Bisnis / Makro
Minggu, 19 Juli 2026 | 12:13 WIB
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]
Baca 10 detik
  • Bursa Efek Indonesia mencatat tujuh perusahaan berhasil melantai di bursa dengan total dana Rp2,16 triliun per Juli 2026.
  • Terdapat empat calon emiten dengan skala aset beragam yang kini sedang mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham.
  • Calon emiten dalam antrean tersebut didominasi oleh perusahaan dari sektor kesehatan, bahan baku, serta sektor barang konsumen primer.

Suara.com - Aktivitas penggalangan dana di pasar modal dalam negeri menunjukkan gairah yang optimistis. Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan masih ada sejumlah calon emiten yang masuk dalam daftar antrean (pipeline) untuk menggelar Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO) sepanjang sisa tahun 2026 ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, memaparkan bahwa saat ini terdapat empat calon perusahaan, baik yang berkategori aset skala kecil maupun besar, yang telah resmi mengajukan permohonan IPO.

Kehadiran para calon emiten baru ini mempertegas bahwa iklim investasi di pasar modal Indonesia terus memperlihatkan tren pertumbuhan yang positif hingga memasuki pertengahan tahun ini.

"Sampai dengan 17 Juli 2026 telah tercatat tujuh perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dana dihimpun Rp 2,16 triliun. Hingga saat ini, terdapat empat perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," kata Saidu kepada media di Jakarta, Minggu (19/7).

Jika ditinjau dari sisi regulasi, pengelompokan skala aset bagi perusahaan yang saat ini berada di dalam daftar antrean tersebut mengacu pada ketentuan POJK Nomor 53/POJK.04/2017.

Rinciannya terdiri dari dua korporasi dengan aset skala kecil atau memiliki nilai aset di bawah Rp50 miliar, serta dua korporasi dengan aset skala besar yang nilainya berada di atas Rp250 miliar.

Dari aspek sektoral, antrean calon saham baru ini didominasi oleh sektor kesehatan (Healthcare) sebanyak dua perusahaan atau setara dengan 50 persen. Sementara sisa porsi lainnya diisi oleh satu perusahaan dari sektor bahan baku (Basic Materials) sebesar 25 persen, dan satu perusahaan dari sektor barang konsumen primer (Consumer Non-Cyclicals) sebesar 25 persen.

Di sisi lain, sepanjang periode Januari hingga pertengahan Juli 2026, BEI mencatat baru ada tujuh emiten baru yang telah resmi merampungkan proses IPO dan melantai di papan perdagangan bursa.

Melalui aksi korporasi strategis tersebut, akumulasi dana segar yang berhasil dikumpulkan secara keseluruhan mencapai Rp2,16 triliun.

Baca Juga: DBS Indonesia Ramal IHSG Tembus 8.000, Rupiah Bisa Menguat ke Level Rp17.600

Ketujuh emiten yang sudah terlebih dahulu mencatatkan sahamnya di bursa pada tahun ini meliputi PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT ESA MEDIKA MANDIRI TBK (EMMI), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), serta PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS).

DISCLAIMER 
Artikel ini disajikan murni sebagai sarana penyebaran informasi jurnalistik mengenai aktivitas korporasi dan dinamika di pasar modal domestik. Rencana pencatatan saham (IPO) dari calon emiten yang berada dalam pipeline BEI bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai dengan keputusan manajemen perusahaan serta persetujuan regulator. Investasi pada instrumen saham memiliki risiko fluktuasi harga dan likuiditas. Pembaca diimbau bijak dan selalu melakukan analisis mandiri secara mendalam (Due Diligence) sebelum mengambil keputusan investasi finansial.

Load More