BI Sebut Intervensi Pasar Terus Berlanjut, Ini Rincian Strateginya

Rabu, 04 November 2026 | 09:14 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia (Unsplash/@nimbostratus)
BACA 10 DETIK
  • Bank Indonesia menegaskan komitmen menjaga stabilitas rupiah demi sektor riil di Jakarta pada Selasa (3/11/2026).
  • Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan stabilitas nilai tukar krusial untuk mencegah lonjakan inflasi barang impor.
  • Bank sentral menerapkan bauran kebijakan komprehensif dan intervensi pasar secara terukur untuk mengendalikan nilai rupiah.

Suara.com - Bank Indonesia (BI), kembali menegaskan komitmen penuhnya untuk terus mengawal dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Di tengah pusaran ketidakpastian yang bersumber dari tingginya tensi geopolitik global, pergeseran suku bunga bank sentral negara maju, hingga dinamika domestik, bank sentral menempatkan stabilitas mata uang Garuda sebagai prioritas yang tidak bisa ditawar.

Stabilitas ini dinilai sangat krusial, tidak hanya untuk menjaga daya beli masyarakat urban di rentang usia produktif, tetapi juga untuk memastikan kelancaran roda bisnis di sektor riil.

Menghadapi tantangan perekonomian yang kian kompleks, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memaparkan kerangka kerja strategis yang saat ini tengah dijalankan oleh otoritas.

Ia menggarisbawahi bahwa menjaga stabilitas nilai tukar bukanlah sekadar reaksi atas kepanikan pasar, melainkan sebuah mandat undang-undang yang dipegang teguh oleh bank sentral. Fundamental mata uang yang stabil adalah fondasi utama untuk mencetak iklim perekonomian nasional yang sehat dan kondusif.

"BI itu punya mandat utama memang menjaga stabilitas. Dan sampai saat ini juga, apalagi kami mempunyai mandat menciptakan iklim ekonomi yang kondusif untuk bisa mendorong pertumbuhan sektoril dan penciptaan lapangan pekerjaan," katanya saat memberikan pemaparan dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Fluktuasi nilai tukar yang kelewat batas dapat memicu inflasi barang impor (imported inflation), yang pada akhirnya menggerus daya beli dan menghambat ekspansi bisnis perusahaan lokal.

Menyadari efek domino tersebut, Destry merincikan lebih jauh mengenai korelasi absolut antara kestabilan kurs dan kondusivitas iklim usaha.

"Nah jadi iklim ekonomi kondusif artinya kan harus ada stabilitas. Kalau nggak stabil, nggak akan mungkin kondusif. Sehingga kenapa stabilitas itu menjadi pegangan utama kita," bebernya.

Dalam realitas transaksi di bursa valuta asing sehari-hari, arah pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh aliran modal dan sentimen pasar yang bergerak sangat cepat. Menurut pandangan bank sentral, intervensi pasar mutlak dilakukan ketika muncul sentimen negatif spekulatif yang membuat pergerakan nilai tukar menjauh dari nilai fundamental ekonominya. Otoritas tidak akan membiarkan volatilitas sesaat merusak struktur perekonomian yang telah dibangun dengan susah payah.

"Pada saat terjadi sentimen yang tiba-tiba merusak pola ataupun nilai yang sesungguhnya dari rupiah. Nah sehingga itulah menyebabkan intervensi menjadi salah satu langkah kami di samping kebijakan lainnya apakah suku bunga, apakah sekuritas yang kita keluarkan juga, atau itu juga kebijakan insentif untuk biaya hedging yang sekarang juga sedang kita kembangkan karena ingin targeted."

Langkah BI dalam mengendalikan kurs tidak hanya mengandalkan satu instrumen tunggal. Otoritas moneter secara aktif menggunakan bauran kebijakan (policy mix) yang komprehensif, mulai dari penyesuaian tingkat suku bunga acuan (BI-Rate), penerbitan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga perumusan insentif biaya lindung nilai (hedging) yang lebih terarah bagi korporasi.

Destry mengibaratkan orkestrasi perpaduan berbagai instrumen moneter yang kompleks ini sebagai sebuah seni dalam pengambilan kebijakan tingkat tinggi.

"Itu kita blended jadi satu, jadi saya selalu menyampaikan bahwa kebijakan bangun Asia dalam rangka menjaga stabilitas rupiah itu semacam art," bebernya.

Melalui strategi bauran kebijakan tersebut, bank sentral akan terus bersiaga memantau setiap sentimeter perkembangan pasar finansial global dan menyesuaikan dosis penggunaan instrumennya secara presisi.

Intervensi likuiditas ganda akan tetap dipertahankan sebagai benteng pertahanan utama BI untuk menyuntikkan pasokan dolar AS maupun menyerap kelebihan likuiditas rupiah. Langkah intervensi ini dieksekusi secara terukur melalui berbagai mekanisme transaksi berlapis di pasar valuta asing.

"Jadi kalau ditanya apakah BI akan terus menggunakan intervensi, ya kita pasti juga akan tetap ada untuk menjaga stabilitas di pasar, baik itu untuk melalui spot di NDF atau NDF. Dan sejauh ini kami masih melihat hasilnya cukup efektif," tegasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com