- Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.847 per dolar AS pada perdagangan Senin, 21 September 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu kekhawatiran investor menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait keputusan suku bunga.
- Rupiah menjadi mata uang dengan tingkat penurunan paling dalam di kawasan Asia dibandingkan negara lainnya.
Suara.com - Nilai tukar rupiah berakhir ambruk pada perdagangan, Senin, 21 September 2026. Bahkan, rupiah menjadi mata uang paling anjlok di Asia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada ditutup ke level Rp17.847 per dolar AS, melemah 88 poin atau turun 0,50 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang ada di Rp17.731 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan pelemahan disebabkan oleh kekhawatiran investor mengenai suku bunga yang segera diumumkan oleh Bank Indonesia.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah kekuatiran investor menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesi yang dimana BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia menambahkan mata uang Asia umumnya menguat hari ini di tengah antisipasi pertemuan Xi dan Trump akhir pekan ini. Hal itu lah yang juga menjadi sentimen negatif terhadap rupiah.
"Walau rupiah masih dalam tekanan, namun BI dikabarkan akan mengintervensi," jelasnya
Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS sore ini. Won Korea Selatan paling kuat di Asia dengan menanjak 1,16 persen. Lalu ada dolar Taiwan yang naik 0,24 persen, baht Thailand positif 0,17 persen.
Diikuti oleh ringgit Malaysia yang menguat 0,13 persen dan dolar Singapura naik 0,05 persen. Sedangkan, yen Jepang anjlok 0,22 persen dan peso Filipina 0,06 persen.