- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.147 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026.
- Pelemahan rupiah tersebut disebabkan oleh aksi jual investor asing serta kenaikan harga minyak mentah dunia.
- Analis memproyeksikan rupiah masih akan tertekan akibat antisipasi data ekonomi penting domestik dan eksternal pekan depan.
Suara.com - Nilai tukar rupiah berbalik meloyo pada penutupan pasa Jumat, 30 Oktober 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp18.147 per dolar AS, melemah 10 poin atau 0,06 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah ini didorong karena maraknya aksi jual investor asing.
"Rupiah ditutup melemah tertekan oleh sentimen risk off dan net sell asing di pasar ekuitas domestik yang berkelanjutan. Harga minyak mentah dunia yang terus naik juga ikut membebani," ujarnya saat dihubungi Suara.com.
Lukman memproyeksikan, rupiah masih akan tertekan pekan depan, dengan investor mengantisipasi serentetan data ekonomi dan agenda penting baik dari eksternal maupun internal.
"Salah satunya data ekonomi AS dan pemilu legislatif paruh waktu AS, dari domestik data perdagangan, inflasi, PDB dan cadangan devisa dijadwalkan akan dirilis pekan depan," imbuhnya.
Sementara itu, won Korea Selatan tetap menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melesat 0,58 persen. Selanjutnya ada rupee India yang melonjak 0,23 persen dan peso Filipina yang ditutup menanjak 0,17 persen. Diikuti, dolar Singapura terapresiasi 0,16 persen.
Berikutnya, baht Thailand terlihat naik 0,14 persen. Lalu, ringgit Malaysia terkerek 0,12 persen Disusul, yen Jepang yang menanjak 0,1 persen.
Kemudian ada yuan China yang naik 0,07 persen dan dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,005 persen terhadap the greenback. Sedangkan, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup terkoreksi 0,17 persen.