- Tensi geopolitik Timur Tengah dan ancaman Selat Hormuz membuat PT Chandra Asri Pacific Tbk mendiversifikasi sumber pasokan nafta.
- Perusahaan membangun fasilitas Condensate Splitter Unit di Singapura berkapasitas 300.000 barel per hari yang ditargetkan beroperasi tahun 2027.
- Fasilitas pemecah kondensat tersebut menghasilkan bahan baku alternatif setara 2,5 juta ton per tahun untuk menjaga fleksibilitas operasional industri.
Suara.com - Memanasnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berisiko tinggi memicu gangguan keamanan pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz kini memberikan efek rambat ke berbagai sektor manufaktur global. Merespon ancaman disrupsi rantai pasok tersebut, industri petrokimia di Tanah Air mulai mengambil langkah mitigasi agresif dengan mempercepat strategi diversifikasi sumber pasokan nafta (naphtha).
Manuver strategis ini mutlak diperlukan guna mengantisipasi risiko kelangkaan bahan baku utama yang berpotensi melumpuhkan mesin produksi perindustrian nasional.
Realitas tantangan suplai komoditas ini secara langsung dialami oleh raksasa petrokimia domestik, PT Chandra Asri Pacific Tbk (kode saham: TPIA). Selama bertahun-tahun, struktur produksi perseroan sangat bergantung pada aliran bahan baku dari kawasan Arab, di mana sekitar 80 persen dari total kebutuhan nafta reguler mereka harus didatangkan dengan melintasi perairan Selat Hormuz.
Tingginya tingkat ketergantungan pada satu jalur rawan konflik (chokepoint) tersebut memaksa manajemen perusahaan untuk segera bermanuver mencari sumber pasokan alternatif yang lebih aman dan dapat diandalkan secara jangka panjang.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri, Suryandi, mengungkapkan bahwa perseroan saat ini tengah mematangkan sejumlah skenario perlindungan operasional. Salah satu langkah fundamental yang disiapkan oleh perusahaan adalah pengembangan fasilitas Condensate Splitter Unit (CSU) yang berlokasi di hub logistik Singapura. Infrastruktur bernilai strategis ini ditargetkan dapat rampung dan beroperasi penuh pada tahun 2027 mendatang.
"Dengan adanya disrupsi terhadap pasokan dari Selat Hormuz, itu membuat kami lebih cepat agar rantai pasok ataupun alternatif naphtha tersebut dapat kita cari pasokannya, bukan hanya tergantung dari Middle East," ujar Suryandi di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Sebagai informasi bagi publik dan kalangan investor, fasilitas Condensate Splitter Unit merupakan infrastruktur pengolahan kilang khusus yang berfungsi untuk memecah kondensat menjadi berbagai produk turunan ringan. Suryandi memaparkan bahwa fasilitas yang saat ini tengah dibangun tersebut didesain dengan spesifikasi kapasitas pengolahan yang sangat masif, yakni diproyeksikan mampu menampung sekitar 300.000 barel per hari.
Kehadiran infrastruktur kelas dunia di Singapura ini dirancang untuk menghasilkan output bahan baku alternatif berkualitas tinggi yang siap dimanfaatkan untuk menopang padatnya kebutuhan industri petrokimia perseroan. Berdasarkan kalkulasi teknis korporasi, volume produksi bahan baku alternatif dari fasilitas pemecah kondensat tersebut diperkirakan mampu menyentuh angka setara 2,5 juta ton setiap tahunnya.
Melalui kehadiran tambahan kapasitas pasokan mandiri berskala raksasa tersebut, TPIA menaruh ekspektasi untuk memiliki tingkat fleksibilitas operasional yang jauh lebih luwes. Fleksibilitas ini menjadi instrumen penyelamat utama dalam menjaga stabilitas ketersediaan pasokan di fasilitas manufaktur mereka, terutama apabila suatu waktu terjadi blokade pelayaran atau pengurangan kuota ekspor secara sepihak dari negara-negara produsen migas di kawasan Timur Tengah.
"Condensate splitter ini akan menghasilkan bahan baku alternatif untuk naphtha. Secara setahun itu setara dengan 2,5 juta ton untuk industri. Nah, itu satu opsi atau pilihan yang sangat positif dan memberikan fleksibilitas kepada Chandra Asri," jelasnya.
Kendati tengah berinvestasi besar membangun ketahanan rantai pasok yang kokoh secara regional, Suryandi tetap bersikap pragmatis. Ia menegaskan bahwa kehadiran fasilitas CSU di negara tetangga tersebut tidak lantas membuat TPIA akan menutup total keran impor nafta mereka saat ini.
Pasokan komoditas dari bursa global luar negeri dinilai tetap menjadi elemen esensial yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan kebutuhan operasional industri di tengah tingginya arus permintaan produk plastik dan kemasan domestik.
"Kita tetap impor naphtha, tapi ini menjadi alternatifnya apabila ada terjadi gangguan lagi. Misalnya pabrik di Middle East ada gangguan, lalu pasokannya juga terganggu, kita akan punya alternatif," pungkasnya.