- Bank Indonesia melaporkan nilai tukar rupiah menguat mencapai level Rp17.994 per dolar AS pada 31 Juli 2026.
- Pjs Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan pemulihan tersebut hasil penerapan bauran kebijakan moneter yang visioner.
- Bank sentral menaikkan suku bunga acuan bertahap dan melakukan intervensi terukur di pasar valuta asing.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan performa positif dengan mencatatkan tren penguatan pada penutupan akhir bulan lalu.
Laporan terbaru dari Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa mata uang Garuda berhasil melepaskan diri dari jerat tekanan berat yang sempat membayangi pasar keuangan domestik sejak pertengahan Juni 2026.
Momentum pemulihan ini diyakini tidak lepas dari rentetan langkah strategis otoritas moneter dalam meracik kebijakan di tengah pusaran ketidakpastian.
Berdasarkan rilis data resmi Bank Indonesia, posisi nilai tukar rupiah ditutup menguat hingga menembus level Rp17.994 per dolar AS pada tanggal 31 Juli 2026.
Pencapaian angka ini menjadi angin segar bagi para pelaku pasar dan dunia usaha, mengingat fluktuasi mata uang kerap menjadi tantangan utama dalam menjaga margin operasional bisnis.
Keberhasilan menjaga stabilitas nilai tukar tersebut diakui sebagai salah satu fokus fundamental perbankan sentral untuk menavigasi iklim ekonomi global yang masih dibayangi risiko tinggi.
Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, memberikan penjelasan mendalam mengenai faktor di balik kembalinya keperkasaan rupiah.
Menurutnya, pemulihan posisi mata uang nasional ini merupakan buah manis dari penerapan bauran kebijakan moneter yang dirancang dan dieksekusi secara hati-hati.
Langkah otoritas tidak sekadar responsif, melainkan mengedepankan prinsip yang visioner demi membentengi nilai tukar sembari memastikan angka inflasi nasional tidak melenceng dari target.
Baca Juga: Gegara Kereta Cepat, Laba Bersih KAI Anjlok 73,9% Jadi Rp305,3 M di Semester I-2026
"Bank Indonesia menempuh kebijakan suku bunga yang pre-emptive dan forward-looking untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah serta menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran yang telah ditetapkan Pemerintah," ujar Destry Damayanti dalam rapat KSSK, Senin (3/8/2026).
Apabila menilik rekam jejak kebijakan sepanjang tahun 2026, Bank Indonesia memang terlihat agresif namun terukur dalam menyesuaikan instrumen suku bunga acuan atau BI-Rate.
Penyesuaian tersebut dilakukan secara bertahap guna merespons eskalasi tantangan pasar. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Mei 2026, bank sentral memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin sehingga posisinya mencapai 5,25 persen.
Langkah pengetatan kebijakan tersebut tidak berhenti di situ. Guna memitigasi gejolak lanjutan, BI kembali mengerek naik BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada momen RDG Mingguan yang digelar 9 Juni 2026. Tidak berselang lama, pada RDG bulanan Juni 2026, suku bunga kembali dinaikkan 25 basis poin yang membawanya bertengger di level 5,75 persen.
Memasuki periode RDG Juli 2026, Bank Indonesia akhirnya memutuskan untuk mengambil jeda dengan mempertahankan posisi BI-Rate tetap di level 5,75 persen.
Keputusan menahan suku bunga ini dibarengi dengan peluncuran perluasan kebijakan insentif serta optimalisasi ragam instrumen lain yang bertujuan memikat kembali aliran masuk investasi portofolio asing. Langkah komprehensif ini juga diarahkan untuk mempercepat pendalaman struktur Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA), serta memompa pasokan likuiditas di industri perbankan nasional.
Berita Terkait
-
Kerja Keras Tahan Rupiah Melemah, Gimana Kondisi Cadangan Devisa
-
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.997 Jelang Laporan Pertumbuhan Ekonomi RI
-
BPS Ungkap Fakta Pahit: Petani RI Kini Kehilangan Daya Tawar
-
Bukan Sekadar Angka di Layar: Menagih Kedaulatan Rupiah dan Jurus BI Lepas dari Kecanduan Dolar
-
Rupiah Akhirnya Tembus di Bawah Rp18.000 Pagi Ini, Dipicu Harapan Damai Timur Tengah
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Rupiah Menguat, BI Tahan Suku Bunga dan Perkuat Intervensi Pasar Valas
-
Deathstalker: Hadir dengan Petualangan Pahlawan Barbar Melawan Penyihir!
-
Intip Spesifikasi Suzuki Fronx SGX Hybrid Kuro yang Tampil Lebih Maskulin di GIIAS 2026
-
Pasar Modal Indonesia Mulai Pulih, Ini Buktinya
-
Harga Motor Listrik Honda, Simak Perbedaan ICON e: vs EM1 e: vs CUV e:
-
Siswa Sekolah Rakyat Makassar Borong Medali di Tiga Ajang Bergengsi
-
3 Rekomendasi Sepatu Gumi Paling Worth It untuk Lari, Produk Lokal Harga Bersahabat
-
Songsong Indonesia Emas 2045, Wamendagri Ajak Mahasiswa Bangun Karakter & Kompetensi Kepemimpinan
-
IHSG Diproyeksi Menguat Hari Ini di Tengah Pertumbuhan Pesat Investor Saham
-
Kisah Sitti Fatimah Dorong Anaknya ke Laut Saat KMP Mutiara Sentosa Terbakar