Jadi Polemik, BPS Ungkap Alasan Warga Ekonomi Rendah Masuk Kelompok Desil Tinggi

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:21 WIB
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti. [IG/@amalia.adininggar]
  • Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan desil kesejahteraan DTSEN pada Senin, 24 Agustus 2026, merupakan pemeringkatan relatif posisi kesejahteraan keluarga.
  • BPS menggunakan metode statistik proxy means test dengan menilai berbagai karakteristik sosial ekonomi untuk menentukan sepuluh kelompok desil kesejahteraan keluarga.
  • Masyarakat yang mendapati data tidak sesuai dapat mengajukan pembaruan melalui layanan Cek Bansos dan Cek DTSEN resmi.

Suara.com - Penentuan desil kesejahteraan belakangan menjadi sorotan masyarakat. Sejumlah warga mempertanyakan hasil pemeringkatan karena ada keluarga dengan kondisi ekonomi rendah yang justru tercatat dalam kelompok desil tinggi.

Menanggapi hal ini, Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan cara penentuan desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

BPS menyebut desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan, bukan ukuran tunggal untuk menentukan kondisi ekonomi sebuah keluarga.

“Desil menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Karena itu, angka desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga,” jelas Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2026).

Amalia menjelaskan, keluarga diperingkatkan berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Setelah itu, keluarga dibagi menjadi 10 kelompok yang masing-masing mencakup sekitar 10 persen keluarga.

Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.

“Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi,” kata Amalia.

Karena bersifat relatif, keluarga yang masuk desil tertentu tidak otomatis memiliki pendapatan, pengeluaran, maupun kondisi sosial ekonomi yang sama.

Misalnya, keluarga pada desil 3 berarti berada pada kelompok ketiga dari 10 kelompok dalam pemeringkatan kesejahteraan relatif.

Amalia mengatakan, penentuan desil tidak hanya didasarkan pada penghasilan keluarga. Kepemilikan satu jenis barang, daya listrik, pekerjaan, maupun satu indikator tertentu juga tidak secara otomatis menentukan posisi desil.

Pemeringkatan mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersamaan.

Faktor yang digunakan antara lain kondisi perumahan, sumber air minum, bahan bakar dan energi untuk memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, serta disabilitas.

“Pemeringkatan mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi, yakni kondisi perumahan, sumber air minum, bahan bakar dan energi untuk memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, serta disabilitas,” terang Amalia.

Berbagai informasi tersebut kemudian diproses menggunakan metode statistik proxy means test (PMT) untuk mengestimasi tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan karakteristik yang dapat diamati.

Karena menggunakan kombinasi banyak karakteristik, satu kondisi yang terlihat pada sebuah keluarga tidak serta-merta membuat keluarga tersebut masuk desil tertentu.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com