OJK Bidik Generasi Muda dan Lansia, Literasi Keuangan Masih Jadi Tantangan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:59 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. [Suara.com/Fakhri]
  • Otoritas Jasa Keuangan memprioritaskan kelompok usia 15–17 dan 51–79 tahun karena literasinya di bawah rata-rata nasional.
  • Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica menyampaikan hal tersebut berdasarkan hasil Survei Literasi dan Inklusi Keuangan 2026.
  • OJK menyusun program edukasi khusus dengan pendekatan sederhana dan aman untuk melindungi kelompok rentan dari kejahatan keuangan.

Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menempatkan kelompok usia muda 15–17 tahun dan masyarakat lanjut usia 51–79 tahun, sebagai sasaran prioritas dalam penguatan literasi dan inklusi keuangan nasional.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan, hasil Survei Literasi dan Inklusi Keuangan (SLLK) 2026 menunjukkan, tingkat literasi dan inklusi keuangan pada kedua kelompok usia tersebut masih berada di bawah capaian nasional.

"Kalau kita melihat, kelompok usia produktif di usia 26–35 tahun ini mempunyai tingkat literasi dan juga inklusi keuangan yang penting, yaitu 78,7 persen dan 96,27 persen," kata Friderica dalam paparannya di Gedung BPS, Senin (11/8/2026).

Sebaliknya, tingkat literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun tercatat sebesar 56,04 persen, sedangkan inklusi keuangannya mencapai 89,13 persen. 

Sementara itu, kelompok usia 51–79 tahun memiliki tingkat literasi keuangan sebesar 60,01 persen dan inklusi keuangan 90,57 persen.

Friderica menegaskan, kondisi tersebut menjadi perhatian OJK dalam menyusun program edukasi dan literasi keuangan yang lebih sesuai dengan karakteristik setiap kelompok usia.

"Ini tentunya juga menjadi fokus kita ke depan bagaimana menggodok program literasi dan inklusi untuk dua kelompok usia 15–17 tahun," ujarnya.

Menurut dia, edukasi keuangan bagi generasi muda perlu dilakukan sejak dini, bahkan sebelum mereka menjadi pengguna aktif berbagai produk dan layanan keuangan.

Sementara itu, pendekatan terhadap kelompok usia lanjut perlu dibuat lebih sederhana, aman, dan relevan dengan kebutuhan mereka.

"Sementara untuk kelompok usia lanjut, pendekatannya harus semakin sederhana, aman, dan relevan dengan kebutuhan mereka karena kita melihat berbagai macam scam dan lain-lain itu juga banyak menyasar usia-usia senior," jelas Friderica.

Ke depan, OJK akan memprioritaskan masyarakat yang memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan di bawah rata-rata nasional.

Kelompok tersebut mencakup masyarakat di wilayah perdesaan, usia muda 15–17 tahun, kelompok lanjut usia 51–79 tahun, serta sejumlah kelompok pekerjaan seperti petani, peternak, pekebun, nelayan, pelajar dan mahasiswa, pekerja lainnya, ibu rumah tangga, serta masyarakat yang belum atau tidak bekerja.

OJK juga memberikan perhatian kepada masyarakat dengan tingkat pendidikan dan pendapatan relatif rendah, termasuk mereka yang berpendidikan SMP atau sederajat ke bawah serta kelompok berpendapatan rendah.

Selain memperluas literasi, OJK akan memperkuat inklusi keuangan di seluruh sektor jasa keuangan. Masyarakat diharapkan tidak hanya memahami produk keuangan, tetapi juga memperoleh akses dan mampu menggunakan produk tersebut secara tepat.

"Yang berikutnya, penguatan literasi dan inklusi keuangan sektoral. Kami berharap bahwa masyarakat memiliki literasi keuangan yang baik dan mendapatkan akses keuangan seluas-luasnya atas produk dan layanan keuangan yang tersedia," tegasnya.

Ilustrasi manula. (Jose Antonio Alba / Pixabay)

OJK juga mendorong integrasi literasi keuangan ke dalam kurikulum pendidikan formal. Langkah tersebut ditujukan untuk membentuk sikap dan perilaku keuangan masyarakat sejak dini sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat berkembang menjadi keterampilan dalam mengelola keuangan.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com