Harga Minyak Dunia Naik Usai Serangan Kapal Tanker di Timur Tengah, Brent Terancam Anjlok 15 Persen

Jum'at, 06 November 2026 | 09:27 WIB
Ilustrasi kawasan terdampak konflik di Timur Tengah (Pexels/Baraa Obied)
BACA 10 DETIK
  • Harga minyak mentah dunia menguat di Asia pada Jumat (6/11/2026) akibat kekhawatiran gangguan pasokan.
  • Serangan baru terhadap kapal tanker dan fasilitas energi di Timur Tengah memicu lonjakan harga tersebut.
  • Meskipun menguat harian, harga minyak secara mingguan tetap mengalami penurunan tajam akibat dinamika politik Amerika Serikat.

Suara.com - Harga minyak mentah menguat pada awal perdagangan Jumat (6/11/2026) di Asia akibat kekhawatiran gangguan pasokan setelah munculnya serangan baru terhadap kapal tanker di Timur Tengah.

Kendati demikian, harga minyak secara mingguan tetap berada di jalur penurunan tajam seiring investor mengalkulasi ulang prospek konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Harga minyak mentah U.S. West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,7 persen ke level 91,14 dolar AS per barel.

Penguatan ini melanjutkan tren pemulihan pada perdagangan Kamis, saat minyak Brent ditutup melonjak hampir 4 persen dan WTI menguat 2,7 persen.

Rebound tersebut terjadi setelah kedua acuan harga minyak sempat anjlok lebih dari 8 persen pada Rabu, yang menyentuh titik terendah sejak 31 Agustus, akibat hasil pemilu sela AS yang sempat memicu harapan penyelesaian diplomatik atas konflik tersebut.

Secara akumulatif sepanjang pekan ini, harga minyak Brent menuju penurunan mingguan lebih dari 15 persen, sementara WTI mencatatkan penurunan sekitar 12 persen.

Harga minyak dunia, fasilitas minyak mentah. [Ist]

Rebound harga mencerminkan keraguan pasar bahwa tekanan politik dapat dengan cepat menghasilkan kesepakatan damai maupun pemulihan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat sedikitnya lima insiden kapal dilaporkan sejak Minggu. Frekuensi serangan ini mendekati rekor tertinggi pada Oktober lalu yang mencapai 35 insiden.

Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah setelah berupaya melintasi jalur tak berizin di Selat Hormuz.

Di saat bersamaan, Arab Saudi mengeluarkan peringatan bahaya di sekitar Yanbu, pusat ekspor minyaknya di Laut Merah, seiring berlanjutnya serangan dari kelompok Houthi asal Yaman.

Ketidakpastian geopolitik juga dibayangi oleh hasil pemilu sela AS, di mana Partai Demokrat berhasil menguasai dua badan legislatif (Kongres) dari Partai Republik.

Meski hasil pemilu sempat mendorong ekspektasi percepatan upaya diplomasi untuk menghentikan konflik, konstelasi politik baru tersebut belum menjamin lahirnya terobosan diplomatik secara instan.

Di sisi lain, saluran diplomasi antarnegara dinilai masih terbuka. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dilaporkan telah membahas perkembangan upaya stabilitas kawasan melalui sambungan telepon bersama Menlu Arab Saudi dan Qatar.

Selain di Timur Tengah, risiko gangguan pasokan juga datang dari Eropa Timur. Ukraina kembali melancarkan serangan ke kilang minyak Rusia, di mana kilang Ryazan yang merupakan salah satu fasilitas pengolahan terbesar Rusia dilaporkan menjadi sasaran serangan drone.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com