasar modal Indonesia sendiri.

Suara.com - Pasar keuangan global tengah menghadapi tekanan hebat setelah mayoritas indeks utama di Wall Street ditutup melemah signifikan pada perdagangan hari Jumat (17/7). Merosotnya bursa saham Amerika Serikat ini dipicu oleh aksi jual massal pada saham-saham sektor teknologi dan semikonduktor.

Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI) dari China serta kembali memanasnya situasi geopolitik akibat konflik bersenjata antara AS dan Iran.

Berdasarkan data penutupan pasar, indeks S&P 500 jatuh sebesar 1,01%, diikuti oleh Nasdaq Composite yang ambles hingga 1,4%, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,77%.

Tekanan paling berat dirasakan oleh sektor semikonduktor, di mana ETF VanEck Semiconductor (SMH) mencatat penurunan mingguan ketiga dalam empat pekan terakhir dengan total koreksi mendekati 9%.

Sentimen negatif di sektor teknologi ini merebak setelah Moonshot AI, sebuah perusahaan rintisan (startup) asal China, meluncurkan model AI teranyar mereka.

Model baru tersebut diklaim mampu mempersempit jarak performa dengan model-model AI terdepan yang selama ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan asal AS.

Selain saham berbasis cip, raksasa hiburan Netflix juga menjadi salah satu pemberat utama pasar setelah harga sahamnya anjlok lebih dari 7%.

Investor global mengaku kecewa lantaran proyeksi kinerja perusahaan dinilai belum cukup kuat untuk meredakan kekhawatiran terkait perlambatan pertumbuhan bisnis ke depan.

Di sisi lain, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada eskalasi konflik militer antara AS dan Iran yang kembali memanas. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam menyusul aksi saling serang yang kembali dilancarkan oleh kedua belah negara.

Baca Juga: IHSG Nyaman di Level 6.000, Saham WIFI Melesat

Teheran bahkan mengklaim telah menyerang pasukan militer AS yang berada di Suriah dan Bahrain, sehingga memperluas cakupan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan ini kembali mengganggu kelancaran arus distribusi energi melalui Selat Hormuz, rute pelayaran strategis yang dilewati oleh sekitar 20% perdagangan minyak dunia.

Bursa Saham Asia Ikut Terseret Anjlok

Sentimen negatif dari bursa AS dengan cepat menjalar ke pasar ekuitas Asia pada hari Jumat (17/7) pekan lalu. Kejatuhan saham teknologi global memicu kekhawatiran besar terhadap keberlanjutan belanja investasi di sektor AI.

Indeks Nikkei 225 Jepang merosot tajam sebesar 4,03%, sementara indeks Topix melemah 2,72%. Di Jepang, saham SoftBank terjun bebas 8,8%, pembuat peralatan cip Tokyo Electron anjlok 9%, dan saham Advantest ambruk hingga 9,4%.

Kondisi serupa terjadi di Taiwan, di mana indeks Taiex ambles secara dramatis sebesar 6,47%. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,78%, dan ASX 200 Australia berkurang 0,50%. Indeks FTSE Straits Times Singapura turut melemah 0,54%, berbanding terbalik dengan FTSE Malay KLCI yang berhasil naik 0,54%. Di sisi lain, pasar saham Korea Selatan tidak melakukan aktivitas perdagangan karena sedang memperingati hari libur umum.

Load More