BRI Danareksa Revisi Turun Target Harga Saham BRMS, Kinerja Jadi Sebab

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:49 WIB
Bumi Resources Minerals
  • BRI Danareksa Sekuritas menurunkan target harga saham BRMS menjadi Rp700 pada 9 Agustus 2026.
  • Pendapatan BRMS turun 21 persen menjadi US$95,8 juta akibat volume produksi emas yang meleset.
  • Kendala teknis pengupasan lapisan material tambang menyebabkan perusahaan mencatatkan rugi bersih pada kuartal kedua.

Suara.com - PT Bumi Resources Minerals Tbk, emiten tambang emas yang melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BRMS, tengah menghadapi sorotan tajam terkait performa keuangannya di paruh pertama tahun ini.

Berdasarkan laporan pada Minggu (9/8/2026), lembaga riset pasar modal BRI Danareksa Sekuritas resmi melakukan penyesuaian dengan menurunkan target harga (target price) saham BRMS ke level Rp700 per lembar saham.

Penurunan target ini dilatarbelakangi oleh pencapaian volume produksi serta angka penjualan emas perseroan pada semester I-2026 yang meleset dari ekspektasi pasar.

Mengkaji lebih dalam lembar laporan keuangan emiten grup Bakrie ini, BRMS mencatatkan koreksi pendapatan yang cukup dalam.

Sepanjang periode enam bulan pertama di tahun 2026, perseroan hanya sanggup membukukan pendapatan sebesar US95,8juta.

Angka ini merepresentasikan penurunan hingga 21 persen apabila dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year−on−year).

"Realisasi tersebut baru mencapai 12,1% dari proyeksi kami dan 13,2% dari estimasi konsensus untuk laba BRMS tahun 2026," kata Andhika Audrey, Analis BRI Danareksa Sekuritas.

Fase terberat bagi perseroan terlihat jelas saat memasuki periode kuartal kedua tahun ini. BRMS harus menelan pil pahit dengan mencatatkan posisi rugi bersih senilai US4,6juta pada kuartal II−2026. Kondisi ini berbanding terbalik 180 derajat jika dibandingkan dengan performa kuartalI−2026 yang masih sanggup menorehkan laba bersih sebesar US17,5 juta.

Sejalan dengan kerugian tersebut, pendapatan secara kuartalan (quarter-on-quarter) juga anjlok 62 persen hingga tersisa US$26,3 juta saja.

Biang keladi dari merosotnya performa finansial perseroan bersumber langsung dari area operasional tambang. Volume pengolahan mineral berharga mengalami kontraksi hebat yang bermuara pada minimnya hasil akhir pencetakan logam mulia.

"Produksi emas BRMS pada periode tersebut menyusut 57,4% secara kuartalan menjadi 6,3 ribu ons (thousand ounces/koz)," ujar Andhika Audrey, Analis BRI Danareksa Sekuritas.

Penurunan volume ini sejatinya dipicu oleh kendala teknis penambangan, yakni adanya aktivitas pengupasan lapisan material area tambang atau yang lazim dikenal dengan istilah pushback di lokasi River Reef.

Proses pushback ini wajib dilakukan untuk mengakses cadangan bijih yang lebih dalam, namun imbas jangka pendeknya adalah terhambatnya proses ekstraksi harian. Hal ini menyebabkan kadar bijih emas (ore grade) yang berhasil diolah fasilitas pabrik turun drastis ke level 0,9 gram per ton.

Situasi ini diperparah oleh dinamika pasar domestik yang sempat mengalami kelebihan pasokan sementara, serta terkoreksinya harga jual rata-rata (ASP) emas sebesar 8,3 persen ke posisi US$4.138 per ons.

Meskipun tahapan pushback tersebut dilaporkan telah rampung pada bulan Juli 2026, pihak BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa manajemen BRMS akan sangat kesulitan untuk mengejar revisi target produksi tahunan yang dipatok di kisaran 70 hingga 75 ribu ons untuk tutup tahun 2026.

Asumsi pesimistis ini sangat beralasan mengingat total realisasi produksi pada semester pertama baru menyentuh angka 21,1 ribu ons.

Menghadapi realitas operasional tersebut, tim riset terpaksa memangkas proyeksi laba bersih BRMS untuk tiga tahun ke depan, yakni masing-masing sebesar 35,5 persen untuk tahun 2026, 26,7 persen pada tahun 2027, dan 6,6 persen untuk tahun 2028, meskipun secara teknikal rekomendasi investasi untuk mengoleksi (beli) saham pertambangan ini tetap dipertahankan.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com